Ditulis oleh 8:43 am KALAM

“Sintesis Mistik” dan Islami Jawa Dalam Sudut Pandang Nusantara (Bagian 1)

Oleh: Ashad Kusuma Djaya[1]

Sebagai pengantar diskusi ini saya mulai dengan mengutip dan menerjemahkan Serat Sunan Prawata (Raja ke-4 Demak) untuk sedikit mengusik nalar ala Ricklef yang menggelar faham yang disebutnya “Sintesis Mistik” hanya bermula dari Sultan Agung. Berikut diungkapkan Raja Demak ke-4 itu:

Denta ulun salat masjid datan nayun / Punika wong arab / Baliktiyang Jawi / Salat inggih cara Jawi (karenanya sholat saya tak hanya di masjid / Itulah orang Arab / Sedangkan orang Jawa / Salat saya menggunakan cara orang jawa)

Siyang dalu amba samadhi ing kalbu / Ngesti Wisnu Kresna / Tuwin Sang Hyang Sidajati / Ingsun gayuh campur tunggal lawan kita (Siang malam hamba selalu khusyuk dalam kalbu / Mengharapkan Wisnu-Kresna / Serta Sang Hyang Sidajati / Kiranya dapat menyatu dengan MU)

Gih punika amba sebut gama putus / Ran Agama Budha / Tegese anganggep budi / Jatinipun Budha Islam padha uga (Itulah yang hamba sebut sebagai agama terakhir / Disebut juga sebagai Budha / Artinya memuliakan budi pekerti / Maka sesungguhnya Budha adalah Islam)

Sang Hyang Wisnu Arab tegesipun Rasul / Yen Kresna Muhammad / Allah Sang Hyang Sidajati / Mung bedane tembung Arab lawan Jawa (Sang Hyang Wisnu dalam bahasa Arab disebut Rasul / Sedangkan Kresna adalah Muhammad / Allah disebut Sang Hyang Sidajati / Hanya perbedaan antara bahasa Arab dan bahasa Jawa).

Jika kita tidak “gumunan” seperti Ricklef maka saat membaca Serat Sunan Prawata di atas tak akan gaduh untuk mempertentangkan apa yang disebut sholat Arab dan Salat cara orang Jawa. Justru dengan Serat Sunan Prawata di atas maka kita bisa menahami kenapa ada koin mata uang emas (dinar) Majapahit yang di satu sisinya ada tulisan laa ilaaha illallaah muhammad Rasulullah dan sisi sebaliknya bergambar Semar dan Kresna. Dua sisi mata uang koin Majapahit itu pada dasamya sama, di sisi yang satu menyebut laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullaah dengan huruf arab dan di sisi sebaliknya menunjukkan simbol Rasulullah dalam bahasa simbol Jawa, Lalu, apa maksud gambar Semar? Sebutan Semar itu adalah Badranaya yang berasal dari kata Bebadra = membangun sarana dari dasar, dan Naya = Nayaka = utusan mengrasul. Sehingga secara filosofis arti dari Badranaya itu adalah mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia, atau dengan istilah lain sebagai rahmatan lil ‘alamin. Sedang Semar berasal dari kata Sa Ma Ra atau As Ma Ra yang artinya si-pecinta. Oleh karena itu si pembawa rahmat juga si pecinta. Maka gambar Kresna dan Semar bermakna Muhammad penebar rahmat juga cinta.

Jika ditarik Iebih jauh lagi maka berdasarkan Serat Sunan Prawata di atas maka saya membaca artefak masa Airlangga yang sering disebut dengan Garuda Wisnu Kencana seungguhnya adalah cara medium orang Jawa menceritakan pada khalayak dan anak keturunannya tentang peristiwa lsra Mikraj. Dengan bacaan ini saya tidak merasa perlu keberatan pada saudara-saudara kita yang beragama Hindu yang mereka meyakini itu simbol agama mereka. Termasuk kemudian pada tahun 1989 diusahakan membuat tiruannya versi Hindu secara raksasa di Bali, dimulai tahun 1990, diizinkan proyeknya oleh Presiden Soeharto tahun 1993, dan walaupun sempat terhenti karena krisis moncter tahun 1998 bisa dikatakan selesai talun 2018.

Setelah momahami Serat Sunan Prawata itu saya pun menjadi bisa membuka kunci Kakawin Nagara Kertagama yang disangka kitab Hindhu bahwa berdasar tahun penulisannya yang saya temukan pada Pupuh ke-94 Padha (Bait) ke-3 Gatra (Baris ke-2 da 4 yaitu dimulai tahun 1512 Saka (1590 M) dan diakhiri tahun 1513 Saka (1591 M) maka saya tahu yang disebutkan sebagai  Giri Natha dalam kitab itu ialah junjungan Sunan Parwata (Parwata Natha) yaitu Sunan Giri Prapen[2]. Lebih jauh lagi saya bisa memahami berbagai perwatakan wayang Jawa, makna patung-patung di berbagai Candi, bahkan termasuk adanya artefak patung anjing di kaki mimbar kuno Masjid Agung Kotagode. Semua artefak itu saya pandang adalah bagian dari keagamaan yang dalam bahasa Ricklef disebut dengan “Sintesis Mistik”. Dan dengan itu semua saya ingin menyanyaikan semua itu bukan hanya sejak Sultan Agung.

Perlu saya sampaikan bahwa sikap saya memahami artefak asli Jawa yang selama ini dibaca sebagai artefak Hindu itu bukanlah penyimpangan dalam logika budaya Jawa. Sebagaimana pujangga Jawa pendahulu kita eyang Ranggawarsita yang menulis Kitab Paramayoga yang berisi asal-usul orang Jawa dari sejak Nabi Adam menyiratkan bahwa orang Jawa itu tidak pernah tidak Islam. Demikian pula jika ditarik lebih jauh ke Eyang Jayabaya dengan kitab Jangka-nya yang menyatakan bahwa mula pertama yang datang ke Nuswantara adalah para utusan Gusti Kanjeng Nabi Ibrahim (sekitar 3500 SM). Dan pandangan Eyang Jayabaya itu pun sesungguhuya sejalan dengan Prasasti-prasasti Kutai Tarumanegara dan Kutai.

Dalam prasasti Kutai disebutkan Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi. Demikian juga dalam prasasti Tugu pada masa Tarumanegara disebutkan Raja Purnawarman kenduri (selamatan) dengan menyembelih 1000 sapi. Penyembelihan sapi itu mengingatkan kita pada tradisi Qurban yang diajarkan Nabi Ibrahim dan dilaksanakan umat Islam hingga sekarang pada hari raya Idul Qurban. Tradisi menyembelih sapi pasti bukan tradisi Hindu. Bagi Agama Hindu sapi merupakan hewan suci dan keramat sehingga penyembelihan sapi dilarang. Penyembelihan sapi adalah tradisi agama Abrahamik.[3]

Penyematan tapak kaki pada prasasti-prasasti Kerajaan Tarumanegara lebih menegaskan keberadaan jejak pengikut Nabi Ibrahim. Tradisi menyematkan tapak kaki pada batu atau prasasti adalah tradisi simbol Abarahamik seperti terlihat dalam Maqam Ibrahim. Umat Islam yang berhaji selalu berjumpa dengan simbol telapak kaki Nabi Ibrahim ini di sekitar Ka’bah di Mekkah.

Namun periodesasi sejarah yang dibuat kolonial menolak adanya kebudayaan Jawa yang disebutkan eyang Jayabaya telah ada sejak umatnya Nabi Ibrahim (kurang lebih 3500 SM). Meskipun Prarasati-prasasti Kutai dan Tarumanegara tidak berangka tahun namun berdasar huruf yang dipakainya para sejarahwan kolonial menyimpulkan bahwa itu dibuat pada abad ke-5. Alasannya adalah huruf pallawa itu digunakan di India pada abad ke-5. Para sejarawan kolonial tidak membolehkan sudut pandang yang melihat kalau huruf itu sudah sangat lama digunakan di Nusantara dan baru digunakan di India abad ke-5. Mereka tidak mau melihat bagaimana posisi nenek moyang nuswantara yang begitu dihormati dunia sebagaimana digambarkan pada relief Candi Cetho dan Penataran. Oleh para sejarahwan kolonial itu kitapun dipaksa mempercayai kalau Candi Cetho dan Candi Penataran dibuat pada masa Majapahit.

Bersambung ke bagian ke-2


*Disampaikan dalam diskusi buku Yayasan Abdurrahman Baswedan dengan judu buku Mengislamkan Jawa, Karya M.C. Ricklefs, Jum’at, 3 Januari 2020, di Sekretariat Yayasan Abdurrahman Baswedan.

[1] Gerilyawan Literasi

[2] Saya uraikan tahun penulisan ini dalam buku saya berjudul “Gadjahmada dan Kasultanan Majapahit” pada bagian lampiran 3 berjudul “Membaca Candrasengkala Dalam Negara Krtagama”.

[3] Di sebagian daerah di Bali mempraktekkan juga pengorbanan Sapi berbeda dengan India yang melarang penyembelihan Sapi justru menunjukkan sesungguhnya membenarkan telah adanya pengaruh Islam di Bali lewat Sunan Giri sebagaimana Babad Lombok dan catatan Portugis.

(Visited 268 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 3 Februari 2020
Close