“Social Distancing” Saat Sakit, Hal yang Biasa bagi Kelelawar Vampir

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Di alam liar, kelelawar vampir ini, yang merupakan hewan sosial, menjaga jarak mereka ketika mereka sedang sakit atau ketika teman dalam sarang yang sama sedang sakit.

Dalam sebuah studi terbaru, ditunjukkan bahwa saat kelelawar vampir sakit, mereka akan menjauhkan diri dari kelompok dalam sarang mereka, tanpa perlu menggunakan arahan atau bantuan.

Para peneliti studi tersebut memberikan kelelawar vampir liar dengan suatu zat yang akan mengaktifkan sistem imun mereka dan menyebabkan mereka merasa sakit selama beberapa jam, kemudian mereka mengembalikan kelelawar tersebut kembali ke sarang mereka.

Data dari perilaku kelelawar ini ditransmisikan pada para peneliti dari “tas” komputer khusus yang ditempelkan pada punggung kelelawar guna merekam interaksi sosial kelelawar tersebut.

Bila dibandingkan dengan kelelawar lainnya di dalam sarang mereka di pohon berongga, kelelawar yang sakit berinteraksi dengan lebih sedikit kelelawar dan menghabiskan waktu yang lebih sedikit di dekat kelelawar yang lain. Secara keseluruhan mereka yang sakit menjadi kurang interaktif dengan kawanannya yang terkoneksi dengan baik. Data studi juga menunjukkan kelelawar yang sehat juga tidak banyak berinteraksi dengan mereka yang sakit.

Simon Ripperger, peneliti postdoctoral di bidang evolusi, ekologi, dan biologi organisme di Ohio State University yang merupakan salah satu penulis utama studi mengatakan bahwa melakukan social distancing saat pandemi COVID-19 ketika kita merasa sehat tentu terasa tidak terlalu normal. Namun ketika kita sedang sakit, wajar bagi kita untuk lebih menahan diri dan tinggal di rumah untuk mengistirahatkan diri kita. Ini menyebabkan berkurangnya interaksi dengan orang lain.

Hal inilah yang juga diamati dalam studi tersebut. Di alam liar, kelelawar vampir ini, yang merupakan hewan sosial, menjaga jarak mereka ketika mereka sedang sakit atau ketika teman dalam sarang yang sama sedang sakit. Dapat pula diduga bahwa tindakan ini mengurangi penyebaran penyakit.

Studi tersebut telah dipublikasikan pada 27 Oktober yang lalu di jurnal Behavioral Ecology. Dalam studi, Ripperger bekerja di lab salah satu penulis utama studi, Gerald Carter, asisten profesor evolusi, ekologi dan biologi organisme di Ohio State. Keduanya juga dibantu oleh lulusan University of Texas di Austin Sebastian Stockmaier, dimana mereka bertiga tergabung juga dalam Smithsonian Tropical Research Institute di Panama.

Carter dan Ripperger telah bekerja sama dalam banyak studi mengenai perilaku sosial kelelawar vampir. Temuan mereka di antaranya adalah: kelelawar vampir berteman melalui pembangunan kepercayaan antar satu sama lain, dan ibu kelelawar vampir tetap menjaga koneksi sosial mereka dengan anak-anak mereka bahkan ketika anak-anak tersebut sakit.

Untuk studi ini, para peneliti menangkap 31 kelelawar vampr betina yang hidup dalam pohon kosong di Lamanai, Belize. Mereka kemudia menyuntikkan 16 kelelawar dengan molekul yang memicu sistem imun mereka, namun tidak menyebabkan mereka sakit, dan 15 kelelawar lainnya diberikan placebo atau larutan yang berbahaya.

Setelah kelelawar-kelelawar tersebut dikembalikan ke sarang mereka, para peneliti menganalisa perilaku sosial di dalam koloni tersebut selama tiga hari, yang di dalamnya termasuk “treatment period” dari tiga hingga sembilan jam setelah disuntik dimana para peneliti menghubungkan perubahan perilaku dengan efek dari kelelawar yang dirawat merasa sakit.

Carter dan peneliti lainnya memfokuskan pada tiga pengukuran dari perilaku kelelawar yang sakit, yakni berapa banyak kelelawar yang mereka temui, berapa total waktu yang mereka habiskan dengan kelelawar lain dan seberapa terhubungnya mereka dengan seluruh jaringan sosial yang ada dalam sarang.

Rata-rata, jika dibandingkan dengan kelelawar yang terkontrol, kelelawar yang sakit lebih sedikit berhubungan dengan teman-teman satu sarang mereka selama enam jam periode perawatan dan menghabiskan kurang dari 25 menit lebih berinteraksi per kelelawar, dan waktu yang dihabiskan dua kelelawar berdekatan satu sama lain adalah yang terpendek jika pertemuan tersebut melibatkan setidaknya satu kelelawar sakit.

Carter beranggapan bahwa salah satu alasan mengapa kelelawar vampir yang sakit lebih sedikit bertemu dengan teman mereka dalam satu sarang adalah karena mereka lesu dan tidak bergerak banyak. Di dalam penangkaran, para peneliti mengamati bahwa kelelawar yang sakit juga kurang berinteraksi dengan kelelawar lain dan membuat lebih sedikit panggilan kontak. Perubahan sederhana dalam perilaku ini dapat menciptakan social distance tanpa dibutuhkannya kerja sama atau suatu penghindaran oleh kelelawar yang sehat. Studi ini sebelumnya pernah dilakukan oleh para peneliti di lab. Tujuan studi terbaru ini adalah untuk mengukur hasil dari perilaku penyakit ini dalam suasana yang alami di luar lab.

Dirinya menambahkan bahwa efek yang ditunjukkan di studi tersebut mungkin umum terjadi pada banyak hewan lain. Tetapi penting untuk diingat bahwa perubahan perilaku juga bergantung pada patogen. Untuk studi ini para peneliti tidak menggunakan virus atau bakteri yang sebenarnya, oleh karena mereka ingin mengisolasi efek perilaku penyakit. Beberapa penyakit nyata mungkin membuat lebih banyak interaksi, tidak berkurang, atau mungkin menyebabkan kelelawar yang sakit tersebut dihindari.

Meskipun studi tersebut tidak mendokumentasikan penyebaran penyakit yang sebenarnya, dengan menggabungkan data pertemuan sosial dengan hubungan yang diketahui antara waktu paparan dan penularan patogen memungkinkan para peneliti untuk memprediksi bagaimana perilaku mereka yang sakit dapat memengaruhi penyebaran patogen di jaringan sosial.

Identifikasi yang jelas mengenai perilaku setiap kelelawar di jaringan sosial koloni kelelawar hanya mungkin karena sensor jarak, yakni komputer mini yang beratnya kurang dari satu penny dan akan lepas dari kelelawar dalam satu atau dua minggu, mengambil pengukuran setiap beberapa detik dari asosiasi yang melibatkan kelelawar yang sakit atau sehat atau kombinasi keduanya. Visualisasi rekaman sensor jarak tersebut menunjukkan pertumbuhan jumlah koneksi yang dibuat di jaringan sosial koloni dari periode perawatan hingga 48 jam kemudian.

Ripperger mengatakan bahwa sensor jarak memberi para peneliti sebuah jendela baru yang menakjubkan tentang bagaimana perilaku sosial kelelawar tersebut berubah dari jam ke jam dan bahkan menit ke menit selama siang dan malam, bahkan saat mereka bersembunyi di kegelapan pohon berongga. Studi tersebut didukung oleh German Research Foundation dan National Geographic Society Research Grant.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Ohio State University. Naskah pertama kali ditulis oleh Emily Caldwell. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti