Singapura Resmi Dalam Resesi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Hal ini dinyatakan sebagai akibat dari kebijakan circuit breaker, yang merupakan respon atas pandemi global, yang arahnya untuk mengendalikan penyebaran virus.

COVID-19, bukan hanya menginfeksi manusia dan menimbulkan penyakit yang mematikan, tetapi juga menginfeksi tubuh ekonomi negara. Pembatasan sosial di sebuah negara, tidak saja menimbulkan dampak langsung pada ekonomi di negara tersebut, namun juga membawa pengaruh pada ekonomi kawasan. Inilah yang tengah berlangsung di Singapura.

Ekonomi Singapura kini mengalami rekor kontraksi pada kuartal kedua, menyebabkan resesi dan menempatkan negara, yang bergantung pada perdagangan itu, pada posisi terpuruk tahun ini, ketika wabah virus corona mengekstraksi banyak kerugian pada bisnis.

Hal ini dinyatakan sebagai akibat dari kebijakan circuit breaker, yang merupakan respon atas pandemi global, yang arahnya untuk mengendalikan penyebaran virus. Kebijakan tersebut, mengharuskan warga untuk menjalankan protokol kesehatan, berdiam di rumah, dan ketentuan lain, yang membuat sektor jasa lebih berorientasi domestik. Keadaan inilah yang langsung berpengaruh pada ekonomi Singapura yang bertumpu pada perdagangan.

Singapura merupakan negara yang pertama di Asia melaporkan data PDB kuartal kedua, menggarisbawahi dampak pandemi COVID-19 di seluruh dunia dan menunjuk pada jalur yang keras ke depan. Banyak ekonomi besar sudah menghadapi penurunan tertajam dalam beberapa dekade.

Produk domestik bruto (PDB) anjlok dengan rekor 41,2% dalam tiga bulan yang berakhir, berdasarkan basis tahunan kuartal ke kuartal, data awal dari Kementerian Perdagangan dan Industri menunjukkan pada hari Selasa, lebih buruk daripada ekspektasi ekonom yang menunjuk angka penurunan 37,4 % dalam jajak pendapat Reuters.

Dampak sektoral lebih luas pada sektor jasa dan konstruksi paling terpukul. Konstruksi, yang hampir berhenti, anjlok 95,6% berdasarkan kuartal-ke-tahunan yang disesuaikan secara musiman. Sektor manufaktur tumbuh 2,5% dari tahun lalu, terutama karena lonjakan output di sektor biomedis, meskipun itu masih lebih rendah dari kenaikan 8,2% pada kuartal pertama.

“Kami sudah menduga angka-angka ini akan cukup suram, namun ini sudah lebih buruk daripada yang kami perkirakan,” kata Steve Cochrane, ekonom di Moody’s Analytics. Pada basis tahun ke tahun, PDB menukik 12,6% versus perkiraan ekonom memperkirakan kontraksi 10,5%. Kemerosotan PDB secara berturut-turut membuat keadaan telah memenuhi definisi teknis untuk resesi. (reuters/njd)

Redaksi arbaswedan.id

Redaksi arbaswedan.id

Terbaru

Ikuti