Ditulis oleh 2:41 pm PENDIDIKAN

Sejarah Kabupaten Wonosobo

Status Kabupaten Wonosobo waktu itu masih dalam pembinaan kerajaan Demak Bintara. Wajar sekali pendirian daerah pemekaran harus diampu oleh kekuasaan induk.

A. Ki Ageng Wonosobo Keturunan Prabu Brawijaya Raja Majapahit

Kabupaten Wonosobo sesungguhnya merupakan penerus kejayaan kraton Majapahit. Dalam lintasan sejarah kerajaan Majapahit adalah negeri yang besar, makmur, aman, damai, sejahtera lahir batin. Rajanya bernama Prabu Brawijaya V 1448 – 1478. Beliau adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta.

Prabu Brawijaya V menikah dengan Ratu Wandan Kuning. Beliau putri Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Ketua panitia pernikahan dijabat oleh Raden Depok. Beliau pejabat kraton Pajajaran yang punya koneksi luas.

Sedangkan walimatul ursy atau nasihat perkawinan dilakukan oleh Syekh Aling Achmad Magribi. Beliau ulama kerajaan Pajajaran yang masih punya hubungan geneologi dengan Husain bin Ali bin Abu Thalib. Dari pernikahan ini lahir Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng. Sejak kecil Raden Bondan Kejawan diasuh oleh Syekh Mutahar Al Mukmin. Setelah dewasa Raden Bondan Kejawan dijodohkan dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub.

Pernikahan Raden Bondan Kejawan dengan Dewi Nawangsih disertai dengan upacara midodareni. Ki Ageng Tarub memasang bleketepe, tuwuhan, cengkir gadhing, pari saagem dan tebu wulung. Ini asal mula adat pernikahan Jawa. Mas kawin atau mahar diberikan dalam bentuk pusaka gong Kyai Sekar Delima dan Tombak Kyai Plered.

Dari pernikahan Raden Bondan Kejawan dengan Dewi Nawangsih ini lahir tiga putra, yaitu Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pendawa dan Nyi Ageng Ngerang.

Sebetulnya Ki Ageng Tarub merupakan anak dari Syekh Magribi. Ibunya adalah Dewi Rasawulan, putri Bupati Wilwatikta Tuban. Dengan demikian Ki Ageng Wonosobo itu cucu langsung Ki Ageng Tarub. Leluhur Ki Ageng Wonosobo termasuk pembesar kadipaten Tuban. Ki Ageng Tarub, dari jalur bapak, Ki Ageng Wonosobo cucu langsung raja Majapahit, Sinuwun Prabu Brawijaya V. Jadi Ki Ageng Wonosobo masih trahing kusuma rembese madu.

Keturunan Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng menjadi orang penting dalam sejarah Jawa.

Tiga bersaudara selalu berperan dalam perjuangan kraton Demak Bintara, Pajang, dan Mataram. Keturunan Ki Ageng Wonosobo yang menonjol ditunjukkan oleh Ki Ageng Juru Martani. Keturunan Ki Ageng Getas Pendawa diperankan oleh Ki Ageng Sela, Ki Ageng Ngenis dan Ki Ageng Pemanahan. Sedangkan Ki Ageng Ngerang diwakili oleh Ki Ageng Penjawi. Tokoh-tokoh itu namanya harum dalam silsilah Kerajaan Jawa.

Nama kecil Ki Ageng Wonosobo adalah Syekh Ngabdullah Al Akbar. Beliau tekun belajar, rajin tirakat. Suka menjalankan laku prihatin, lara lapa tapa brata.

Pada malam Senin Wage selalu tapa kungkum dan tapa ngeli di Sungai Lusi Purwodadi. Kadang-kadang anelasak wanawasa, tumurun ing jurang terbis di gunung Kendheng Pati. Sekali tempo bertapa di Gunung Danaraja pada tahun 1485. Berkat lelakunya itu Ki Ageng Wonosobo atau Syekh Ngabdullah Al Akbar menjadi priyagung yang sakti mandraguna. Ditombak mendat, jinara menter.

Tibalah saatnya Ki Ageng Wonosobo menikah dengan Dyah Plobowangi, putri Demang Selomerto. Kediaman Dyah Plobowangi ini terkenal dengan sebutan Plobangan Selomerto. Alangkah bahagianya Ki Demang Selomerto. Putri tunggalnya disunting oleh priyagung yang punya derajat keturunan tinggi. Bobot bibit bebet sungguh mengagumkan. Nama Tarub, Tuban dan Majapahit tersohor di tingkat internasional. Ki Demang Selomerto merasa mendapat durian runtuh, kebanjiran segara madu, kejugrugan gunun sari.

Demang Selomerto merasa sudah lanjut usia. Pada tahun 1487 menyerahkan harta benda kepada Dyah Plobowangi. Perkebunan teh disepanjang lereng gunung Dieng berhasil memuaskan. Perkebunan tembakau di kaki gunung Sundara Sumbing menghasilkan untung yang besar. Peternakan sapi di sekitar aliran kali Serayu berkembang baik.

Warisan Demang Selomerto ini otomatis diberikan oleh Dyah Plobowangi. Aneka ragam perusahaan ini menyerap tenaga kerja. Masyarakat turut menikmati. Ditambah lagi sifat ramah Ki Ageng Wonosobo. Beliau terkenal sebagai pendidik. Padepokan yang berdiri di daerah Plobangan Selomerto didatangi siswa dari segala pelosok Nusantara. Genap tiga tahun lamanya peguron Plobangan Selomerto telah berhasil mendirikan gedung dan fasilitas belajar mengajar yang memadai.

Atas usul Ki Demang Selomerto, daerah yang selama ini dipimpin dinamakan Wonosobo. Berarti darma bakti dan perjuangan Ki Ageng Wonosobo sangat didukung oleh mertua dan istrinya. Kademangan Wonosobo makin maju. Suatu saat Kanjeng Sultan Syah Alam Patah Jimbun Sirullah I atau Raden Patah, raja Demak Bintara hadir di Kademangan Wonosobo. Melihat kemajuan dan kemakmuran, raja Demak Bintara ini amat senang.

Dengan resmi Kademangan Wonosobo pada tanggal 25 Mei 1489 ditetapkan menjadi Kabupaten Wonosobo.

Begitulah berdirinya kabupaten Wonosobo yang mendapat dukungan luas. Seluruh rakyat bergembira ria. Keluarga besar Demang Selomerto siap sedia untuk memberi bantuan harta benda. Dyah Plobowangi menjadi istri yang setia.

Status Kabupaten Wonosobo waktu itu masih dalam pembinaan kerajaan Demak Bintara. Wajar sekali pendirian daerah pemekaran harus diampu oleh kekuasaan induk. Posisi itu tetap berlangsung setelah bergesernya kekuasaan dari Demak, Pajang, Mataram dan Kraton Surakarta Hadiningrat.

(Visited 790 times, 5 visits today)
Tag: , , Last modified: 4 Juni 2020

Selanjutnya »

Close