Ditulis oleh 1:29 pm PENDIDIKAN

Sekolah sebagai Klaster Sadar Masker

Barangkali di sini masalah pokok yang harus diatasi, yakni perlunya suatu pembelajaran bersama sedemikian rupa sehingga setiap orang menyadari bahwa Covid-19 bukan masalah satu pihak, melainkan masalah kita bersama.

Ketika pertama kali pemerintah mengumumkan adanya orang dengan Covid-19, pada awal Maret lalu, Indonesia terguncang. Semula Covid-19 dinyatakan tidak akan sampai ke Indonesia, malah ada pihak yang mengatakan bahwa orang Indonesia memiliki jenis kekebalan tersendiri, sehingga tidak mungkin tertular. Sempat ada peneliti dari luar yang mengatakan bahwa Indonesia akan menjadi klaster besar penyebaran Covid-19, namun pandangan tersebut langsung dibantah. Dan ketika akhirnya diumumkan adanya Covid-19 yang telah menyebar, keadaan berubah total.

Kita semua merasakan bahwa pada Minggu-minggu pertama, suasana mencekam. Entah karena rasa khawatir, entah karena faktor pengetahuan, atau karena faktor himbauan dari pemerintah, berlangsung suatu pembatasan sosial. Sebagian masyarakat memilih tinggal di rumah dan sebagian yang lain, berusaha tetap pergi ke luar rumah, karena ada kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Namun secara umum, dirasakan suasana yang mencekam, terlebih setiap hari ada laporan rutin tentang penambahan jumlah korban. Apakah kesemuanya itu telah benar-benar membangkitkan kesadaran masyarakat?

Jika kita perhatikan kehidupan sosial, baik di lingkungan dekat maupun yang jauh, seperti yang dapat dilihat dari laporan media massa, nampak bahwa situasi yang kini berjalan telah dapat dikatakan “normal”. Walaupun mungkin tidak sepenuhnya sama dengan keadaan sebelum Pandemi Global Covid-19 datang. Berbarengan dengan normalisasi tersebut, angka kasus terus bergerak naik. Kini, angka orang dengan Covid-19 telah mencapai lebih dari 150 ribu orang. Jika tidak ada intervensi yang bersifat drastis, tidak menutup kemungkinan dalam tempo tidak lama, angka akan mencapai 200 ribu.

Tentu pertanyaan kita bersama adalah kapan kasus ini selesai? Apakah ada cara mengatasi Pandemi Global Covid-19 ini? Para ahli mengatakan bahwa Pandemi hanya bisa diatasi dengan sains. Yang dimaksudkan disini adalah vaksin dan obat yang tepat. Soalnya, untuk sampai pada penemuan vaksin dan obat dibutuhkan waktu. Sementara, waktu dalam situasi pandemi akan berarti penambahan korban. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu cara agar selama riset untuk menemukan vaksin dan obat, penyebaran Covid-19 dapat relatif terkendali. Artinya, yang dapat dilakukan adalah mengembalikan penyebaran. Dalam kaitan ini dunia pendidikan, atau sekolah, dapat mengambil peran yang sangat penting dan bermakna.

Pengendalian Penyebaran Covid-19.

Pengendalian dalam hal penyebaran wabah, sebenarnya adalah upaya melakukan kontrol terhadap potensi penyebaran. Sebagaimana telah diketahui bahwa penyebaran berlangsung melalui orang ke orang. Yakni dari seseorang yang membawa virus kepada orang lain. Yang menjadi masalah adalah keadaan dimana tidak diketahui secara persis siapa yang membawa virus dan siapa yang bukan. Oleh sebab itulah, pada awal-awal respon terhadap Covid-19, kita ketahui masyarakat berusaha membatasi interaksi. Ada yang langsung melakukan lockdown, menutup kampung atau wilayahnya, dan atau dengan tindakan sejenis. Pemerintah dalam hal ini mengembangkan kebijakan pembatasan sosial berskala besar.

Apa inti dari program pengendalian tersebut? Yakni: (1) menjaga jarak fisik, yang dimaksudkan untuk sejauh mungkin menghindari kontak langsung. Hal yang terbaik adalah tidak keluar rumah atau beraktifitas di rumah saja; (2) memakai masker, khusus ketika berinteraksi dengan orang lain atau berada di tempat umum; dan (3) mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir. Ketiganya pada dasarnya adalah suatu usaha yang dapat dikatakan sebagai upaya menghindar. Atau berupaya agar tidak tertular. Semua pintu yang berpotensi menjadi sumber penularan diproteksi secara khusus.

Bagaimana jika upaya menghindar tetap dapat tertembus? Pada titik inilah kita mengharapkan ada upaya sistematis dari pemerintah, yakni melakukan penanganan: (1) melakukan pengetesan secara massal. Hal ini dimaksudkan untuk menemukan siapa yang tertular Covid-19; (2) melakukan pelacakan. Berdasarkan data yang tertular dilakukan pelacakan, untuk mencari tahu, korban telah berinteraksi dengan siapa saja. Hal ini penting agar segera bisa diketahui penyebaran Covid-19; dan (3) penanganan, yakni yang terkena diobati, dan juga padanya dilakukan isolasi, agar tidak menularkan pada yang lain.

Jika upaya menghindar dapat bersinergi dengan upaya penanganan tentu akan sangat cepat pengendalian penyebaran. Pertanyaannya, bagaimana mengupayakan agar sinergi tersebut berlangsung? Atau apa yang sebaiknya diupayakan agar terbangun suatu ekosistem yang mendorong sinergi tersebut? Dalam kaitan ini, dunia pendidikan dapat memainkan peran strategis, yakni dengan menempatkan masalah pengendalian sebagai problem pendidikan. Mengapa disebut sebagai problem pendidikan? Karena ujung yang diharapkan adalah perubahan perilaku. Karena itu sangat tepat jika salah satu titik yang dipilih kesadaran bermasker.

Kesadaran Bermasker.

Pertanyaan berikut mungkin dapat membantu memperjelas masalah ketika hendak mendorong kesadaran bermasker. Pertama, ketika seseorang berada di lingkungan sendiri, yakni berada bersama orang-orang yang sudah sangat dikenal atau bahkan setiap hari berinteraksi, seperti kantor atau sekolah, apakah anda akan bermasker? Atau apa reaksi orang sekitar anda? Apakah anda didukung atau sebaliknya, anda di-bully karena menggunakan masker?

Kedua, ketika anda berada di tempat umum, dan menyaksikan sebagian besar yang ada di sana tidak menggunakan masker, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda diam saja? Ataukah anda akan membuat teguran? Atau anda yang ditegur karena tidak bermasker? Keadaan apa yang berlangsung?

Dua kasus ini mungkin dapat membantu kita dalam mengungkapkan apa yang tengah berlangsung di masyarakat? Mengapa protokol kesehatan harus dijalankan dengan mengandalkan penegakkan hukum. Bukankah penyebaran Covid-19 akan punya dampak pada masing-masing orang tanpa terkecuali? Bukankah setiap orang ingin agar tidak tertular? Barangkali di sini masalah pokok yang harus diatasi, yakni perlunya suatu pembelajaran bersama sedemikian rupa sehingga setiap orang menyadari bahwa Covid-19 bukan masalah satu pihak, melainkan masalah kita bersama.

Sekolah akan menjadi klaster penting dalam proses pembelajaran tersebut. Bagaimana memungkinkan hal tersebut? Pertama, guru sebagai kekuatan utama. Dalam hal ini akan sangat baik jika setiap guru telah memiliki cukup pengetahuan dan metode untuk melakukan pembelajaran publik, kepada diri, keluarga dan dilingkungannya. Kedua, murid atau peserta didik. Lewat pendidikan khusus, yang tidak hanya kognisi tetapi sampai pada psikomotorik, maka murid diharapkan menjadi lokomotif yang dapat menggerakkan diri, keluarga dan lingkungan. Edukasi bukan saja kepada murid, namun melalui murid, guru atau sekolah mengedukasi keluarga dan mengharapkan keluarga menjadi motor dilingkungan mereka masing-masing. Ketiga, lingkungan sekitar sekolah. Hendaknya sekolah dapat menjadi kekuatan yang dapat mengedukasi lingkungannya.

Ketiga langkah yang diusulkan di atas tentu hanya potongan aksi nyata yang dapat dilakukan oleh sekolah. Dengan kerjasama seluruh sekolah, maka diharapkan sekolah akan dapat menjadi klaster penting dalam pengendalian penyebaran Covid-19. Semoga dengan itu, Pandemi Global Covid-19 dapat lebih terkendali dan pada akhirnya lenyap sehingga kehidupan dapat normal seperti sediakala.

(Disampaikan dalam Lustrum ke-13 SMP Negeri 1 Bantul, 1955-2020. “Konstribusi Sekolah dalam Penanggulangan Covid-19: Gerakan Sadar Masker”. Sabtu, 29 Agustus 2020)

(Visited 125 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 29 Agustus 2020
Close