Ditulis oleh 9:48 am COVID-19

Solidaritas di Tengah Pandemi, Tonggak Kebangkitan Negeri

Sekarang bukan saatnya untuk menyerah, kalah dan pasrah, tapi momentum untuk bangkit, berdiri, berlari.

Saat ini, pandemi global corona telah menyebar lebih dari 120 negara terutama China dan WHO telah menetapkannya sejak 11 Maret 2020 lalu. Bermula dari China, selanjutnya lebih dari sepertiga kasus COVID-19 berada di luar China, dan eropa kemudian menjadi episentrum baru corona. Bahkan 1 Februari 2020 Amerika Serikat menyatakan wabah pandemi global corona sebagai darurat kesehatan masyarakat, dan untuk sementara melarang perjalanan dari negara-negara eropa ke AS.

Sementara Indonesia kasus ini baru mulai muncul berdasarkan data semenjak 2 Maret 2020 dengan ditemukannya 2 kasus sekaligus. Meningkatnya angka penderita covid 19 ini kemudian direspon leh berbagai daerah termasuk DIY. 17 Maret 2020, SK Gubernur DIY No.65 tahun 2020 tentang penetapan Status tanggap darurat bencna corona virus desease (COVID-19) di DIY. DIY status tanggap darurat COVID -19 mulai tanggal 20 Maret 2020 hingga 29 Mei 2020 yang ditunjukkan dengan SE Gubernur tentang status tanggap darurat Bencana Covid-19 di DIY. 30 Maret 2020 Presiden Joko Widodo menetapkan darurat sipil dalam penanganan kasus COVID-19 di Indonesia. Status tersebut diterapkan untuk membuat kebijakan pembatasan sosial atau phisical distancing skala besar lebih efektif untuk memutus rantai penularan corona di Indonesia. Mari melihat kondisi kita saat ini.

Update terakhir, 18 Mei 2020 data kasus corona memalui situs resmi pemerintah www.covid19.go.id menunjukkan 18.010 angka positif, naik sekitar 496 orang. Kurva munculnya kasus masih menunjukkan angka yang semakin meninggi, pun demikian tingkat kesembuhan dan tingkat kematian. Indonesia masih menduduki rangking ke-4 tingkat kematian akibat corona. Tingginya angka kematian ini kemudian menjadi keprihatinan kita bersama. Kampanye dilakukan untuk mensosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat. Protokol kesehatan juga menjadi penting tidak saja di klinik dan RS yang ditunjuk untuk penanganan COVID-19 namun juga untuk seluruh RS. Hal ini terjadi karena ternyata banyak tenaga kesehatan yang turut terpapar virus ini dan di duga karena berhubungan dengan pasien yang terpapar corona, baik itu positif, PDP, ODP dan OTG corona virus.

Sementara di bidang ekonomi, kebijakan bekerja di rumah, sekolah dirumah ternyata berimbas besar kepada sektor informal. Banyak warung dan cafe tutup karena kehilangan pelanggan. Tidak hanya sektor informal bahkan mall dan pabrik juga terimbas, mall yang sepi pembeli dan pabrik yang berhenti beroperasi. Hal ini menimbulkan permasalahan tersendiri bagi perusahaan, roda ekonomi tidak berjalan, gelombang PHK menjadi bertambah besar. Dampak lain adalah wisata, lockdown di mana-mana, kampanye besar-besaran di rumah saja tentu ini sangat berimbas besar bagi industri pariwisata. Hampir seluruh tempat wisata ditutup dan tentu saja seluruh elemen yang bergantung padanya. Toko-toko souvenir, jajanan khas daerah bahkan perhotelan dan transportasi juga nyaris tiada daya. Semua lumpuh akibat berbagai kebijakan pembatasan sosial besar-besaran yang diselenggarakan beberapa kota. Dapat dibayangkan berapa insan wisata yang terdampak langsung maupun tidak langsung akibat corona. Banyak orang tidak berpenghasilan yang sering digemborkan dengan “ODP” bukan orang dalam pengawasan namun Orang nDak Punya penghasilan. Guyonan ini menjadi memilukan saat memikirkan bagaimana dengan keluarganya sementara kebutuhan riil akan pangan dan keseharian jelas nyata. Rasanya tidak sanggup membayangkan ada orang yang tidak dapat makan saat ini.

Bagaimana dengan kondisi lingkup rumah tangga saat pandemi

Masa pandemi menjadi masa yang baru untuk kita semua. Kebijakan  pemerintah untuk Work From Home (WFH), School From Home (SFH) diterapkan dalam rangka social distancing semenjak virus bernama corona masuk negara. Virus ini sedikit banyak merusak banyak tatanan berbangsa dan bernegara dari berbagai aspek. WFH juga menjadi menarik ketika seorang ayah yang jarang terlihat wajahnya oleh anak sekarang bersama keluarga selama 24 jam entah kali berapa lama.

Tidak hanya pemerintah yang gagap akan kondisi saat ini, masyarakat juga tidak siap menghadapi kondisi yang serba tidak terduga. Kebijakan memberlakukan sekolah dari rumah, dimana sekolah mengadakan aktifitas belajar mengajar dari rumah. Anak-anak tidak diperkenankan belajar di sekolah. Sungguh ini suatu hal yang baru, baik bagi guru maupun bagi anak-anak juga orang tua. Sistem belajar mengajar yang biasa dilakukan secara langsung tatap muka antara guru dan murid kemudian digantikan dengan model daring, jarak jauh, tidak bertatap muka secara langsung, menggunakan teknologi dan beberapa aplikasi. Kebijakan ini pada awalnya sangat berat bagi orang tua dimana kebanyakan orang tua telah sangat percaya untuk menitipkan pengajaran anak-anaknya kepada sekolah, sementara meraka dapat beraktifitas secara produktif untuk menopang dapur dan ekonomi keluarga. Beban tersendiri bagi orang tua dengan anak masih sekolah di masa corona. Orang tua tetap harus bekerja sekaligus mengajar anak-anak setidaknya menemani dan mengawasi anak-anak dalam belajar.

Bagi kebanyakan laki-laki yang hanya mengenal kerja kerja dan kerja saat ini harus berbagi ruang dan waktu bersama keluarga. Tentu tidak mudah bagi para Bapak ini untuk melakukannya, beberapa mengeluh karena sangat sulit bekerja dengan suasana rumah dengan semua fenomenanya. Bagaimana dengan perempuan? Perempuan mendapati beban domestik berlapis. Beberapa cerita saat pandemi menjadi sangat menarik, saat bapak dan ibu sama sama bekerja. Bagaimana pembagian waktu dan model saat menggabungkan sekolah dari rumah dan bekerja dari rumah. Saat Bapak, laki-laki, berkerja dia cukup mengambil satu sisi di rumah untuk kemudian dapat bekerja sesuai dengan kebutuhannya. Hal ini tentu saja berbeda dengan perempuan. Ketika seorang ibu bekerja dari rumah, dengan anak masih sekolah ini cukup menjadi dilema. Perempuan dapat bekerja dengan baik setelah semua kebutuhan rumah tangga terpenuhi, pengajaran untuk anak terjamin, rumah bersih dan rapi. Dan seringkali saat bekerja pun karena keterbatasan gadget maka perempun pendidikan anak tetap yang utama.

Pelaksanaan sekolah dari rumah adalah juga menemui kendala saat perempuan harus menggunakan teknologi untuk model belajar anaknya. Sebagian besar familiar dengan grup whatsapp yang saat ini menjadi komunikasi utama. Namun beberapa tugas sekolah dengan model jarak jauh cukup menyulitkannya karena menggunakan aplikasi yang berbeda. Memang smartphone hampir semua punya, akan tetapi penggunaan hanya sebatas komunikasi, tidak untuk berbagai aplikasi untuk kepentingan edukasi. Disini perempuan kemudian belajar bagaimana memenuhi kebutuhan untuk mendukung putra putrinya untuk tetap belajar dan bersekolah. Disinilah perempuan selain sebagai ibu juga sebagai guru, mentransfer pengetahuan yang mestinya menjadi tugas guru dengan hanyak berpedoman pada buku paket. Beruntung untuk ibu muda yang sedikit melek teknologi bisa menggunakan gadget untuk mendukung upaya pengajaran putra putrinya. Upaya ini sungguh tidak mudah karena dilakukan untuk jangka waktu yang cukup lama dan tentu saja hanya di rumah saja. Setelah semua selesai maka perempuan dapat melakukan aktifitas ekonomi atau yang lainnya.

Selain itu, kebutuhan akan pangan juga meningkat, karena seluruh anggota keluarga berada di rumah. Kebutuhan makan dan camilan menjadi lebih banyak maka perempuan menjadi garda depan dalam penyediaannya. Banyak perempuan yang kemudian belajar banyak untuk memasak yang istimewa sekaligus untuk media belajar bersama anak-anak. Disini setiap ibu mesti berjuang lebih keras demi mencukupi kebutuhan keluarga dengan pendapatan biasa saja atau justru berkurang karena suami PHK.

Semua orang tua mengalami hal yang sama, mengeluarkan semua jurus terbaiknya untuk membuat kurikulum di rumah dan membunuh bosan keluara yang sering melanda. Masa pandemi ini memang jadi berbeda. Karena pendidikan dilakukan murni di rumah, tidak bisa mencampurnya dengan kegiatan menyenangkan di luar rumah piknik atau tamasya yang bisa kita lakukan saat liburan tiba. Sebuah tantangan nyata bagi orang tua, membuat rumah menjadi surga.

Namun, beberapa kenyataan sedikit berbeda, BBC NEWS Indonesia menuliskan dampak sosial yang berlipat ganda terhadap perempuan saat Corona. Kebijakan pembatasan sosial selama pandemi menjadi kontraproduktif bagi KDRT terhadap perempuan. Kementrian PPPA mencatat 2 Maret – April 2020 mencapai 275 kasus di sejumlah daerah di Indonesia. Angka ini menunjukkan rumah yang tidak lagi aman bagi sebagian perempuan dan anak saat pandemi. Bahkan di Yogyakarta Rifka Annisa menyebutkan kenaikan angka KDRT mencapai 100% selama kuartal pertama 2020. Sungguh ini menjadi tantangan tersendiri bagi para perempuan. Saat  yang tercipta rumah bukanlah surga tapi bagi neraka bagi mereka. Sangat memprihatinkan kita semua.

Gelombang Kemanusiaan di tengah badai corona

Seperti yang kita ketahui bersama, merebaknya virus corona disertai banyak kematian tenaga kesehatan di awal menyebabkan keprihatian bersama. Terpaparnya para tenaga kesehatan ini diduga berawal dari minimnya Alat Pelindung Diri (APD) yang seharusnya menjadi prosedur utama dalam penanganan covid-19. Pembelian masker karena panic buying masyarakat menyebabkan ketersediaan masker untuk tenaga medis yang sangat membutuhkan karena berhadapan langsung dengan penderita semakin langka. Persoalan berikutnya adalah tersedia masker namun dengan harga yang berlipat dan tentu saja melebihi plafon anggaran yang sudah ada. Tentu ini secara teknis menyulitkan untuk memenuhi kebutuhan nyata para tenaga medis yang siap bertaruh nyawa. Para nakes menggunakan APD seadanya dan beberapa terekspos media. Hal ini menimbulkan solidaritas di kalangan masyarakat untuk membantu dalam penyediaan APD untuk para nakes, baik itu baju hazmat, face shield, masker dan yang lain. Penggalangan dana untuk penyediaan APD ini terus dilakukan dan terus mengalir, persoalan selanjutnya adalah pengadaan APD yang sulit di dapat.

Gayung bersambut, beberapa UKM yang mulai collapse menyediakan diri untuk membuat APD tentu dengan standar medis yang ada. Beberapa UKM memutuskan untuk melalukan hal yang sama untuk bertahan di masa corona, ada yang membuat masker dengan kain, ada yang membuat baju hazmat, ada yang membuat face shield dsb membuat mereka sedikit lebih panjang usia. Kondisi ini cukup membantu para tenaga medis dengan banyaknya bantuan dari berbagai pihak untuk pengadaan APD. Di tengah penanganan covid-19 ini terus digaungkan kampanye untuk social distancing. yang kemudian dibarengi dengan kebijakan bekerja dari rumah dan sekolah dari rumah untuk memutus rantai penularan covid-19 yang bertumbuh seperti bilangan eksponensial.

Ambruknya ekonomi menyebabkan banyak korban PHK. Hal ini menarik gelombang solidaritas yang cukup mengejutkan, diawali dari berbagai hal kecil memunculkan banyak gerakan untuk saling menguatkan. Beberapa yang dapat saya sebutkan antara lain gerakan donasi masker dengan bekerja sama dengan beberapa ukm atau penjahit lokal, dengan demikian kebutuhan akan masker terpenuhi dan para penjahit dapat tegak berdiri. Selain itu gerakan “CANTELAN” dengan mencantelkan makanan, sayuran, atau apapun yang disumbangkan dan mempersilahkan bagi siapapun yang membutuhkan. Gerakan ini diinsiasi oleh seorang ibu yang ingin berkontribusi secara nyata dan sederhana dan mendaptkan respon dan duplikasi yang luar biasa. Dari sebuah desa di Sleman, Ibu Ardiati memulai dan menjalar ke berbagai daerah dengan segala caranya.

Disamping itu jihad pangan untuk level rumah tangga hingga komunitas juga menjadi salah satu strategi yang patut dipertimbangkan. Selain dapat menjadi salah sau kegiatan favorit keluarga juga menjadi upaya untuk memenuhi beberapa kebutuhan pangan rumah tangga. Tanamlah yang dimakan, makanlah yang ditanam. Ini pesan sederhana yang menurut saya cukup mengena di tengah pandemi corona. Beberapa praktek baik dengan memanfaatkan lahan sempit untuk mendukung ketersedian pangan keluarga menjadi salah satu favorit kegiatan di masa corona. Kegiatan ini banyak dilakukan masyarakat terdampak baik secara personal maupun komunal. Semua dimaksudkan untuk menjaga aman tetap aman.

Disamping itu jihad pangan untuk level rumah tangga hingga komunitas juga menjadi salah satu strategi yang patut dipertimbangkan.

Gelombang solidaritas dan kemanusiaan semakin besar kala di dukung oleh berbagai kalangan artis fenomenal yang sedang viral seperti almarhum Didi Kempot dengan sobat ambyarnya. Dalam sekali konser mampu mengumpulkan dana lebih dari 7 Milyar dan disumbangkan seluruhnya untuk penanganan covid 19 di Indonesia. Selain itu muncul aksi-aksi lain dari para seniman untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuannya. Termasuk berbagai macam karya yang didedikasikan untuk melewati dan menyingkirkan Corona.

Politisi dan Partai Politik pun tidak mati gaya. Berbagai upaya untuk melakukan aksi sosial untuk berkontribusi nyata di tengah agenda-agenda politik yang tentu saja tertunda. Hampir semua partai politik besar melibatkan diri dari berbagai aksi sosial yang tentu saja terekspos di media sebagai sarana kampanye bagi partainya.

Solidaritas lain muncul dari berbagai komunitas dalam berbagai aksi kemanusiaannya. Tak kalah penting adalah aksi para warga desa dalam menjaga banyak posko di daerahnya yang tak kenal waktu dan usia. Desa menjadi basis pertahanan akhir saat pandemi corona. Posko didukung oleh seluruh warga dalam mencukupi kebutuhan para penjaga dan kelengkapannya dengan pengetahuan masyarakat tentunya. Dapat dibayangkan berapa banyak sumbangan masyarakat baik dalam bentuk dana, makanan, minuman, tenaga, waktu dan dedikasinya demi memutus rantai penularan corona.  Sungguh sekali lagi ini menjadi sangat luar biasa.

2020 Momen Kebangkitan Bangsa

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, sejarah mencatat hari itu bertepatan dengan berdirinya Boedi Oetomo 1908. Peringatan Hari kebangkitan nasional ini diperingati untuk pertama kalinya pada masa pemerintahan presiden soekarno pada tahun 1948. Boedi Oetomo menjadi tonggak pergerakan nasional yang didirikan oleh sejumlah mahasiswa School tot Opleding Van Indische Artsen (STOVIA), sekolah khusus pendidikan dokter pribumi di Batavia pada masa penjajahan Belanda. Sejumlah calon dokter muda ini menginisiasi gerakan yang sangat luar biasa untuk mengajukan pengajaran, pertanian, peternakan, perdagangan, teknik dan industri, ilmu pengetahuan dan seni budaya bangsa. Misi mulia yang diemban organisasi yang dinahkodai oleh Ki hajar Dewantoro ini adalah membangun kesadaran bersama sebagai satu bangsa, membangun semangat persatuan dan kesatuan.

Saat ini para dokter dan tenaga kesehatan kembali berjuang di garis depan untuk menyelamatkan ribuan nyawa dan menghadang virus berbahaya covid 19 yang tengah menggurita. Mereka rela bertaruh dan bertukar nyawa demi menyelamatkan nyawa lain masyarakat kita yang tengah menderita karena corona. Kesigapan mereka di saat pandemi dengan fasilitas yang tidak dan kurang memadai untuk memenuhi standar “safety”membuktikan kecintaannya pada negeri. Kelelahan yang luar biasa dengan pakaian APD yang sangat cukup membatasi kenyamanan tubuhnya harus mereka gunakan demi menjaga agar mereka tetap bisa bekerja.

Kecintaan mereka pada negeri semakin diuji dengan momen yang sangat tidak menguntungkan di kala pandemi. Beberapa kabijakan lebih berpihak pada kehidupan ekonomi ketimbang menyembuhkan diri. Akibatnya para dokter yang mulai berguguran sebagai bunga bangsa kehilangan kebanggaraan menjadi dokter dengan tugas mulia. Kelelahan panjang menghadapi kondisi yang tidak dapat diduga, menjadi pengawal masa pandemi yang semakin tidak jelas ujungnya.

Namun kali ini tidak hanya mereka yang berjuang demi Indonesia, semua orang berjuang untuk tetap menegakkan tiang-tiang bangsa. Sudah banyak praktek baik dalam mengatasi berbagai kondisi akibat corona. Sungguh pandemi ini menyerang semua sendi dalam negeri, hampir semua orang terdampak virus jahat bernama corona. Kebijakan pembatasan sosial skala besar kemudian membatasi berbagai aktifitas baik oleh pemerintah maupun non pemerintah.

Kebijakan di rumah saja membuat semua bergantung pada kuota. Namun demikian berbagai kegiatan diskusi masih tetap dapat terselenggara. Pergeseran yang paling terasa adalah media sosial menjadi utama dan terkadang menjadi sumber berita hoax yang meresahkan warga. Berbagai instansi baik pemerintah maupun non pemerintah banyak mengadakan acara berbasis internet. Diskusi-diskusi publik, bisnis, kajian keagamaan banyak webinar yang menyajikan beragam tema. Hampir setiap hari flyer ini berseliweran di dinding sosial media kita. Cukup membantu untuk kalangan yang bisa mengaksesnya.

Memang tidak mudah bagi semua, hampir seluruh kalangan merasakan dampak covid 19 yang sungguh luar biasa. Tapi dari sini kita belajar baik sebagai pribadi maupun dalam kemanusiaan. Saat ini peran orang tua dalam pengasuhan anak menjadi teramat sangat utama bagi keluarga. Sesuatu yang lama hilang ketika banyak orang tua mempercayakan pendidikan dan pengasuhan kepada sekolah atau pesantren atau institusi lainnya. Saatnya merestart pola-pola pengasuhan anak yang ideal dengan menempatkan sekolah dan orang tua secara proporsional saling bermitra. Kegiatan ekonomi juga mengalami pergeseran dimana toko-toko virtual banyak menawarkan dagangannya. Sedikit demi sedikit roda ekonomi mampu berputar dan dapur-dapur tetap mengepul dan amanlah pangan keluarga. Di sisi lain kita semua saling menguatkan satu sama lain dengan cara yang berbeda.

Di momen ini, berharap semangat seluruh elemen bangsa yang didasari semangat solidaritas dan kemanusiaan menjadi bara yang terus membakar virus corona. Saat ini bukan saatnya untuk menyerah, kalah dan pasrah, tapi saat ini dengan momentum untuk bangkit, berdiri, berlari. Kita memulai dengan awal yang baru, saya tidak ingin menuliskan sebagai berdamai, namun kita harus menemukan siasat bagi jalan baru. Saya yakin kemanusiaan mampu menembus batas-batas kemampuan bangsa untuk bertahan dan melawan corona, menjadi sumber kekuatan baru persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa.  Solidaritas dan kemanusiaan menjadi aset dan modalitas sosial yang patut dipertimbangkan untuk menjaga marwah bangsa sekaligus energi untuk bangkit bersama menciptakan “new normal” melawan corona.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2020.

(Visited 130 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 20 Mei 2020
Close