23.7 C
Yogyakarta
10 September 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Semakin Berilmu Semakin Bermutu

“Bacalah, dan Tuhanmulah Sang Maha pemurah yang telah mengajarkan dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak ia ketahui” (Q.S. Al ‘Alaq: 3 – 5)

Sumber Ketidakmajuan Umat

Problem terbesar yang dihadapi oleh umat Islam adalah terkait dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan ilmu yang mampu mengangkat martabat umat dan negara. Bahkan dikatakan, untuk jaman sekarang, jaman millenial, zaman digital, zaman revolusi industri 4.0 bahkan mulai menapaki  revolusi industri 5.0, dikuasai oleh teknologi digital. Barang siapa yang menguasai teknologi digital, merekalah yang akan menguasai dunia.

Namun, sejak dahulu hingga sekarang, umat Islam selalu di sudutkan dengan adanya label ‘tidak berilmu pengetahuan tinggi, hanya mampu mengurus agama, faktanya penguasa ilmu pengetahuan dan keunggulan teknologi dimiliki oleh umat ‘non-Islam’. Label tersebut bukan hanya dilontarkan oleh kelompok ‘non-Islam’, bahkan ada juga dari kalangan umat Islam sendiri. Walaupun tidak sepenuhnya benar, karena banyak ilmuwan fenomenal dari kalangan umat Islam, misalnya: Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, Ibnu Khaldun, dsb.

Apa sebab umat Islam tidak maju dalam ilmu pengetahuan? Padahal ayat pertama yang turun sebagai wahyu berbunyi: I q r o’ (bacalah). Iqro’ bermakna tidak hanya ‘membaca’ apa yang tersurat, tetapi kita harus mampu ‘membaca’ apa yang tersirat, membaca fenomena di sekitar kita, baik fenomena alam maupun fenomena sosial. Bahkan Allah seringkali memerintahkan pada manusia melalui pertanyaan: Afala tatafakkaruun? (Apakah kalian tidak berfikir?). Afala ta’kiluun? (Apakah kalian tidak menggunakan akal?). Coba kita cermati beberapa kemungkinan penyebab tidak majunya umat Isalam.

Pertama, kita mungkin tidak lagi menghormati ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak lagi berharga dalam kehidupan kita. Padahal, para ulama dan ilmuwan memiliki kedudukan yang sangat terhormat hingga khalifah Harun al Rasyid dengan tanggannya sendiri mengucurkan air ke tangan seorang ulama untuk mencucikan tangannya sebagai bentuk kehormatan. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintakan ampunan oleh mereka yang berada di langit dan di bumi, termasuk ikan. Keutamaan ahli ilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan bulan atas bintang (H.R. Abu Dawud: 3641; Tirmidzi: 2682; Ibnu Majah: 223).

Kita mungkin tidak lagi menghormati ilmu pengetahuan.

Kedua, ilmu pengetahuan hanya berupa selembar ijasah, bukan segudang manfaat untuk umat. Banyak peserta didik (mulai anak-anak hingga dewasa), memasuki pendidikan formal sekedar untuk lulus, mendapatkan ijasah, selanjutnya naik jenjang jabatan yang lebih tinggi, tidak lebih. Yang lebih mengerikan adalah praktik-praktik bisa memperoleh ijazah tanpa belajar, yang penting bayar.

Ketiga, memilih pendidikan/sekolah/program studi favorit yang tidak didasarkan pada potensi yang dimiliki, karena mungkin mereka juga tidak mengenali maupun mempelajari apa yang disukai, potensi, dan kemahiran yang menjadi unggulan dirinya.  Akibatnya, setelah lulus, mengubah haluan dalam bekerja, sehingga tahun-tahun yang dihabiskan untuk studi terbuang. Memilih jurusan hanya karena kemudahannya atau karena mendatangkan banyak uang bukanlah akhlak Islam.

Keempat, pemahaman yang keliru dan tidak tepat khususnya oleh generasi muda tentang Islam. Sebagian besar mereka menggambarkan Islam hanya bertempat di masjid, hanya mengurus zakat/infaq/sedekah, tidak perlu mengurus masalah duniawi. Banyak generasi muda (baca: mahasiswa) aktivis keagamaan yang giat, namun prestasi akademiknya rendah. Akhirnya mereka gagal menjadi potret sosok muslim yang memiliki IMTAQ dan IPTEK.

Kelima,  kita telah menjadi umat yang tidak gemar membaca, sehingga kemampuan literasi kita dinilai rendah. Padahal berbagai macam dan jenis bacaan yang bermanfaat telah sangat mudah diakses, baik yang ada di media cetak maupun yang versi online (internet). Sebagian besar dari kita lebih menyukai ‘ngobrol omong kosong’ dan atau ‘chatting’ hal yang tidak penting. Bahkan dengan adanya kemudahan internet, sudah menjadi hal yang ‘lumrah’ membuat tulisan dengan model ‘copas’, tidak didasarkan hasil membaca atau pun mengkaji. Alhamdulillah, sudah ada undang-undang tentang plagiarism sebagai portal.

