Selinap Kata di Tengah Pandemi Corona

Nur Fatimah UAD
Penting untuk membanjiri dunia dengan kata-kata benar, positif, menentramkan secara lisan dan tulisan, ini akan menjadi kontribusi penting dari warga dan negara dalam menghadapi Covid-19.

Merebaknya COVID-19 membawa perubahan yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan: kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial dll. Dalam bidang pendidikan tampak dengan meluasnya jumlah kelas online hampir di semua level pendidikan, sekolah dasar sampai perguruan tinggi, formal informal, non formal. Berbagai platform/aplikasi dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan pembelajaran.

Akibatnya, penggunaan media sosial juga termasuk yang terkena imbasnya. Terdapat 3,81 milyar pengguna aktif media sosial. Angka ini sekitar 49 % penduduk dunia. Setiap detiknya terjadi peningkatan dalam jumlah penggunanya. Jika menilik real time di social media counter, akan tersaji data terkini betapa jumlah pengguna baru media sosial yang terus meningkat. Pengguna WhatsApp misalnya mengalami kenaikan hingga 51%.

Salah satu fitur yang digunakan dalam media sosial adalah teks. Huruf-huruf dirangkai sedemikian rupa sebagiannya dimunculkan dalam bentuk-bentuk kata, frasa, dan klausa tertentu  sehingga menjadi beraneka ekspresi gagasan untuk mengungkapkan makna, mengabarkan perasaan, pengalaman, dan gagasan. Sekilas, biasa saja, tapi ketika diperhatikan lebih, maka ekspresi tulis, misalnya, dapat membuat perubahan yang besar.

Ketika seorang pengguna membaca pesan maka dalam dirinya terjadi proses pengolahan pesan. Dengan pikiran sadarnya, yang bersangkutan dapat mengkritisi, menerima atau menolak informasi. Hal utama yang perlu diingat adalah bahwa ketika pikiran bawah sadar yang bekerja, yang terjadi adalah menerima suatu ide, dan mulai menjalankannya. Dalam pikiran bawah sadar ini tersimpan memori jangka panjang, emosi, kebiasaan, intuisi, kreativitas, dan kepribadian.

Informasi yang beredar di media massa termasuk media sosial, cetak dan digital bercampur antara yang memberi pesan positif dan yang sebaliknya. Informasi mana yang dominan sangat mungkin akan tersimpan dalam memori bawah sadar pembaca. Bisa dibayangkan bagaimana pengaruh ketika di tengah pandemi COVID-19 ini semua pejabat publik dari level RT (Rukun Tetangga), RW (Rukun Warga), kelurahan, kecamatan, kabupaten/kotamadya menyebarkan berita positif yang benar, menyemangati, memotivasi. Seandainya dari Pak RT sampai kepala negara selalu mengedepankan permohonan bantuan kepada Tuhan dulu sebelum menyeru warga melakukan tindakan logis yang penting seperti swakarantina, mengikuti rapid test, memakai masker, hand-sanitizer dst maka suasana spriritual dalam pikiran bawah sadar akan terbangun lebih awal untuk mengantisipasi dan melakukan aksi dengan keyakinan dan rasionalisasi yang menuntun tindakan riil di masyarakat. Seorang pembaca apalagi yang pemeluk teguh akan menjadi lebih siap menghadapi situasi apa pun termasuk pandemi. Secara umum, suasana sejuk, tenang yang muncul akibat ekspresi melalui kata-kata yang dilantunkan akan melingkupi warga. Populasi yang dalam suasana yang positif akan lebih bisa berpikir, merasa dan bertindak dengan lebih jernih, lebih baik, tidak gampang panik atau mencari kambing hitam untuk dipersalahkan.

Oleh karena itu, karena tidak sepenuhnya mampu mengendalikan media yang ada atau mengatur orang atau pihak lain, maka membanjiri dunia dengan kata-kata benar, positif, menentramkan secara lisan dan tulisan menjadi kontribusi penting dari setiap warga dan pemimpin masyarakat dan negara.

Setidaknya ada beberapa yang perlu dipertimbangkan dalam berkata-kata. Yang disampaikan hendaknya adalah perkataan yang lemah lembut (qoulan layyinan) meskipun kepada pihak yang berseberangan. Kisah Musa dan Harun A.S. ketika berhadapan dengan Fir’aun dapat menjadi contoh penerapannya. Selain itu adalah perkataan yang baik (qoulan ma’rufan) seperti yang ditujukan kepada pihak yang membutuhkan bantuan; perkataan yang benar, tegas, tidak menyebabkan ambigu (qoulan sadidan), perkataan yang pantas (qoulan maisuran) yang dapat dipahami dan berempati kepada yang diajak berkomunikasi, perkataan yang membekas di jiwa karena disampaikan dari hati (qoulan balighan) dan perkataan yang memuliakan (qoulan kariman).

Hampir semua dapat melakukannya, melalui kata-kata yang diucapkan, pesan yang diposting, poster yang dipasang, surat yang dikirimkan, keberpihakan dalam memberi dukungan, pernyataan yang disampaikan ke peserta didik, tetangga, konstituen, ‘lawan’ poitik atau segmen publik lainnya.

Arus deras dari kata dan perkataan yang positif dari para penulis dan penuturnya semoga dapat merasuk, menembus gelombang alpha sehingga menjadi bagian dari pikiran bawah sadar warga. Selanjutnya yang demikian ini akan menggerakkan warga dalam bentuk rasa, pikir dan tindakan positif, konstruktif lainnya meskipun pandemi menerpa. Bersama kita bisa, in sya Allah.

Raise your word, not your voice. It is rain that grows flowers, not thunder. (Jalaluddin Rumi)

(Visited 258 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020