21.4 C
Yogyakarta
22 November 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Sepuluh Pilar Pembentuk Ketahanan Keluarga

Berikut kerangka utuh sepuluh pilar ketahanan keluarga yang harus selalu diusahakan oleh setiap keluarga dan difasilitasi oleh Pemerintah maupun semua komponen anak bangsa yang peduli keluarga. Sepuluh pilar ini menjadi kewajiban setiap keluarga untuk mewujudkannya.

Pemerintah dan berbagai pemangku kebijakan lain harus mengawal dan memberikan perhatian yang penuh terhadap terwujudnya ketahanan keluarga Indonesia. Pemerintah dan berbagai komponen bangsa harus bekerja sama saling menguatkan untuk menciptakan ketahanan keluarga yang kondusif untuk proses pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

1. Persiapan Menjelang Pernikahan

Pembentukan keluarga diawali dengan pernikahan. Maka untuk menciptakan ketahanan keluarga, harus diawali dengan pembekalan dan penyiapan pranikah. Ketahanan keluarga tidak bisa dilakukan hanya dengan menunggu keluarga yang bermasalah untuk diperbaiki. Bukan seperti Lembaga Sensor Film yang pekerjaannya hanya melakukan sensor atas tayangan tertentu dalam film, namun mereka tidak terlibat dalam proses produksi sejak awal.

Untuk itulah calon pengantin laki-laki dan perempuan harus mendapatkan pembekalan yang memadai tentang seluk-beluk kehidupan berumah tangga. Setiap calon pengantin harus memiliki kemampuan untuk memverbalkan visi pernikahan mereka sehingga pernikahan benar-benar visioner. Bagian yang sangat penting bagi para calon pengantin adalah bab penguatan dan pelurusan motivasi menikah. Jangan sampai menikah hanya karena accident belaka, atau hanya coba-coba, atau hanya karena pengen, atau karena naluri manusia dewasa semata-mata.

Menikah dan hidup berumah tangga harus dilandasi dengan motivasi ketuhanan, bahwa menikah adalah ibadah, menunaikan misi peradaban kemanusiaan yang sangat mulia. Menikah memiliki tujuan-tujuan dan misi yang sangat mulia. Ini merupakan bagian fondasi yang sangat penting untuk dimiliki oleh semua orang yang akan melaksanakan pernikahan.

Di antara pembekalan pranikah adalah tentang keterampilan hidup berumah tangga, bagaimana menjadi suami, bagaimana menjadi istri, bagaimana menjadi orang tua, bagaimana manajemen kehidupan berumah tangga, dan berbagai renik kerumahtanggaan. Penting juga untuk disampaikan tentang proses pernikahan yang baik dan benar. Banyak kalangan muda yang terjebak pergaulan bebas hingga melampaui batas kepatutan budaya dan melanggar aturan agama. Ini harus diluruskan dan dibimbing dengan cara yang baik.

Banyaknya KDRT, konflik hingga perceraian, salah satunya disebabkan karena minimnya persiapan menjelang menikah dan tidak adanya penjagaan setelah menikah. Hidup berumah tangga di Indonesia itu ibarat terjun bebas tanpa instruktur, tentu saja sangat membahayakan. Menikah tidak didasari oleh ilmu dan kesiapan yang memadai, menikah hanya karena desakan-desakan situasi dan kondisi. Sangat disayangkan program pembekalan belum dilakukan juga dalam masing-masing keluarga.

2. Pembinaan Hidup Berumah Tangga

Pembinaan hidup berumah tangga merupakan kebutuhan yang sangat penting dan mendesak, mengingat banyaknya permasalahan dalam kehidupan rumah tangga. Sayangnya, justru dalam sisi ini belum ada institusi yang mengerjakan dengan serius, terprogram dan sistematis. Yang paling sering didapatkan hanyalah Seminar Keluarga, Pelatihan Keluarga, Majelis Taklim tentang keluarga, yang diadakan oleh kelompok masyarakat, namun belum terprogram dengan rapi dan tidak berkelanjutan.

perlu ada ilmu tentang komunikasi suami istri, pembagian peran, harmonisasi keluarga.

Semestinya, pembinaan hidup berumah tangga bersifat seumur hidup, long life education. Begitu selesai akad nikah, maka mereka sudah sah menjadi pasangan suami istri yang berinteraksi dan berkomunikasi sebagai suami dan sebagai istri. Untuk itu, perlu ada ilmu tentang komunikasi suami istri, pembagian peran, harmonisasi keluarga, interaksi orang tua dengan anak, penyiapan kehamilan, kelahiran, pendidikan anak, bahkan menyiapkan masa-masa tua dan menghadapi kematian. Ajaran agama telah komplit merawat setiap fase kehidupan dan sangat jeli memberikan perhatian terhadap keluarga.

3. Pembinaan Sepanjang Rentang Kehidupan Manusia

Manusia selalu berada dalam situasi yang terus-menerus tumbuh dan berkembang sesuai fase-fase kehidupan yang harus dilaluinya. Maka setiap manusia manusia harus mendapatkan bimbingan dan pembinaan secara memadai untuk bisa melewati semua fase hidup dengan baik.

a. Pembinaan Prekonsepsi

Ini adalah bagian paling awal dari proses pembinaan manusia di sepanjang rentang hidupnya. Bahkan dilakukan sejak belum terjadi pembuahan dan belum ada janin. Pembinaan ini dilakukan terhadap pasangan suami-istri atau calon pasangan suami-istri, untuk memberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam menyiapkan kehamilan. Bagaimana kehamilan bisa terjadi dan bagaimana mempersiapkan kehamilan dengan sebaik-baiknya. Calon orang tua sudah harus memiliki kesiapan lahir batin untuk menyambut kehamilan sehingga akan bisa menerima hadirnya janin dengan sikap yang positif.

b. Pembinaan Prenatal

Setelah terjadi kehamilan, janin mulai diasuh dan dijaga dengan penuh kasih sayang oleh kedua orang tuanya. Dalam ajaran agama, nilai-nilai spiritual sudah bisa ditanamkan sejak janin masih dalam kandungan. Perhatian terhadap gizi, kesehatan dan pola hidup sehat terutama pada ibu hamil, menjadi satu bagian penting dalam membentuk janin yang tengah tumbuh di dalam perut.

Di sini diperlukan pembinaan bagi calon ayah dan calon ibu untuk bisa memerankan fungsi mereka dengan baik. Peran suami dalam mendampingi istri yang tengah hamil sangat penting dalam memberikan perasaan aman dan nyaman pada ibu hamil, yang akan berdampak terhadap kesehatan ibu maupun bayi.

c. Menyambut Kelahiran Bayi

Pada saat ibu melahirkan bayi hendaknya mendapatkan dukungan secara penuh oleh ayah. Agama memberikan tuntunan yang detail terhadap kelahiran bayi, sejak dari ritual kelahiran hingga beberapa hari setelah kelahirannya. Hendaknya bayi telah dikenalkan dengan nilai-nilai ketuhanan, maka sebagian masyarakat muslim menyambut kelahiran bayi dengan adzan di telinga kanan bayi dan iqamah di telinga kiri. Hal ini bagian pembinaan nilai-nilai kebaikan pada diri anak sejak dini.

d. Pendidikan Anak Balita

Setelah janin lahir, dilanjutkan dengan pembinaan pada hari-hari awal kehidupannya. Sangat penting untuk memberikan pendidikan keimanan sejak dini, pada anak sejak hari kelahiran hingga lima tahun yang merupakan usia emas dalam kehidupan manusia. Anak balita sudah harus dikenalkan dengan nilai ibadah, akhlaq, juga berbagai sisi keterampilan praktis seperti berbicara, membaca, berhitung dan lain sebagainya. Hingga menyiapkan anak untuk memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Playgroup, dan Taman Kanak-kanak.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA