Siklus Dari Kepunahan Massal

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Kepunahan massal merupakan salah satu sejarah dari kehidupan dari planet kita. Baik hewan darat, maupun hewan laut, keduanya pernah terkena oleh peristiwa besar ini. Tentu tidak sedit yang bertanya, apakah peristiwa kepunahan massal ini adalah suatu peristiwa tunggal? Ataukah peristiwa ini dapat terulang kembali? Jika dapat terulang kembali, kapankah itu? Dalam sebuah analisis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Historical Biology, diungkapkan bahwa peristiwa kepunahan masal mengikuti suatu siklus sekitar 27 juta tahun. Didalam hasil stud tersebut, juga ditemukan bahwa kepunahan massal tersebut, berbanding lurus dengan meteor yang menabrak Bumi serta aliran lava vulkanik besar yang disebut sebagai flood-basalt eruptions. Kedua kejadian ini lah yang dianggap para peneliti sebagai penyebab potensial adanya kepunahan masal.

Peneliti berpendapat bahwa kejadian tersebut bukanlah kejadian yang berkesan kebetulan terjadi, namun merupakan suatu siklus yang mungkin disebabkan oleh orbit kita di Galaksi. Kita tahu dari sejarah bahwa, enam puluh enam juta tahun yang lalu, 70 persen dari berbagai spesies, baik di darat, maupun di lautan, mengalami kepunahan yang terkesan tiba-tiba, dan asteroid lah yang dianggap sebagai pemicunya. Para ahli paleontologi juga menemukan bahwa kepunahan massal kehidupan laut, bukanlah peristiwa acak, melaikan sebuah siklus selama 26 juta tahun.

Dengan melakukan pemeriksaan pada catatan kepunahan massal dari hewan darat, para penelti memberi kesimpulan bahwa kepunahan hewan darat juga bertepatan dengan kepunahan hewan di lautan. Dengan melakukan analisis statistik terbaru baru mengenai kepunahan spesies darat, ditunjukkan bahwa peristiwa tersebut mengikuti siklus serupa sekitar 27,5 juta tahun.

Mengapa hal ini dapat terjadi? Apa yang dapat menyebabkan kepunahan massal terjadi secara berkala di darat dan di laut? Peneliti mengungkapkan bahwa kepunahan massal bukan satu-satunya peristiwa yang juga memiliki siklus. Jika dilihat usia kawah tumbukan asteroid yang menabrak Bumi, mereka juga mengikuti siklus yang sejalan dengan siklus kepunahan.

Para ahli astrofisika mengeluarkan hipotesis bahwa hujan berkala dari komet ini terjadi di Tata Surya kita setiap 26 hingga 30 juta tahun, yang pada dilirannya, menghasilkan dampak siklus dan mengakibatkan kepunahan massal secara berkala. Matahari dan planet-planet berputar melalui bidang tengah galaksi Bima Sakti setiap 30 juta tahun. Dalam perioe tersebut, hujan komet ini mungkin terjadi, dan dampaknya sangatlah besar pada Bumi. Dampaknya dapat menciptakan kondisi yang akan menekan dan berpotensi mematikan kehidupan di darat maupun di laut. Bumi menjadi gelap dan dingin yang meluas, kebakaran hutan, hujan asam, dan penipisan ozon, merupakan contoh-contoh dari dampak setelah terjadi tabrakan antara asteroid dengan Bumi.

Penemuan baru inilah yang membuat para peneliti yakin bahwa dalam siklus 26 hingga 27 juta tahun, terjadilah peristiwa bencana global yang merupakan pemicu kepunahan. Faktanya, tiga dari kepunahan massal spesies di darat dan di laut telah diketahui terjadi pada saat yang sama dengan tiga tabrakan asteroid besar dalam 250 juta tahun terakhir, dimana masing-masing mampu menyebabkan bencana global dan mengakibatkan kepunahan massal.

Selain itu, para peneliti juga terkejut ketika menemukan penjelasan lain yang mungkin untuk kepunahan massal, diluar dari campur tangan asteroid, yakni flood-basalt eruptions, atau sebuah letusan gunung berapi raksasa yang menutupi daerah yang luas dengan lahar. Delapan dari kepunahan massal yang terjadi secara bersamaan di darat dan di lautan juga sejalan dengan peristiwa ini. Letusan tersebut juga akan menciptakan kondisi yang parah bagi kehidupan, termasuk periode singkat yang sangat dingin, hujan asam, dan kerusakan ozon serta peningkatan radiasi. Dalam jangka panjang, letusan tersebut dapat menyebabkan pemanasan rumah kaca yang mematikan dan lebih banyak asam serta lebih sedikit oksigen di lautan, yang dimana hal ini akan berujung pada kepunahan massal.


Sumber:
Situs sciencedaily. Materi awal berasal dari New York University. Foto: Pixabay.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti