28.9 C
Yogyakarta
13 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Stay at Home Saat Pandemi Covid Menginspirasi Kokohnya Karakter Bangsa

Kurang lebih dua bulan kita sebagai umat manusia sudah digodok di kawah candradimuka kehidupan karena pandemi Covid -19. Dari semua sendi kehidupan. Ekonomi, budaya, peradaban, pendidikan, tatanan bernegara dan keluarga. Mengoyak kehidupan normal manusia era modern, menjadi berbalik seratus delapan puluh derajat. Semua rencana, tatanan, angan-angan dan keinginan luluh lantak karenanya.

Ini adalah keadaan yang kita hadapi selama kurang lebih 2 bulan ini. Awal bulan Maret di saat siswa, guru, orang tua dan semua stakeholder sekolah menyiapkan untuk pelaksanaan Ujian Nasional yang terakhir yang akan digelar pemerintah, menjadi tertunda. Persiapan penilaian tengah semester pun demikian. Secara keseluruhan semua kegiatan belajar mengajar secara fisik di sekolah dihentikan, diganti dengan model belajar online atau daring. Tidak hanya itu saja. Para pekerjapun dengan Work From Home. Beribadahpun juga di rumah. Ini menjadikan rumah atau keluarga center berjalannya kegiatan. Ada kesedihan namun ada nilai yang sangat besar dengan adanya semua kegiatan di rumah, Stay at Home atau di rumah saja menjadi lagu merdu yang dinyanyikan semua orang.

Sebelumnya kita disibukkan mencari nafkah dari pagi sampai sore, bahkan malam. Tidak pernah tahu bagaimana keseharian putra putrinya. Dengan stay at home kita tersadar dan lebih memperhatikan. Mungkin mereka menjadi guru dadakan yang tercengang karena betapa pandai dan cepatnya, serta patuhnya si anak. Tapi ada yang kesal juga karena mendapati kondisi yang tidak disangka. Ternyata putranya sangat malas, tugas tidak dikerjakan, diatur sulit dan selalu membantah. Baru mereka tersadar saat ini harus bisa mengubah mereka, yang selama ini mereka terabaikan. Stay at home atau di rumah saja selama pandemik Covid-19 memberi pelajaran pada keluarga.

1.    Pendidikan anak adalah berangkat dari keluarga dan sekolah melengkapinya.

2.    Anak butuh komunikasi dan perhatian serta kehangatan untuk disapa. Bahkan sampai dimarahipun mereka akan lebih senang.

3.    Pondasi karakter yang kokoh dimulai dari rumah. Kemudian dilengkapi sekolah dengan penanaman karakter sesuai dengan visi dan misi sekolah, dan orang tua memadukan sinergi apa yang siswa dapat di sekolah.

 4.   Karena waktu yang longgar dan tidak adanya kegiatan di luar, komunikasi antar keluarga      semakin hangat. Akibat pertemuan yang terbatas dengan pihak di luar rumah, keluarga menjadi lebih kreatif dengan mencari banyak kegiatan yang dapat dilakukan bersama. Tercipta industri rumahan dadakan. Beribadah di rumah, menciptakan imam dari kalangan keluarga yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Mengaji biasanya seorang ibu meninggalkan rumah bergabung dengan ibu-ibu yang lain, saat ini berada bersama keluarga . Mempererat dan memperkokoh ikatan keluarga.

 5.   Tetapi bukan pula intensitas di rumah hanya fisik saja, karena orang tua tetap saja dengan gawainya dan tidak memperhatikan sekeliling keluarganya.

Oleh karenanya pembelajaran karena pandemik Covid-19 ini dapat menjadikan kebangkitan kesadaran bersama kita sebagai masyarakat dan pemerintah untuk memperbaiki sistem pembelajaran pada anak dan pola bekerja masyarakat dewasa agar dapat tercapai komunikasi bersama lebih banyak antar keluarga. Tahun Emas yang digadang oleh pemerintah untuk menciptkan generasi yang kuat karakternya agar dapat bersaing dengan negara lain, saya percaya akan bisa tercapai.

Momen yang tepat menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional, pemerintah dan masyarakat bersama berkomitmen dari hal yang sederhana yang dialami. Bahwa masyarakat terkecil yaitu keluarga, di dalamnya harus tercipta dulu fundamental karakter yang kuat. Sehingga menjadi himpunan kecil-kecil yang akan menjadi besar. Itulah yang nantinya akan membentuk negara kita yang kuat pula. Belajar dari Negara-negara maju seperti Jepang, Singapura, dan Australia, ternyata penanaman karakter kuat dimulai dari pendidikan usia dini. Tentunya ini diawali dari keluarga.

Saya percaya belajar tidak harus seharian di sekolah dan sistem bekerja juga diubah lebih banyak untuk bersama. Tentunya ini diikuti oleh aturan-aturan yang mengikat seperti pada saat pandemik. Dengan kelonggaran-kelonggaran seperti dunia hiburan dibatasi jamnya, tempat rekreasi ada batasan jumlah pengunjung, diperbanyak belajar dengan model on line, dan juga bekerja. Memberi kesempatan dan ruang bermain yang sehat untuk warga. Memperbaiki tayangan dunia pertelevisian dengan memperbanyak akses untuk belajar lewat televisi.

Jika ini berjalan bersama antara masyarakat dan pemerintah maka kebangkitan demografi tahun 2045 bukan impian lagi. Melalui pemebelajaran saat pandemi Covid-19 agar Stay at Home tersebut yang menginspirasi kesadaran bersama. Pada dasarnya kekuatan dan keharmonisan dalam keluarga akan menciptakan masyarakat yang baik lingkungannya. Dan ini akan menimbulkan kreativitas dalam berpikir dan bertindak. Sselanjutnya akan menciptakan bangsa yang kuat dan maju, jauh dari keterpurukan dari berbagai sendi kehidupan.

Saatnya setelah pandemi ini adalah Kebangkitan Nasional yang ke 2 untuk NKRI. Jayalah negeriku, menjadi surga rakyat dan pemimpinnya. Gemah rimah loh jinawi toyyiban rahmatan lil allamin .

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA