Setelah Setengah Tahun Pandemi Global

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tanpa ada kepastian, kapan Pandemi Global tersebut akan menghilang dan memberi kesempatan kita untuk hidup tanpa ancaman wabah.

Tidak terasa waktu berjalan demikian cepat. Bersama gerak waktu yang berjalan telah demikian banyak hal terjadi. Memang sebagian besar perhatian kita terpaku pada laporan harian yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga kesehatan, WHO atau pemerintah. Baik tentang jumlah korban yang terpapar, ataupun korban jiwa, akibat komplikasi dan keterlambatan pertolongan, maupun soal-soal terkait dengan pelaksanaan protokol kesehatan.

Bidang lain, ikut merasakan akibat dari pelaksaan pembatasan. Ada banyak kebiasaan baru berkembang dan telah menjadi kegiatan sehari-hari. Kini semua terus berjalan, dengan tanpa ada kepastian, kapan Pandemi Global tersebut akan menghilang dan memberi kesempatan kita untuk hidup tanpa ancaman wabah.

Pertanyaan yang kini berkembang dan menjadi pertanyaan penting bagi para ilmuwan, baik soal-soal diseputar masalah kesehatan, dan berbagai bidang lainnya, menjadi agenda tersendiri. Tentu terbuka bagi kita untuk ikut menyumbang pemikiran, baik dalam merumuskan pertanyaan-pertanyaan strategis. Maupun ikut melakukan riset untuk menjawab beberapa pertanyaan yang kini mulai mengemuka, diantaranya adalah:

Pertama, mengapa Pandemi Global ini, mendapatkan respon yang berbeda-beda. Pertanyaan ini terasa biasa, namun bagi riset, masalah ini sangat menantang. Pandemi Global, merupakan peristiwa yang bersifat umum, dan bukan hal yang bersifat unik. Pandemi bukan merupakan peristiwa budaya, tetapi peristiwa kesehatan.

Masalah perbedaan dalam respon merupakan salah satu aspek yang paling mencolok dari COVID-19.

Dari segi para korban, dalam kenyataan juga memperlihatkan keragaman respon tubuh. Masalah perbedaan dalam respon merupakan salah satu aspek yang paling mencolok dari COVID-19, yakni beragamnya respon terhadap penyakit ini. Beberapa orang tidak pernah mengalami gejala. Sedangkan yang lain, beberapa tampaknya sehat, memiliki pneumonia parah atau bahkan fatal.

“Perbedaan dalam hasil klinisnya sangat dramatis,” kata Kári Stefánsson, ahli genetika dan kepala eksekutif DeCODE Genetics di Reykjavik, yang timnya mencari varian gen manusia yang mungkin menjelaskan beberapa perbedaan ini.

Kedua, apa sebenarnya sifat kekebalan dan berapa lama kekebalan dapat bertahan? Bagi para ahli, masalah kekebalan tubuh juga masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab secara baik.

Ahli imunologi bekerja dengan tergesa-gesa untuk menentukan seperti apa kekebalan terhadap SARS-CoV-2, dan berapa lama itu bisa bertahan. Sebagian besar upaya telah difokuskan pada ‘antibodi penawar’, yang mengikat protein virus dan secara langsung mencegah infeksi. Penelitian telah menemukan bahwa kadar antibodi penawar terhadap SARS-CoV-2 tetap tinggi selama beberapa minggu setelah infeksi, tetapi kemudian biasanya mulai berkurang.

Namun bagaimana sesungguhnya cara kerja kekebalan dalam menghadapi serangan virus corana? Para penelitian terus mengumpulkan bahan dari berbagai pengalaman. Tentu hal ini juga bergantung pada pengumpulan data dari berbagai negara. Tentu diharapkan segera dapat diketahui, terutama bagimana respon tubuh terhadap penyakit dan apakah mungkin dilakukan intervensi untuk meningkatkan kekebalan tubuh secara efektif dan tidak bersifat konvensional.

Ketiga, bagaimana sesungguhnya sifat dari virus, khusnya terkait dengan mutasi yang dapat terjadi pada virus. Tentu disadari bahwa setiap virus akan mengalami mutasi. Semua virus bermutasi saat menginfeksi manusia, dan SARS-CoV-2 tidak terkecuali. Ahli epidemiologi molekuler telah menggunakan mutasi ini untuk melacak penyebaran global virus. Tetapi para ilmuwan juga mencari perubahan yang mempengaruhi sifat-sifatnya. Misalnya dengan membuat beberapa garis keturunan lebih atau kurang ganas atau menular.

“Itu adalah virus baru; jika memang menjadi lebih parah, itu adalah sesuatu yang ingin Anda ketahui,” kata David Robertson, seorang ahli virus di University of Glasgow, Inggris, yang timnya membuat katalog mutasi SARS-CoV-2. Mutasi semacam itu juga berpotensi mengurangi efektivitas vaksin, dengan mengubah kemampuan antibodi dan sel T untuk mengenali patogen.

Keempat, sebenarnya bagaimana kinerja vaksin yang kini tengah diusahakan? Vaksin yang efektif mungkin merupakan satu-satunya jalan keluar dari pandemi. Saat ini ada sekitar 200 dalam pengembangan di seluruh dunia, dengan sekitar 20 dalam uji klinis. Uji coba efikasi skala besar pertama untuk mengetahui apakah vaksin apa pun bekerja akan dimulai dalam beberapa bulan ke depan. Studi-studi ini akan membandingkan tingkat infeksi COVID-19 antara orang yang mendapatkan vaksin dan mereka yang menerima plasebo.

Sebagian besar peneliti sepakat bahwa coronavirus SARS-CoV-2 kemungkinan berasal dari kelelawar.

Kelima, sebenarnya dari mana asal usul virus? Sebagian besar peneliti sepakat bahwa coronavirus SARS-CoV-2 kemungkinan berasal dari kelelawar, khususnya “kelelawar tapal kuda”. Grup ini meng-host dua coronavirus yang terkait erat dengan SARS-CoV-2. Satu, bernama RATG13, ditemukan pada kelelawar menengah horseshoe (Rhinolophus affinis) di provinsi Yunnan di Cina barat daya pada 2013. Genomnya 96% identik dengan SARS-CoV-2. Berikutnya adalah RmYN02, coronavirus yang ditemukan pada kelelawar tapal kuda Melayu (Rhinolophus malayanus), yang berbagi 93% dari urutan genetiknya dengan SARS-CoV-29.

Zhang Zhigang, seorang ahli mikrobiologi evolusi di Universitas Yunnan di Kunming, mengatakan upaya oleh kelompok-kelompok penelitian di China untuk mengisolasi virus dari ternak dan satwa liar, termasuk musa. Kelompok-kelompok di Asia Tenggara juga mencari coronavirus dalam sampel jaringan dari kelelawar, trenggiling dan musang.

Semua upaya dimaksudkan untuk melakukan pelacakan secara seksama. Karena pengetahuan akan asal usul akan sangat membantu dalam memahami sifat dasar dari virus, dan dampak yang dapat ditimbulkan ketika menyerang manusia. (Sumber situs nature)

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti