Sinkronisasi dan Optimalisasi Tri Pusat Pendidikan Dalam Pendidikan Anak

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Tiga lingkungan pendidikan harus disinkronisasikan dengan kerjasama yang baik sehingga anak-anak bisa berkembang secara seimbang dan optimal.
Oleh: Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Ketika menyebut anak, banyak ayat al-Qur’an yang mengaitkan dengan harta, yakni keduanya adalah perhiasan dunia (QS. Al-Kahfi, 18 : 46). Allah SWT juga menyebutkan bahwa anak merupakan ujian bagi kedua orangtuanya. Dengan kata lain, orangtua memiliki kewajiban untuk mendidik dan menjadikan anak-anaknya sebagai anak yang saleh, bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, negara, dan agamanya. Namun di tengah kesibukan dan kepentingan pribadi orangtua, tidak sedikit di antara mereka yang gagal mendidik anaknya untuk menjadi anak yang saleh dan berbakti kepada kedua orangtua. Dalam hal ini anak sebagai ujian (cobaan), sebagaimana  Firman Allah SWT : “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai  cobaan, dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”. (QS. Al-Anfal, 8 : 28).

Agar anak tumbuh dan berkembang dengan baik sesuai dengan doa dan harapan orangtua : “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan anak keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi  orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan, 25  : 74), maka orangtua harus mampu mengoptimalkan tiga lingkungan pendidikan anak yang oleh Ki Hadjar Dewantara disebut dengan “Tri Pusat Pendidikan Anak”; yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tiga lingkungan pendidikan anak ini harus disinkronisasikan dengan kerjasama yang baik  dan dioptimalisasikan peranannya sehingga anak-anak bisa berkembang secara seimbang  dan optimal.

Secara berturut-turut bisa dijelaskan sebagai berikut : Pertama, Lingkungan Keluarga. Sebagai individu yang dilahirkan dalam keluarga, anak akan selalu berhubungan dengan anggota keluarga yang lain. Ketidakberdayaannya membuat ketergantungan kepada anggota keluarga yang lain, terutama kedua orangtuanya. Keadaan yang seperti ini menuntut  orangtua untuk memiliki tanggungjawab dalam melayani, mendidik, serta membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara maksimal. Anak sebagai subyek didik dalam keluarga membutuhkan bimbingan dan pengarahan dari kedua orangtuanya. Orangtua secara otomatis menjadi contoh dan teladan dalam kehidupan sehari-hari anak. Sikap dan tingkah laku orangtua akan menjadi stimulus atau rangsangan terhadap pembentukannya sebagai anak saleh.  

Di dalam keluarga, sikap dan perhatian orangtua terhadap perkembangan anak sangat mempengaruhi permbentukan pribadinya. Setidaknya ada empat hal yang membuat anak mengalami kegagalan dalam pembentukan kepribadiannya; (1) apabila orangtua mempunyai sikap yang netral dan kurang berminat terhadap pendidikan anak, (2) perilaku orangtua yang mudah cemas, terlalu meneliti, seenaknya atau tidak menentu dalam membuat aturan dalam keluarga, (3) orangtua yang acuh tak acuh terhadap pendidikan anak, serta (4) tidak adanya semangat kerjasama dalam keluarga. Kondisi yang seperti ini merupakan tempat pembenihan yang paling utama bagi terbentuknya kepribadian anak-anak dan remaja yang tidak stabil, goyah dan cenderung destruktif.

Kedua, Lingkungan Sekolah. Di dalam lingkungan sekolah, yang memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian anak adalah : karakteristik anak itu sendiri, teman sebaya (peer-group), karakteristik pendidik dan tenaga kependidikan, interaksi dan metoda yang diterapkan serta  fasilitas pendidikan yang tersedia. Sebagaimana diketahui, tugas guru (pendidik) di sekolah tidak sekadar menyampaikan mata pelajaran dan memasukkan pengetahuan yang sebanyak-banyaknya ke otak anak. Banyak guru yang merasa tugas utamanya hanya mengajar, meminta murid-murid untuk menguasai bahan ajar yang disampaikannya dengan baik. Padahal seharusnya, guru di samping sebagai penyampai ilmu pengetahuan (transmitter of knowledge) juga sebagai pengelola pengajaran (director of learning) yang juga berperan untuk membentuk pribadi anak.

Untuk memasukkan nilai-nilai moral dan agama kepada anak, ada beberapa prinsip belajar yang harus diterapkan; Pertama, prinsip kebermaknaan, yakni anak-anak akan termotivasi untuk mempelajari sesuatu dengan baik apabila sesuatu yang diajarkan itu bermakna bagi dirinya. Kedua, prinsip prerikweit, yakni anak akan termotivasi mempelajari sesuatu yang baru apabila telah memiliki bakat sebelumnya. Di sinilah arti pentingnya orangtua di rumah untuk membekali anak-anak dengan dasar-dasar moralitas yang baik, yang akan senantiasa terbawa dalam pergaulannya di sekolah. Ketiga, prinsip modelling, yakni anak akan cenderung mengikuti apa yang diajarkan di sekolah manakala hal itu telah dimodelkan oleh guru (performance modelling).

Ketiga, Lingkungan Masyarakat. Masyarakat dapat diartikan sebagai suatu tatanan kehidupan sosial dengan tata nilai dan budaya tertentu. Dalam pengertian seperti ini, masyarakat adalah wadah dan wahana pendidikan. Manusia selalu berada dalam antar hubungan dan antar aksi dalam masyarakatnya. Manusia barulah menunjukkan eksistensinya ketika mampu berinteraksi dengan lingkungan sosial kemasyarakatan dengan baik. Dalam makna inilah tiap pribadi manusia akan selalu terlibat sebagai anggota masyarakat. Mereka akan senantiasa mempelajari realitas sosial dengan mempelajari pola interaksi masyarakat yang ada, apakah akan memberikan dukungan terhadap peningkatan kepribadiannya.

Masalah yang timbul dari kancah pendidikan di dalam masyarakat ialah bagaimana mengatasi dan mengontrol pengaruh-pengaruh negatif yang timbul di dalam masyarakat itu sendiri, atau dengan kata lain bagaimana membina hubungan kerjasama antara ranah keluarga, sekolah, dan masyarakat sehingga semua usaha di tiga lingkungan pendidikan anak itu dapat berjalan selaras, serasi, seta seimbang dan tidak saling bertentangan yang akan cenderung kontra produktif.

Untuk menyelaraskan, mensinkronkan, dan mengoptmaliasikan tiga lingkungan pendidikan anak di atas, dapat diupayakan hal-hal berikut ini : (1) Hendaknya ada kesadaran dan pengertian yang sedalam-dalamnya pada masing-masing pusat pendidikan di atas (keluarga, sekolah, masyarakat)  akan tugas dan kewajiban serta tanggung jawabnya; (2) Perlu adanya kesatuan sikap dan bahasa di antara tiga pusat pendidikan anak dalam membina dan mengembangkan pergaulan dan pendidikan serta norma-norma sosial dan agama pada umumnya; (3)  Masing-masing pusat pendidikan anak hendaknya tidak mensterilkan diri dan menutup mata terhadap segala sesuatu yang terjadi di lingkungan sekitarnya dengan catatan tanpa meninggalkan sikap kritis dan selektif; (4) Perlu dibina hubungan dan kerjasama antara ketiga pusat pendidikan anak itu secara perorangan maupun kelembagaan, seperti Komite Sekolah/Madrasah di sekolah/madrasah, pertemuan rutin penuh kekeluargaan di masyarakat. Konsultasi dan pemecahan masalah secara pribadi maupun bersama-sama melalui forum-forum tersebut akan merupakan jalan keluar yang sebaik-baiknya bagi persoalan yang dihadapi anak di dalam perkembangannya.

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M.Si

Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga.