Sholat & Flow

kiki-duduk
Bagi orang-orang yang sudah menemukan kenikmatan dalam sholat, ibadah ini terasa ringan, menyenangkan, dan sarat dengan makna.

Ibnu Athaillah dalam Al Tanwir fi Isqath Al Tadbir mengatakan bahwa sholat memiliki kedudukan yang istimewa karena ibadah ini menyatukan berbagai amalan yang mulia. Dalam sholat kita mengagungkan Asma Allah dengan zikrullah, membaca Al-Qur’an, dan bermunajat kepada Allah. Semua itu dilakukan dengan gerak gerik tubuh yang mengisyaratkan kepasrahan dan kerendahan hamba di hadapan Tuhan-Nya. Sehingga, tidaklah berlebihan jika Allah menyebutkan bahwa sholat itu bisa mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar (QS. Al – Ankabut : 45)

Namun, sholat adalah ibadah yang berat dan membutuh kesabaran ekstra. Betapa tidak, sekalipun hanya memakan durasi waktu 5 – 10 menit, ibadah ini harus ditunaikan minimal lima kali dalam sehari semalam. Pelaksanaannya juga diutamakan pada saat tubuh tidak sepenuhnya fit, bahkan di tengah aktivitas pekerjaan yang padat. Karena itulah, tidak mengherankan jika banyak muslim yang tidak sanggup menunaikan ibadah ini dengan disiplin dan penuh penghayatan.

Tapi, bagi orang-orang yang sudah menemukan kenikmatan dalam sholat, ibadah ini terasa ringan, menyenangkan, dan sarat dengan makna. Artinya, selain menjadi momentum transenden, sholat juga memberikan pengalaman psikologis yang membahagiakan. Meminjam istilah Mihaly Csikszentmihalyi, seorang muslim pada saat sholat tenggelam dalam suasana “flow”.

Flow adalah situasi psikologis yang ditandai lima hal, yakni atensi yang terpusat, satunya tindakan dengan kesadaran, merasa bebas dari kekhawatiran, distorsi akan waktu, dan memandang pengalaman sebagai reward yang menyenangkan. Dalam kaitannya dengan sholat, situasi ini bisa diakses dengan memperhatikan tiga hal berikut ini.

  1. GOAL.
    Flow akan dialami jika pelakunya memiliki tujuan yang bermakna. Dia tidak melihat aktivitas yang dikerjakannya itu semata-mata menggugurkan kewajiban. Sebaliknya, dia memandang aktivitas yang dilakukannya itu terhubung dengan visi yang sakral.

    Terkait dengan hal ini, menurut Imam Al Ghazali dalam master piece-nya Ihya’ Ulumuddin, sholat mestinya dipandang sebagai manifestasi cinta hamba kepada Allah. Dalam sholat itulah terjadi “perjumpaan” hamba dengan Sang Pencipta. Dalam sholat pula dia berdialog, menyampaikan keluh kesahnya, dan bermunajat kepada Tuhan. Alhasil, orang yang menunaikan sholat dengan cara pandang seperti ini akan selalu merindukan momentum sakral tersebut.
  1. HIGH SKILLS.
    Flow tidak akan dialami oleh orang yang mengerjakan aktivitas yang sederhana dan monoton. Kondisi ini hanya mungkin dialami jika pelakunya melibatkan sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dan membutuhkan waktu untuk mengasahnya.

    Dalam kaitannya dengan sholat, kondisi flow akan dialami manakala orang yang menunaikannya memiliki wawasan dan kemampuan yang mumpuni tentang sholat itu sendiri. Dia harus mengerti tata cara dan rukun sholat. Dia mampu melafadzkan bacaan Al-Qur’an dan doa dengan benar dan sekaligus memahami artinya. Di atas segalanya, dia harus memahami “hakekat” dari setiap gerak gerak dari ibadah yang dikerjakannya itu. Sejumlah kemampuan itulah yang pada gilirannya membuat sholat menjadi pengalaman spiritual yang mengasyikkan dan sekaligus mencerahkan. Dia mengalami ekstase sehingga lupa dengan waktu.
  1. OPTIMAL CHALLENGE
    Flow akan dialami manakala pelakunya menetapkan tantangan atas aktvitas yang dikerjakannya. Hanya saja, tantangan itu tidak boleh terlalu tinggi sehingga dia frustasi mewujudkannya. Tapi, tantangan itu juga tidak boleh rendah karena tidak akan memompa motivasinya dan menjerumuskannya dalam kejenuhan. Flow hanya terjadi pada tantangan yang bersifat moderat. Artinya, tantangan itu tidak terlalu sukar dia raih, tapi tidak terlalu mudah dia wujudkan. Yang sedang-sedang saja.

Nah, dalam kaitannya dengan sholat, kondisi flow akan dialami manakala orang yang menunaikannya menetapkan tantangan atas sholat itu sendiri. Sebagai contoh, jika sebelumnya dia hanya mengerjakan sholat wajib lima waktu, esok hari dia menambahkan sholat sunnah rawatib. Jika sebelumnyq dia sudah mengerjakan sholat lima waktu dan sholat rawatib, maka esok hari dia menunaikan sholat-sholat sunnah lainnya yang diutamakan, dan seterusnya. Pendek kata, tantangan itu perlu ditingkatkan sedikit demi sedikit. Baik kuantitasnya maupun kualitasnya.

Selamat menunaikan sholat dan masukilah pengalaman flow dengan memandang sholat sebagai manifestasi cinta Ilahiyah, aktivitas spiritual yang melibatkan keterampilan tingkat tinggi, dan menetapkan capaian yang moderat.

Wallahu’alam bish showab

(Visited 157 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020