Kita telah menjadi umat yang tidak gemar membaca, sehingga kemampuan literasi kita dinilai rendah.

Kunci Kemajuan Umat

Memiliki ilmu pengetahuan wajib bagi umat Islam. Bukan hanya untuk masa kini, bahkan sejak nabi Adam, pengetahuan maupun ilmu pengetahuan harus dikuasai oleh manusia. Hal ini juga ditegaskan dalam beberapa ayat Al Qur’an maupun hadits, seperti:

  1. Dan Dia mengajarkan kepada Adam seluruh nama” (Q.S. Al Baqoroh: 31).
  2.  Nῡn, demi pena dan apa yang mereka tulis (Q.S. Al Qolam: 1)
  3. Kami berikan kepadanya (Musa, a.s) hikmah dan ilmu pengetahuan (Q.S. Al Qashash: 14)
  4. Kami anugerahkan kepada Dawud dan Sulaiman ilmu pengetahuan. Mereka berkata ‘segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami atas sebagian besar hamba Nya yang beriman (Q.S. An Naml: 15)
  5. Barang siapa meniti jalan untuk mendapatkan ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga (H.R. Muslim: 6794 dan Tirmidzi: 2646)
  6. Para malaikat membentangkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena senang dengan apa yang ia cari (H.R. Tirmidzi: 3535)
  7. Barang siapa pergi untuk menuntut ilmu, ia berada di jalan Allah sampai kembali (H.R. Tirmidzi: 2647)

Iqro’. Itulah ayat pertama surat Al ‘Alaq dan wahyu pertama untuk  Nabi Agung Muhammad SAW. Allahu Akbar, sangat tepat Allah mengajarkan pada manusia agar pertama-tama mampu  ‘membaca’. Karena dengan iqro’ (membaca) manusia akan bisa mendapatkan pengetahuan maupun ilmu pengetahuan. Dengan pengetahuan maupun ilmu pengetahuan, manusia akan mencapai kemajuan dan bisa menempatkan dirinya pada posisi yang bermartabat sesuai dengan hakekat kemanusiaannya.

Membaca, harus kita maknai bukan sekedar membaca tulisan, membaca yang tersurat, tetapi kita juga harus mampu membaca apa yang tersirat dibalik tulisan. Bahkan kita juga harus mampu membaca fenomena yang muncul di sekeliling kita, baik fenomena alam maupun fenomena sosial. Tentunya Allah mempunyai maksud bahwasanya dalam surat al ‘Alaq di jelaskan bagaimana Allah menciptakan manusia, bukan yang lain. Pernahkan kita memikirkan dan berusaha membaca hal itu ?

Islam adalah agama yang memperhatikan ilmu pengetahuan dan mendorong penganutnya untuk menguasai ilmu pengetahuan. Bahkan Allah senantiasa membekali nabi/rasul Nya dengan ilmu dan mukjizat. Oleh karena itu, sifat para nabi/rasul yang terindah adalah berilmu. Tidak satu pun nabi/rasul yang tidak berilmu. Dengan ilmu dan mukjizat, para nabi/rasul berdakwah dan berjuang, Ilmu dan mukjizat yang luar biasa dan bertahan sampai dengan akhir jaman adalah Al Qur’an.

Islam adalah agama yang memperhatikan ilmu pengetahuan dan mendorong penganutnya untuk menguasai ilmu pengetahuan.

Al Qur’an merupakan sumber ilmu pengetahuan. Selain berisi ilmu yang mengkaji tentang habluminallah (ibadah), hablumminannas, juga berisi ilmu yang mengkaji tentang alam sekitar serta fenomenanya. Contoh: peristiwa ‘ambles’ nya kompleks perumahan (likuifaksi) ketika terjadi bencana alam di Palu, di dalam Al Qur’an sudah diceritakan. Di dalam Al Qur’an juga banyak ibroh terkait dengan fenomena sosial. Contoh: fenomena LGBT, telah dikisahkan dalam Al Quran tentang kaum nabi Luth di negeri Sodom.

Sebagai penutup, tulisan ini penulis awali dengan kalimat “problem terbesar yang dihadapi oleh umat Islam adalah terkait dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan ilmu yang mampu mengangkat martabat umat dan Negara.” Hal itu menunjukkan adanya tantangan yang harus kita hadapi, kita harus bisa memenuhi. Kita harus bersyukur dengan adanya lembaga pendidikan (TK – PT) yang berafiliasi dan bercorak Islam dan mungkin sudah waktunya kita mencoba mendanai riset-riset IPTEK berbasis Islam.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA