“Sintesis Mistik” dan Islami Jawa Dalam Sudut Pandang Nusantara (Bagian 2-Terakhir)

WhatsApp Image 2020-01-06 at 16.03.56

Oleh: Ashad Kusuma Djaya[1]

Pandangan sejarahwan kolonial ini akan terasa sekali biasnya jika dikaitkan dengan temuan-temuan artefak yang disangka dari masa megalitikum. Berseraknya artefak pra Masehi yang sedemikian banyak di Nuswantara, ketika dihadapkan dengan prasangka kolonial itu maka selesai dengan jawaban itu mewakili zaman megalitikum. Alhasil ketika Eropa pada 3500 sampai di 2300 tahun sebelum masehi sudah ada kebudayaan Minos kuno, seakan-akan di Nuswantara ini baru ada peradaban saat Kutai pada abad ke-5 masehi. Artelak-artefak yang berserak di Nuswantara yang berasal dari beberapa abad sebelum masehi, cukup disebut mewakili zaman batu besar. Sedemikian hebatnya kebudayaan Eropa dalam periodesasi sejarah yang dibuat kaum kolonial.

Baca Juga: “Sintesis Mistik” dan Islami Jawa Dalam Sudut Pandang Nusantara (Bagian 1)

Meskipun saya sesungguhnya kurang setuju dengan istilah “Sintesisme Mistik” ini tapi dalam konteks kritik periodesasi sejarah Nusantara cukup berguna untuk membongkar kesalahan logika indianisasi nusantara. Angka tahun 1930 yang diambil oleh Ricklef seakan memberi kunci untuk membuka kembali kejayaan Nusantara yang hingga hari ini kita terpaksa melihatya seakan turunan budaya India. Saya telah menulis secara lengkap lahirnya cara pandang Indianisasi sejak diperkenalkan oleh Rafless dan menjadi suatu yang digemari setelah tahun 1830, seabad sebehum 1930 yaitu paska Perang Jawa, namun akan terlalu panjang untuk saya tuliskan di sini.

Monumen Indianisasi yang paling bisa kita lihat adalah Candi Prambanan yang dibaca secara India melalui Prasasti Siwagraha. Puing-puing Candi Prambanan sebenarnya sejak lama diketahui. Namun hingga sampai akhir abad 19, puing-puing itu tidak lebih dari sekedar tumpukan batu dan bukit kecil yang ditumbuhi semak belukar. Padahal puing-puing tersebut sudah sering dikunjungi dan sebagaiannya dibersihkan guna memudahkan kajian serta penyelidikan yang lebih seksama.[1] Tahun 1885 Ijzerman berusaha membuat penataan tertentu atas kompleks candi Lorojonggrang (Prambanan). Bongkahan-bongkah batu yang ambruk ke bilik-bilik candi dipindahkan. la tidak bermaksud mengadakan pemugaran dalam bentuk apapun, demikian pula Groneman yang tidak lama dari itu memindahkan semua puing yang ambruk di sekitar tumpukan itu dan mengumpulkannya ke sebuah tumpukan besar. Apa yang dilakukan itu dikemudian hari membuat Brandes terkejut karena harapan Brandes akan kemungkinan pemugaran menjadi berantakan seluruhnya.

Namun akhimya Candi Prambanan disusun juga meskipun tanpa ada panduan penyusunannya sama sekali. Dalam pembangunannya dimasukannya patung Siwa di tengah bangunan Candi dengan cara bacaan India atas prasasti Siwaghra yang diartikan rumah Siswa. Dalam prasasti itu Raja membangun Siwagraha sampai memindahkan aliran sungai demi keperluan pembangunannya. Dalam istilah jawa kuno kata Siwa berarti juga kemakmuran atau kesejahteraan, sehingga seseungguhnya bisa dibaca bahwa yang dibangun oleh Raja pada masa Kerajaan Medang itu adalah rumah kesejahteraan atau kemakmuran rakyat dengan cara mengubah aliran sungai di kerajaan yang hampir semua rakyatnya bercocok tanam itu. Namun sejarahwan kolonial sepertinya tak ingin menampilkan bahwa leluhur Jawa begitu memperhatikan kemakmuran rakyat.

Dalam Candi-candi yang ditemukan lumayan utuh di sekitar candi wilayah DIY hampir selalu ditemukan ditengah Candi adalah Lingga Yoni yang sesungguhnya dalam filosofi masyarakat Jawa simbol manunggaling kawula gusti sebagaimana di Kasultanan Ngayogyakarta kemudian dibentuk menjadi tugu golong gilig. Inti simbol Lingga Yoni dalam “Sintesis Mistik” adalah semangat kepemimpinan yang bertanggungjawab pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang disimbolkan dengan Songgobuwono kura-kura menaiki naga. Adapun lingga dan Yoni sendiri adalah simbol Ketuhanan Yang Maha Esa dan semangat gotong Royong.

Pada Candi-candi yang ditemukan di sekitar DIY, di luar bangunan utama terdapat arca-arca simbol ilmu pengetahuan, yaitu Agastya (Bathara Guru), Ganesha dan Durga Mahesa Sura Mardini yang semuanya menggambarkan betapa leluhur Jawa itu sangat mementingkan ilmu pengetahuan untuk menopang kekuasaannya. Mengelilingi candi dan bertemu arca-arca itu secara pradaksina (searah jarum jam) akan menemukan konsep Satria Pinantia sedang mengelilingi candi bertemu arca-arca itu secara prasawirya (berlawanan arah jarum jam) akan menenemukan konsep Pandita Sinatria. Lalu setelah mengelilingi Candi ketika akan masuk ke bangunan utama maka akan ketemu dengan dengan Nandiswara di sebelah kanan pintu masuk dan Mahakala di sebelah kiri pintu masuk yang merupakan simbol pengetahuan dimensi ruang dan waktu sebelum masuk bertemu Manunggaling Kawula Gusti dalam Lingga Yoni. Semua itu tak bisa diterima oleh sudut pandang India.

Paham Indianianisasi ini sesungguhnya juga mendapat penolakan dari para intelektual Nusantara. Denis Lombard (1996) menyebutkan sebelum tahun 1942 sudah ada beberapa orang yang menentang paham “indianisasi”. Sutan Takdir Alisyabana, seperti halnya Soekarno, tidak mau menerima gagasan negara-negara yang mengalami Indianisasi ini.[2] Namun kuatnya hegemoni pandangan kolonial dalam keilmuan arkeologi menjadikan faham indianisasi ini menjadi seakan sulit ditolak saat membaca artefak-aretaf yang disebut pra-Islam.

Sebagai contoh pandangan Edi Sedyawati dkk (2013) tentang hubungan Candi-candi di Jawa dengan Kitab Vastusastra. Menurut Edi Sedyawati dkk Kitab tentang tata bangunan / tata ruang dari India itu sering digunakan untuk memahami bangunan candi di Nuswantara. Mereka melihat simbolisasi dan visualisasi yang ada dalam Kitab Vastusastra itu, dikenal pula dalam candi-candi di Jawa, meski dikatakan tidak ada satupun candi di Jawa yang sama persis dengan kuil di India. Mereka itu beralasan hal tersebut karena kepandaian seniman (silpin) Jawa Kuno “meramu” berbagai kesenian India menjadi suatu kreasi baru yang unik.[3] Padahal nyatanya tidak ada satupun data yang menyebutkan pernah ditemukannya naskah Kitab Vastusastra di Nuswantara ini. Naskah Kitab Vastusastra tersebut tidak permah ditemukan di Nuswantara dan tidak ada satupun candi di Jawa yang sama persis dengan kuil di India, tapi tetap saja dipaksakan teori indianisasi ini. Dan itu dalam kebijakan kolonial dimulai sekitar tahun 1830 atau berakhimya perang Jawa.

Secara pribadi melalui Ricklef saya mencatat kelahiran dikotomi Santri-Abangan dan juga Priyayi adalah setelah lahirnya Politik Tanam Paksa. Saya mengingatkan kelahiran PKI berasal dari penetrasi kaum kiri hasil didikan Belanda ke dalam Sarekat Islam. Saya juga mengingatkan bahwa penulisan Serat Siti Jenar baru dilakukan tahun 1922 yang digubah dari karya Sunan Giri Prapen. Dengan demikian hal ini bisa menjadi catatan sebelum mencebur dalam logika Ricklef tentang Islamisasi Jawa dan para penentangnya. Semua itu mengingatkan pesan Ranggawarsita bahwa nanti cara berpikir eropa dan Nusantara akan berjodoh: Wong Jawa kari separo, Wong Londo kari sakjodo, Wong Cino Gela-gelo.


*Disampaikan dalam diskusi buku Yayasan Abdurrahman Baswedan dengan judu buku Mengislamkan Jawa, Karya M.C. Ricklefs, Jum’at, 3 Januari 2020, di Sekretariat Yayasan Abdurrahman Baswedan.

[1] Diambil dari Tulisan Van Romondt (1940) yang diterbikan pertama kali dalam Djawa 20, dan ini saya kutip dari Jordan, Roy (ed). 2009. Memuji Prambanan. Jakarta: KTILV bekerjasama dengan Yayasan Obor.

[2] Dalam buku “Nusa Jawa Silang Budaya 3.

[3] Sedyawati, Edi, dkk. 2013. Candi Indonesia: Seri Jawa. Jakarta: Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close