Semut, “Tukang Kebun” Bunga-Bunga

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Semut merupakan “tukang kebun” yang aktif, dimana ditunjukkan dengan mereka memilih-milih bibit yang mereka angkut serta menjaga agar tidak terkena penyakit.

Terdapat banyak jenis bunga, seperti bunga Trillium, Akar Darah, Violet, dan masih banyak lagi, semuanya dapat tumbuh atas bantuan dari semut. “Tukang kebun” kecil berkaki enam ini telah “bekerja sama” dengan tanaman-tanaman ini untuk penyebaran bibit mereka. Tanaman tersebut sebagai gantinya “membayar” para semut ini dengan memberikan muatan kalori pada bibit-bibit ini, seperti halnya daging buah yang dimakan burung yang mengeluarkan kembali biji buahnya dalam bentuk kotoran di tempat lain. Namun menurut laporan para peneliti baru-baru di pertemuan rutin Ecological Society of America, terdapat hubungan yang lebih dari semut dan bibit ini. 

Lebih jauh dari pada sekadar membawa bibit-bibit tanaman tersebut, semut merupakan “tukang kebun” yang aktif, dimana ditunjukkan dengan mereka memilih-milih bibit yang mereka angkut serta menjaga agar tidak terkena penyakit. Jadi interaksi ini tidak hanya sekadar interaksi dua jalur sederhana, menurut ekologis dari National Science Foundation, Douglas Levey.

Pentingnya hubungan kemitraan ini juga menjadi fokus dari penelitian. Di dalam hutan, aktivitas manusia dapat menyebabkan pergi atau pindahnya kawanan semut yang dapat menyebabkan bibit-bibit bunga tersebut tidak dapat menemukan tanah yang subur, sehingga ekosistem mengalami kerusakan. Jika semut hilang, maka terdapat peluang untuk bunga-bunga serta tanaman lainnya yang juga bergantung pada semut untuk hilang juga, menurut Judith Bronstein, seorang ahli ekologi evolusioner di Universitas Arizona.

Banyak semut memakan bibit. Namun di hutan di Eropa dan Amerika Utara, hutan Australia, serta semak-semak di Afrika Selatan bernama fynbos, terdapat banyak spesies semut yang tidak memakan bibit untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Tanaman tertentu menempelkan gumpalan bernutrisi yang disebut elaiosome pada permukaan bibit mereka, yang menjadi makanan anak-anak semut serta memberi pegangan bagi semut-semut oleh karena ukuran bibit yang terkadang jauh lebih besar dari kepala semut.

Hingga kini, para peneliti semut hanya membawa bibit ke saramg mereka, memberikan elaisome pada anak-anak mereka dan membuang bibitnya ke “tempat sampah” baik di luar maupun di dalam sarang mereka, yang merupakan lingkungan subur bagi bibit untuk tumbuh. Namun menurut Charles Kwit, seorang ekologis di University of Tennessee, Knoxville, semut mungkin membantu bibit tersebut lebih dari sekadar transportasi.

Semut penyebar bibit yang umum dalam genus Aphaenogaster, dan seperti yang lainnya, mengeluarkan bahan kimia antimikroba untuk membersihkan diri dan sesama semut. Kwit bertanya-tanya bagaimana dibahan kimia tersebut dapat memengaruhi komunitas mikroba bibit — dan kesehatan mereka. Dia dan mahasiswa pascasarjana Chloe Lash bekerja sama dengan Melissa Cregger dari Laboratorium Nasional Oak Ridge untuk mengisolasi dan mengurutkan DNA dari mikroba pada lapisan benih dari tiga tanaman umum yang bergantung pada semut: jahe liar, akar darah, dan twinleaf.

Pertama-tama, setiap benih memiliki mikrobioma yang kompleks dan unik — komunitas bakteri dan jamurnya. Tetapi setelah semut menangani bibit mikrobiomanya menyusut dan menjadi lebih mirip dengan benih lain yang ditangani dari spesies berbeda, Lash melaporkan pada pertemuan itu — tampaknya karena terkena antimikroba. Jahe liar dan daun kembar juga mengandung lebih sedikit patogen tanaman. Menurut Levy, perubahan mikrobioma, dapat mempengaruhi predasi bibit pasca penyebaran, dormansi, viabilitas bibit, waktu perkecambahan, dan kesehatan bibit yang dihasilkan”.

Laboratorium Kwit juga menemukan bahwa dalam hal bibit, semut memiliki preferensi yang dapat memengaruhi keberhasilan tanaman. Baik di lapangan maupun di laboratorium, peneliti memberi semut bibit dari berbagai spesies trillium dan menemukan semut dengan cepat mengambil bibit dari beberapa spesies sementara membiarkan yang lain membusuk, kata peneliti.

“Spesies trillium yang tersebar luas [lebih] disukai oleh semut penyebar bibit dibandingkan spesies trillium langka.”

Untuk mengetahui bagaimana semut menentukan pilihan, Charles Miller dan Susan Whitehead dari Virginia Polytechnic Institute and State University (Virginia Tech) menggunakan spektroskopi massa dan teknik lain untuk menganalisis susunan kimiawi elaiosom. Mereka menemukan bahwa semut memetik bibit berdasarkan kombinasi spesifik dan konsentrasi asam oleat serta senyawa lain yang dibuat oleh tanaman, 20 di antaranya unik untuk trillium. Selera semut dapat memengaruhi distribusi spesies tumbuhan, kata Kirsten Prior, ahli ekologi di Universitas Binghamton: “Spesies trillium yang tersebar luas [lebih] disukai oleh semut penyebar bibit dibandingkan spesies trillium langka.”

Aktivitas manusia juga dapat memengaruhi hubungan semut-benih. Banyak peneliti berasumsi semut yang selamat dari gangguan seperti pembukaan hutan dan dengan cepat pindah kembali ke daerah yang terganggu. Tetapi Katie Stuble, seorang ahli ekologi di Holden Arboretum di Kirtland, Ohio, menemukan sebaliknya. Ia mengatakan bahwa kegiatan tersebut berdampak pada komunitas semut.

Di daerah yang dibuka beberapa dekade lalu, tim peneliti menemukan konsentrasi cacing tanah invasif yang lebih tinggi dan konsentrasi semut penyebar bibit yang lebih rendah daripada di hutan yang tidak pernah dibuka. Cacing tanah memecah daun-daun yang gugur dan puing-puing organik, kemungkinan menyisakan terlalu sedikit bagian untuk semut. Stuble mengatakan hal ini menunjukkan bahwa ada dampak besar penggunaan lahan yang mungkin lebih dalam dari yang peneliti duga sebelumnya. Dampak tersebut dapat menjelaskan mengapa hutan sekunder kekurangan semak yang lebat, dan mengapa tanaman yang mengandalkan semut untuk menyebarkan bibit langka di sana.

Prior dan muridnya Carmela Buono melaporkan bahwa survei terhadap 20 situs di timur laut Amerika Utara menunjukkan kecenderungan serupa. Dibandingkan dengan hutan yang tidak pernah dibuka, hutan sekunder memiliki lebih sedikit semut Aphaenogaster, yang menyebarkan hingga 70% bibit di hutan gugur, kata Buono. Hutan sekunder memiliki lebih sedikit serasah daun dan lebih sedikit batang kayu yang membusuk untuk dikoloni semut. Mereka juga memiliki siput yang lebih invasif, yang bersaing dengan semut dengan memakan elaiosom — dan meninggalkan bibitnya, alih-alih menyebarkannya.

Hilangnya semut pembawa bibit “memiliki implikasi besar bagi masyarakat hutan dan restorasi,” kata Prior. Peneliti berpendapat bahwa untuk memulihkan komunitas tumbuhan bawah, mungkin juga perlu dipikirkan untuk memulihkan interaksi antara spesies penting ini. Sebagai contoh, mungkin membantu memastikan ada banyak batang kayu yang membusuk dan serasah daun agar semut bisa berkembang biak.

Bronstein mencatat bahwa di masa lalu, ahli ekologi menguraikan peran semut sebagai “tukang kebun” melalui pengamatan yang teliti. Sekarang ia mengatakan bahwa terdapat hipotesis menarik yang dapat diuji, eksperimen yang dirancang dengan baik, analisis fitokimia yang serius, dan pendekatan statistik yang canggih, serta pengurutan genom dan analisis kimia skala halus.

Melissa Burt, seorang ahli ekologi di Virginia Tech, berharap penelitian ini memberikan rasa hormat yang baru bagi semut. Dirinya berkata bahwa banyak orang menganggap semut hanya sebagai hama yang mengambil alih dapur mereka, tetapi banyak semut yang menjalankan fungsi penting dalam ekosistem, dan penyebaran bibit hanyalah salah satunya. (Disadur dari situs sciencemag).

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti