17.5 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
PENDIDIKAN

Sejarah Kabupaten Purbalingga

A. Adipati Onje Keturunan Sultan Demak Bintara Mendirikan Kabupaten Purbalingga

Pendiri Kabupaten Purbalingga adalah Adipati Onje pada tanggal 18 Desember 1563. Adipati Onje juga bergelar Kanjeng Adipati Hanyokro Kusumo, Adipati Hanyokrokapti, atau Pangeran Jimbun Lingga. Ayahnya adalah Raja Demak Bintara, yakni Sunan Prawoto atau Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Amirul Mukminin Sirullah IV. Dengan demikian Adipati Onje merupakan bangsawan tinggi, trahing kusuma rembese madu, wijining atapa, tedhake andana warih.

Dinamakan Onje karena sejak kecil Ono Jepara. Onje singkatan kata dari O = Ono, Je = Jepara. Pangeran Onje dididik oleh Kanjeng Ratu Kalinyamat yang berkuasa di Kabupaten Jepara tahun 1536 – 1569. Sultan Trenggana memiliki lima putra, yaitu Sunan Prawoto, Ratu Emas, Ratu Cepaka, Ratu Kalinyamat dan Pangeran Timur. Sunan Prawoto menjadi Sultan Demak. Ratu Emas menjadi istri Sunan Gunung Jati. Ratu Cepaka menjadi istri Sultan Pajang. Pangeran Timur menjadi Bupati Madiun.

Pangeran Hanyokro Kusumo tinggal bersama tante Ratu Kalinyamat. beliau tinggal bersama kakaknya, Aryo Pangiri yang nantinya menjadi Bupati Glagah Wangi. Selama ikut Ratu Kalinyamat, beliau dididik dalam bidang mebel, ukir-ukiran, manajemen pelabuhan, ketrampilan mengebor minyak di Cepu, kerajinan membuat trasi di Rembang Lasem. Juga diajari mengolah gamping semen di kawasan gunung Kendheng Pati.

Pengetahuan kebatinan dan ngelmu guna kasantikan jaya kawijayan, juga dilatih oleh Ratu Kalinyamat. Maklum Kanjeng Ratu Kalinyamat adalah Bupati Jepara pertama yang sakti mandraguna. Beliau pernah bertapa di Gunung Danaraja. Pangeran Hanyokro Kusumo mendapat warisan harta benda dari Kadipaten Jepara. Lebih dari itu Pangeran Hanyokro Kusumo menjadi direktur perusahaan milik Pangeran Hadirin, seorang konglomerat yang menguasai perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Pangeran Hadirin itu suami Kanjeng Ratu Kalinyamat yang berasal dari Samudra Pasai Aceh.

Nama Jimbun Lingga merupakan pethilan dari nama Sang Eyang, yaitu Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Patah Jimbun Sirullah I. Raden Patah ini kakeknya Pangeran Hanyokro Kusumo yang menjadi raja Demak Bintara pertama. Keluarga bangsawan Demak Bintoro umumnya mendapat pendidikan dari Wali Sanga. Pangeran Hanyokro Kusumo berguru kepada Kanjeng Sunan Kalijaga di Pondok Pesantren Kadilangu. Gelar Lingga berhubungan dengan trah Kerajaan Kalingga. Rajanya bernama Ratu Sima. Beliau raja wanita yang terkenal memiliki watak adik paramarta.

Cucu raja Kalingga bernama Demang Tepus Rumput. Hidupnya digunakan untuk mengabdi kepada raja Pajang. Beliau adalah Joko Tingkir atau Mas Karebet yang bergelar Kanjeng Sultan Hadiwijaya. Kamidil Ngalam Panetep Panatagama. Memerintah Kerajaan Pajang tahun 1546 – 1582. Hubungan Jepara dengan Pajang amat dekat. Bahkan Joko Tingkir menjadi raja Pajang atau restu dan dukungan dari Kanjeng Ratu Kalinyamat. Sebelum mengabdi ke Pajang Demang Tepus Rumput lebih dulu mengabdi di Kabupaten Jepara. Tugasnya menata kawasan Bangsri dan Keling.

Pada tahun 1560 Sultan Hadiwijaya memimpin sidang. Hadir pula Ratu Kalinyamat, Ratu Mas, Ratu Cepaka, Pangeran Timur, Arya Pangiri dan Pangeran Hanyokro Kusumo. Topik yang dibicarakan tentang rencana Pangeran Hanyokro Kusumo yang hendak diberi tugas untuk memimpin kawasan Giri Raharja. Untuk itu perlu persiapan yang matang, rinci dan terpercaya. Sebelum acara pelantikan, semua hal harus beres. Ditunjukkan Demang Tepus Rumput sebagai panitia pemekaran Kabupaten. Demang Tepus Rumput dianggap berpengalaman dalam bidang tata pemerintahan.

Amanat yang berat ini dijalankan Demang Tepus Rumput dengan penuh tanggung jawab. Terlebih dulu beliau mohon doa restu kepada leluhurnya di Keling Bangsri. Tata cara ritual meditasi di hadapan makam Kanjeng Ratu Sima. Dilanjutkan lara lapa tapa brata di puncak Gunung Danaraja. Pagi harinya berangkat dari pelabuhan Juwana menuju daerah Tegal. Rombongan Demang Tepus Rumput naik perahu Kyai Janggleng. Tiba di Tegal mampir di kediaman kerabat Ki Ageng Tarub.

Kawasan Giri Raharja masih berwujud wana gung liwang liwung, gawat kaliwat-liwat. Bebasan jalma mara jalma mati. Demang Tepus Rumput harus berhati-hati. Tidak boleh ceroboh. Terlebih dulu beliau minta doa restu kepada Syekh Subakir yang mbahu reksa wilayah Giri Raharja. Ilmu laku yang dijalankan Demang Tepus Rumput terkabul. Oleh karena itu Giri Raharja disebut juga dengan Gunung Slamet.

Selama babad Alas Giri Raharja sampai aliran sungai Serayu Demang Tepus Rumput dapat berjalan lancar. Kanjeng Sultan Pajang memberi dua pusaka sipat kandel. Yaitu Ali-ali Soca Ludira dan Keris Kyai Kutharaga. Daya linuwih Ali-ali Soca Ludira dapat mengusir makhluk halus yang berbuat jahat. Jim peri perayangan, ilu-ilu banaspati, engklek-engklek waru dhoyong, thong thong sot glundhung pringis. Semua tidak berani mendekat pada orang yang mengenakan ali-ali Soca Ludira.

Adapun keris Kyai Kutharaga mempunyai keampuhan yang mengagumkan. Saat membuka alas itu Demang Tepus Rumput dari bawahannya tampak berseri-seri. Bahkan kawibawan, kawidadan, kamulyan lan karaharjan selalu bersama dengan utusan Pajang ini. Begitu tinggi daya tariknya, maka orang sekitar kalah prebawa. Tiap orang mau mengakui prestasi dan gengsi. Maka Demang Tepus Rumput disebut pula Ki Ageng Ore-ore atau Demang Ore-ore.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA