Ditulis oleh 4:11 am KALAM

Spiritual Leadership: Pak AR di Tengah Kontestasi Sosial Politik*

Selain pengalaman dalam gerakan dakwah dan pendidikan, Pak AR juga memiliki pengalaman sebagai seorang politisi dan birokrat negara. Pengalaman sebagai politisi ini diperoleh Pak AR ketika terpilih menjadi angota DPRD D.I. Yogyakarta

Situasi kehidupan sosial, ekonomi dan politik Indonesia belakangan ini seperti kembali pada roda kehidupan politik era Demokrasi terpimpin pada kurun waktu tahun 1955 hingga lengsernya Bung Karno. Kehidupan politik yang ditandai dengan beberapa fenomena seperti keterbelahan anak bangsa, menguatnya kontestasi tiga kekuatan politik saat itu (Islam politik, nasionalisme politik, dan komunis), kekuasaan represif, ketakmenentuan ekonomi, emosi sumbu pendek, dan lain-lain. Situasi dan kehidupan politik seperti itulah yang mewarnai konteks sosial, ekonomi dan politik ketika Abdur Rozaq Fachrudin (Pak AR) mulai muncul ke permukaan dan secara perlahan merangkak menjadi elit Muhammadiyah. Pak AR untuk pertama kalinya masuk di jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada periode 1959-1962 sebagai anggota tambahan. Selanjutnya, pada Muktamar tahun 1962 hingga Muktamar tahun 1990 di Yogyakarta Pak AR terus menerus terpilih masuk tiga belas jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Jujur diakui bahwa situasi politik Indonesia belakangan ini memiliki kemiripan dengan situasi politik pada era 1950an yang sarat intrik, kontestasi dan politik dasamuka. Menghadapi situasi dan kehidupan politik seperti ini tentu saja publik berada pada kondisi no point return tetapi juga seperti kehilangan arah (lose of direction) akan kemana biduk bangsa dan negara ini hendak dikemudikan. Emosi kehidupan berbangsa juga seperti terpanggang di tengah hamparan padang pasir yang penuh jebakan fatamorgana. Upaya “menghadirkan” kembali Pak AR dalam situasi dan kondisi seperti ini tentu bukan saja akan menjadi oase bagi kehidupan politik tetapi juga sekaligus sebagai instrumen untuk memecah gelombang fatamorgana sehingga mata batin anak bangsa dan para elit negeri mampu menemukenali kembali peta jalan dan arah kemana negeri ini akan menuju.

Setidaknya tiga alasan mengapa bangsa Indonesia saat ini perlu mentransformasikan “Pak AR way” dalam kehidupan sosial dan politik Indonesia kini. Pertama, pola kehidupan Pak AR yang zuhud, sederhana, dan low profile; kedua, background  politik dan pengalaman lintas budaya; dan ketiga, gaya kepemimpinan dan komunikasi Pak AR yang genuine dan apa adanya. Ketiga hal inilah yang akan dipaparkan dalam tulisan singkat ini.  

Pengalaman Lintas-Budaya dan Background Politik

Tak banyak tokoh seberuntung Pak AR yang memperoleh tempahan kehidupan dengan beragam warna kondisi dan status sosial. Sejak lahir dan menikmati masa kecil sebagai anak seorang penghulu kerajaan Pakualaman. Pak AR pergi keluar dari “tembok istana” Pakualaman pada usia 11 tahun setelah ayahnya, Kyai Fachruddin pensiun dari posisinya sebagai seorang Penghulu. Pulang ke kampung halaman di Brosot beberapa saat lalu kembali ke Kota Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan di Madrasah Muallimin Muhammadiyah. Belum sempat tamat di Muallimin, lalu kembali pulang kampung dan menuntut ilmu pada Kyai Abu Amar dan Abdullah Rosyad juga di Pesantren Daroel Oeloem asuhan Kyai Dawam Rozi. Pernah mengabdi dan menjadi anak panah Muhammadiyah di beberapa derah di Sumater Selatan seperti Talang Balai (Tanjung Raja, OKI), Ulak Paceh (Muba), dan Sungai Gerong.  Dalam mempelajari ilmu keagamaan Pak AR juga sempat belajar ke beberapa Kyai, bukan saja di kalangan Muhammadiyah tetapi juga di kalangan Nahdhotul Ulama. Kedekatan dengan Kyai di keluarga NU ini sebenarnya lumrah saja dikarenakan Pak AR memiliki hubungan famili dengan keluarga NU di Wonokromo dan Krapyak.

Selain pengalaman dalam gerakan dakwah dan pendidikan, Pak AR juga memiliki pengalaman sebagai seorang politisi dan birokrat negara. Pengalaman sebagai politisi ini diperoleh Pak AR ketika terpilih menjadi angota DPRD D.I. Yogyakarta mewakili Partai Masyumi pada Pemilu 1955. Pengabdian sebagai anggota DPRD ini berjalan selama satu periode hingga Masyumi dipaksa membubarkan diri oleh Pemerintahan Bung Karno. Kariernya di birokrasi dimulai sebagai Kamitua di Desa, kemudian menjadi Penghulu di Adkarto (Wates), dan kemudian sejak pasca clash tahun 1950 dimana Pak AR diangkat sebagai pegawai Jawatan Agama di Kepatihan (Kantor Gubernur) Yogyakarta.  Karier ini terus menanjak sampai di era Orde Baru dimana Pak AR semoat bertugas tidak hanya di wilayah Yogyakarta tetapi juga sampai di Jawa Tengah. Pengalaman dalam menggerakkan Persyarikatan Muhammadiyah didapat setelah tahun 1953 dimana ketika itu Pak AR diamanahi sebagai Pembantu Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Selanjutnya, pada periode Muktamar di Palembang tahun 1959 Pak AR masuk di jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah sebagai anggota PP tambahan.

Zuhud dan Welas Asih

Pak AR terkenal sebagai pribadi yang zuhud dan penuh welas asih. Tampaknya pola kehidupan seperti ini selain banyak dipengaruhi oleh tempahan hidup juga dipengaruhi oleh ajaran yang didapatnya saat mengaji pada beberapa Kyai, serta mempelajari kitab Ihya Ulumuddin karya al Ghozali. Mungkin karena konsistennya Pak AR dalam memilih jalan hidup “sufistik” ini dikemudian hari Beliau diposisikan sebagai seoran Kyai yang memiliki  karomah. Terminologi atau maqom karomah ini selama ini dipersepsi publik selalu merujuk pada level dan maqom tertentu yang hanya dimiliki oleh tokoh-tokoh ulama dari Nahdlatul ‘Ulama (NU). Dari sisi  bahasa, terminologi karomah dipahami sebagai suatu kemuliaan, kehormatan dan anugerah. Berdasarkan pemahaman ini maka pada dasarnya, siapa saja terlebih tokoh agama atau ulama yang memiliki kefaqihan dalam persoalan agama pasti memiliki karomah ini (QS: al-Mujadillah, 11).

Berbeda dengan figur lain, karomah dalam diri Pak AR mewujud dalam kepribadian yang kemudian mengkonstruksi apa yang sekarang disebut sebagai “spiritual leadership and stile” yang termanifestasikan ke dalam  sikap hidup dan gaya komunikasinya sebagai seorang Kyai dan Pimpinan Muhammadiyah. Telah jamak diketahui oleh kalangan Muhammadiyah atau pun luar Muhammadiyah, Pak AR sebagai sosok ulama yang wara’ dan zuhud. Karakter yang melekat pada kepribadian Pak AR yang selalu menjaga sikap wara’ dan zuhud dalam kehidupan sehari-hari ini telah membentuk jalan dan model tersendiri dalam menjalin komunikasi yang bisa diterima oleh siapapun yang melintasi batas profesi, adat, agama, serta ideologi. Hal ini tergambar jelas dalam akseptabilitas  Pak AR di semua kalangan, baik oleh kalangan atas, bawah, atau bahkan kelompok radikal sekalipun. Peristiwa yang cukup menarik adalah ketika Pak AR sebagai seorang yang masih “muda dan hijau” dan belum dikenal sebelumnya tetapi mendapatkan penyambutan yang hangat dan penuh decak kagum di forum Musyawarah Wilayah (Musywil) Muhammadiyah Aceh di Blang Pidie.

Sikap zuhud dan pilihan hidup dengan penuh kesederhanaan yang genuine juga tergambar dalam kebiasaan Pak AR yang tidak mau memanfaatkan posisinya sebagai Ketua PP Muhammadiyah untuk kepentingan pribadi dan keluarganya. Bahkan sebaliknya, justru beberapa fasilitas yang diberikan negara kepadanya justru diserahkan kepada Muhammadiyah.

Gaya Kepemimpinan

Pak AR adalah figur mandiri dan otonom. Kuat dan luasnya otonomi individu ini membentuk gaya kepemimpinan Pak AR yang kuat dan penuh percaya diri. Profile kepemimpinannya telah mempengaruhi gaya kepemimpinan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, meskipun selama kepemimpinannya tak pernah luput dari tekanan baik dari dalam maupun dari luar Muhammadiyah. Dalam kepemimpinannya sosok utuh Pak AR adalah sosok yang tidak mau pandangan politiknya didikte oleh siapapun. Meskipun tegas dan kuat dalam pendirian tetapi Pak AR tetap konsisten dalam memilih jalan dakwah santun.  Melalui praktik sehari-hari yang dijalaninya Pak AR memberikan pelajaran bahwa meskipun dakwah santun dan lembut tetapi tidak berati lembek ketika merespons persoalan yang menyangkut prinsip. Pak AR adalah seorang ulama dan tokoh yang selain dikenal sederhana, yang juga menonjol ialah sikap dan pemikirannya yang santun dan moderat. Sikap tengahannya sangat mewarnai karakter dirinya, dengan tetap kokoh dalam prinsip tetapi luwes dan lembut dalam cara.

Kuatnya figur Pak AR telah memposisikan Muhammadiyah sebagai organisasi yang kuat dan moderat dan mampu berkomunikasi dan menjadi penengah dalam berbagai peristiwa politik. Sebagai upaya menyamakan pengertian dengan kalangan Islam Garis Keras, Pak AR kemudian melakukan dengan beberapa tokoh yang tercatat memiliki jalan keras, seperti Kahar Muzakar dan Tengku Daud Beureuh. Ketika melakukan pertemuan dengan Daud Beureuh, tokoh DI/TII. Meski dengan tokoh yang memiliki perbedaan dalam melakukan perjuangan Pak AR masih bisa akrab dan tetap santun dengan lawan diskusinya. Hal serupa juga terjadi ketika bertemu dengan Kahar Muzakar pada tahun 1960 di Sulawesi. Ketegasan penuh kelembutan ini termanifestasikan dalam beberapa sikap Pak AR yang mencuat ke publik, seperti ketika Pak AR menulis surat terbuka untuk simpatisan Partai yang  melakukan kampanye untuk Golongan Putih (Golput) atau kelompok yang tidak menggunakan hak pilihnya pada Pemilihan Umum (Pemilu) di masa kampanye tahun 1992. Peristiwa lain adalah pada saat Pak AR menyarankan Soeharto untuk mundur dari jabatan Presiden. Menurutnya, lamanya Pak Harto menjabat sebagai Presiden akan banyak menimbulkan kerugian bagi berbagai pihak. Baik kepada Soeharto sendiri, rakyat dan juga negara pun akan dirugikan. Padahal saat itu Soeharto sedang berada di posisi puncak karirinya sebagai Presiden. Di mata Pak AR, Presiden ke 2 RI itu sama dengan kawan yang sekali waktu bisa salah dan harus diluruskan.

Apa yang telah diteladankan Pak AR melalui proses panjang kehidupan yang dijalaninya dalam berkiprah di politik, birokrasi dan masyarakat lintas kultur dan budaya, pilihan zuhud dan wara’, serta gaya politik dan kepemimpinannya telah membawa kita semua pada kerinduan dan suasana “de javu” terhadap sosok Pak AR. Dalam suasana kehidupan sosial politik yang penuh intrik dan kentestasi belakangan ini mendadak kita rindu akan figur Pak AR sang Penyejuk. Kenapa menjadi Sang Penyejuk? Simon dalam bukunya, Pak AR Sang Penyejuk memberi kesaksian berikut ini, “Aku baru sadar, ternyata pengaruh Pak AR luar biasa. Kisah hidupnya yang mengesankan, sederhana, ikhlas, santun, baik pada semua orang, dan humoris, benar-benar seperti air segar yang menyejukkan jiwa di tengah gersang keteladanan. Umat Islam, baik Muhammadiyah dan NU, ternyata sama-sama merindukan sosok teladan seperti Pak AR. Seorang ulama yang berdakwah tanpa pamrih, bercucur keringat untuk membimbing umat, dan memberikan keteladanan sikap hidup setiap saat.”

Buku Pak AR yang Zuhud Memimpin Umat dengan Islam yang Menggembirakan yang ditulis Farid Cahyono dan Yuliantoro ini tentu saja semakin menuntun kita akan kerinduan tentang figur seperti Pak AR di era sekarang ini. Semoga kehadiran buku ini bisa menambah pengetahuan yang mengisi memori anak-anak generasi milenial untuk mengenal Pak AR Fachruddin. Sosok bersahaja yang menampilkan aura keteladanan yang alami. Selamat membaca!


* ) Disampaikan pada acara Bedah Buku “Pak AR yang ZuhudMemimpin Umat dengan Islam yang Menggembirakan” yang diselenggarakan oleh Divisi Kajian Yayasan AR Baswedan, tanggan 12 Juli 2019.

Penulis adalah peneliti di Jusuf Kalla School of Government Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Saat ini sedang menyelesaikan Disertasi tentang Kebijakan Penanggulangan Terrorisme di Indonesia.

(Visited 73 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 14 Februari 2020
Close