21.4 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
PENDIDIKAN

Sejarah Kabupaten Temanggung

A. Parakan Temangung menjadi Ibukota Mataram Kedu Darma

Parakan Temanggung pernah menjadi ibukota Kerajaan Mataram Kedu Darma. Raja pertama yaitu Prabu Sanjaya Kedu Darma. Transformasi kebudayaan orang Temanggung telah berlangsung secara mendasar setelah mengalami kontak dengan budaya luar. Sejak terjalin komunikasi dengan India, maka unsur Hindu turut mewarnai citra budaya Jawa. Kemudian disusul pula dengan hadirnya pengaruh Buda. Mereka sudah terbiasa hidup dengan ragam budaya.

Kanjeng Sinuwun Ratu Sanjaya merupakan Proklamator dan Bapak Kraton Mataram Kuno yang legendaris dan terhormat. Kesadaran literasi sudah menjadi tradisi di kalangan pengembating praja. Raja Mataram parakan kerap melakukan refleksi sipirituan di Gunung Sumbing.

Para raja Mataram Kuno yaitu: Sri Maharaja Rakai Ratu Sanjaya (732 –760), Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760 – 780), Sri Maharaja Rakai Pananggalan (780 – 800), Sri Maharaja Rakai Warak (800 – 820), Sri Maharaja Rakai Garung (820 – 840), Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856), Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882), Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899), Sri Maharaja Rakai Watukumara Dyah Balitung (898 – 915), Sri Maharaja Rakai Daksa (915 – 919), Sri Maharaja Rakai Tulodhong (919 – 921), Sri Maharaja Rakai Wawa (921 – 928), Sri Maharaja Rakai Empu Sindok (929 – 930). Beliau adalah narendra gung binathara mbahu dhendha nyakrawati.

Pada tahun 732 M wangsa Sanjaya merubah nama Kalingga dengan Mataram. Ia menjadi raja pertama Mataram Hindu. Masa ini juga merupakan masa pendirian candi Siwa di Gunung Dieng. Arti Dieng, Hadi Hyang artinya tempat tinggi untuk membuat jagad raya lebih mempesona. Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi.

Jaman Mataram Parakan dahulu pendidikan humaniora mendapat tempat utama. Soal-soal kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional terbatas saja. Pendidikan puisi merupakan pendidikan yang harus diikuti oleh umum, lebih-lebih kalangan pegawai istana dan pemuka masyarakat. Kesadaran mengenai makna penting kedudukan ilmu bahasa, sastra, sejarah, antropologi, kemanusiaan, kemasyarakatan, keagamaan, dan tata negara telah memberi inspirasi para pejabat kerajaan untuk mendirikan, mengembangkan, dan membantu proses pendidikan yang berwujud padepokan Ngadiharja. Ilmu iku kelakone kanthi laku.

Pertumbuhan kesusasteraan Jawa sudah dikenal secara luas dan selang waktu yang cukup lama. Kitab Candhakarana menjadi sumber etika masyarakat Temanggung. Karya sastra yang mengandung nilai filosofis tinggi ini dikaji oleh pembesar istana di Sanggar Kledhung.

Kanjeng Sinuwun Sanjaya senantiasa memberikan warisan yang berupa wejangan luhur yang diperuntukkan bagi anak cucunya. Sang raja itu yang berkuasa memberikan perintah. Maka dirimu harus waspada berhati-hati dalam tingkah laku, hati selalu setia dan taat untuk mengabdi sang raja. Ngawula marang ratu. Agar mendapat sayang, cinta dari raja yang berbelas kasih. Kepada abdi yang memperhatikan maka dari itu bila ada dapat melegakan hati raja. Ada ungkapan pejah gesang ndherek sang narpati.

Manusia wajib saling mengasihi, tolong-menolong, dan saling menghormati.

Kerajaan Mataram Parakan mengutamakan konsep mitra dalam sambang sambung srawung. Mitra artinya kawan, sahabat, saudara, atau teman. Jadi mitra berarti sifat-sifat yang menghendaki persahabatan terhadap semua makhluk. Mitra mengajarkan agar manusia memandang semua manusia seperti keluarga besar. Manusia wajib saling mengasihi, tolong-menolong, dan saling menghormati. Doktrin kerukunan ini diajarkan di lereng Gunung Sumbing. Murih supeketing memitran, raketing kekadangan.

Kadang kadang segenap pegawai istana Mataram Parakan diajak diskusi di Pesanggrahan Gunung Ungaran. Visi misi yang telah diwariskan oleh Ratu Sanjaya itu menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya. Tak mengherankan apabila keturunan Ratu Sanjaya mampu menjadi trahing kusuma rembesing madu yang unggul dan mumpuni. Dari hasil musyawarah kerja itu lantas muncul gagasan membangun petilasan monumental. Yakni Candi Prambanan, Candi Sewu dan Candi Rara Jonggrang.

Pemerintahan Rakai Panangkaran meneruskan perjuangan leluhur Mataram Parakan. Beliau kerap bertapa di Alas Roban. Meditasi spiritual guna mendapat pencerahan batin. Rakai Panangkaran berarti raja mulia yang selalu berhasil dalam mengembangkan potensi wilayah kerajaan. Panangkaran berasal dari kata Tangkar, yang berarti berkembang. Dia memang berhasil mewujudkan cita-cita Ayahandanya, Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Mataram, mata yang rampung, artinya merampungkan segala bentuk pakaryan.

 Sebagai kepala pemerintahan kerajaan Mataram Parakan, Rakai Panangkaran cukup berhasil meningkatkan harkat martabat negeri. Rum kuncaraning bangsa dumunung ing luhure budaya. Tentang rahasia ajaran jaman dahulu hanya mengambil ajaran yang terlupakan. Lalu diolah sekedarnya yang diajarkan oleh para ahli, beserta para sarjana winasis terdahulu yang sudah termashur. Mahir dalam ilmu pengetahuan, pandai dalam mempelajari segala keilmuannya, dan siap memberikan ajaran sebagai perwujudan pengabdiannya. Lila lan legawa kanggo mulyane negara.

Ajaran raja Rakai Pananggalan, isinya juga mengenai hidup. Pemerintahan Rakai Pananggalan tercermin dari sikapnya yang selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan. Perwujudannya dengan menghormati guru. Catur Guru terdiri dari kata Catur yang berarti empat, dan Guru berarti berat. Jadi Catur Guru berarti empat guru yang mempunyai tugas yang cukup berat. Dikatakan berat karena guru dalam membimbing dan mengajar menghadapi berbagai masalah. Tugas guru adalah mengubah yang tidak tahu menjadi tahu, mengubah yang tidak bisa menjadi bisa, membimbing yang tidak baik menjadi baik. Lamun sira anggeguru kaki, amiliha manungsa kang nyata. Ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing hukum.

Pemerintahan kerajaan Mataram Parakan masa Rakai Warak meneruskan perjuangan pendahulu. Pemerintahan Rakai garing juga maju. Segala sesuatu yang diceritakan, semua berguna sebagai pengabdiannya bagi kesejahteraan negara, karena selalu mendapat lindungan Tuhan. Selamat segala yang dilakukannya, segala tindakan yang tidak baik dijauhkan oleh Tuhan Yang Mahakuasa, ibarat orang yang sudah tahu bahaya dijauhkan dari tindakan jahat. Dan hatinya sudah sungguh suci, kedudukannya sudah lebih kuat. Sudah menjadi perabotnya, mengetahui satu kebenaran. Itulah teologi Manunggaling Kawula Gusti.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA