Strategi Amil Zakat di Tengah Pandemi Covid-19

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Pengelolaan zakat di tengah pandemi Covid-19 sangat menantang sebab berada dalam situasi yang tak pernah terbayangkan.

Amil zakat adalah “seseorang atau sekelompok orang yang diangkat oleh Pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat”; atau “seseorang atau kelompok orang yang dibentuk masyarakat dan disyahkan oleh Pemerintah untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat” (Fatwa MUI Nomor 8 Tahun 2011). Seorang amil zakat hendaknya memenuhi syarat-syarat sekurangnya sebagai berikut: 1) Muslim, 2) Mukallaf (baligh dan berakal), 3) Merdeka, 4) Memiliki kompetensi/pemahaman tentang hukum-hukum zakat, 5) Shidiq, 6) Amanah, 7) Farthonah, 8) Tablgih, 9) Visioner, 10) Profesional dan 11) Enterprenurial. (Fikih Zakat Kontektual Indonnesia BAZNAS RI).

Pengelolaan zakat, termasuk didalamnya infaq, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya, adalah kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengorganisasian dalam pengumpulan, pentasharufan dan pendayagunaan zakat. Pengelolaan zakat tidak dapat dilepaskan dari empat komponen penting yaitu: muzaki (pemberi zakat), amil (pengelola/petugas zakat), mustahiq (penerima zakat) dan pemerintah. Amil memiliki peran yang sangat menentukan agar pengelolaan zakat mampu merengkuh dua kutub yang saling membutuhkan yakni muzaki dan mustahiq. Amil wajib menghantarkan muzaki memperolah ketenangan (Q.S: 9/103) dan memotivasi mustahiq menjadi muzaki.

Baca juga: Bantu Pasukan Kuning, BAZNAS Kota Yogyakarta dan PT. CPI Serahkan 10.000 Butir Telur

Pengelolaan zakat di tengah pandemi Covid-19 sangat menantang. Sebab, semua lembaga zakat (BAZNAS atau LAZ) sejak jauh-jauh hari sebelum wabah merebak, sudah mempersiapkan strategi pungutan dan pentasharufan zakat melalui rencana kegiatan dan anggaran tahunan yang telah ditetapkan sejak satu atau dua bulan sebelum tahun anggaran berjalan.

Setiap lembaga, tidak terkecuali amil zakat, secara umum sekurangnya menerapkan tiga stategi untuk merealisasikan rencana kegiatan dan anggaran yang dicanangkan. Pertama, berinovasi dengan model promosi. Semakin kreatif semakin baik. Kedua adalah, memanfaatkan perangkat teknologi dengan berupaya bekerja dengan strategi multiplatform. Ketiga, mengelola lembaga berprinsip pada data. Tidak terelakkan lagi bahwa data adalah sumber penting manajemen lembaga serta menentukan langkah yang akan diambil oleh tim.  

Tiga strategi itu harus disesuaikan ditengah situasi merebaknya wabah Covid-19 karena dihadapkan pada situasi yang tidak pernah terpikirkan saat menyusun rencana kerja anggaran tahunan. Tiga strategi itu harus disesuaikan kembali di tengah merebaknya wabah Covid-19. Pengelola zakat harus ikut berubah. Tidak cukup lagi mengandalkan strategi lama, walaupun berhasil dijalankan selama ini.

Selain tiga stategi tersebut, dengan segala fariasinya, pengelola zakat (Badan atau Lembaga), sekurangnya harus menerapkan empat strategi yang wajib dilakukan setiap amil saat menghadapi situasi seperti sekarang ini. Pertama, harus aktif memantau dan mendata ulang muzakiLembaga selain perlu mengenal demografi dasar kelompok calon muzakki seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, keuangan dan status, juga aktif memantau kondisi ekonominya terutama muzaki yang rentan masalah ekonomi akibat dampak Covid-19. Sangat mungkin yang dulunya muzaki, saat ini akibat wabah Covid-19, menjadi mustahiq. Kedua, harus aktif memantau dan mendata ulang mustahiq, termasuk mustahiq yang telah berhasil diberdayakan menjadi muzaki. Perubahan klaster mustahiq, saat seperti sekarang ini sangat dimungkinkan. Yang dulunya mustahiq klaster tiga bisa turun menjadi klaster dua bahkan turun lagi menjadi klaster satu. Begitu juga, mustahiq yang dulunya berhasil diberdayakan masuk kelompok muzaki bisa berubah kembali menjadi mustahiq.

Selanjutnya, ketiga mengamati sekaligus menganalisa kemungkinan bentuk-bentuk ketertarikan para muzakki  dalam kehidupan keseharian, setelah diberlakukan PSBB atau Social Distanting yang berpengaruh, misalnya terhadap gaya hidup, hobi dan lainnya. Hasil pengamatan dan analisa yang dilakukan digunakan untuk mendesain edukasi yang tepat utamanya penggunaan media dan konten apa yang paling efentif agar muzaki tetap istiqomah menunaikan zakat.  Sebab, ketika pandemi covid-19, terjadi perubahan prioritas pengelolaan keuangan. Desain program edukasi yang mampu menarik minat para muzakki meski saat ini situasi ekonomi kian menurun akibat Covid-19.

Baca juga: LAILATUL QADAR: Menemukan Sejatining Kebenaran, Merevolusi Jiwa

Keempat, Lembaga zakat harus pintar mengelola kebutuhan muzakki baru dan muzakki lama. Bagi muzakki baru atau orang-orang yang baru mengenal lembaga zakat, mereka butuh memastikan praktik transparansi, komitmen dan profesionalitas tim pengelola dana zakat, infaq dan sedekah. Mereka juga butuh laporan evaluasi lembaga zakat secara sederhana. Sedangkan bagi muzakki lama atau para donator tetap lembaga yang sudah bergabung, pengelola lembaga zakat harus semakin prima menyelenggarakan pelayanan. Respon secara tanggap dan cepat apa saja yang menjadi kebutuhan mereka. Bangun komunikasi secara erat dan bermakna dengan mereka. Para muzakki adalah bagian terpenting ekosistem zakat, infaq dan sedekah. Lembaga zakat harus menjaga kepercayaan dan komitmen mereka untuk memastikan zakat infaq sedekah telah dikelola sesuai ketentuan syar’i dan regulasi dengan menerapkan azas pengelolaan yang amanah, profesional dan transparan.

Sekurangnya dengan empat strategi tersebut, amil zakat di tengah pandemi Covid-19 akan mampu mengurai tantangan yang dihadapi. Pengelolaan zakat, infaq dan sedekah sangat berbeda dengan filantropi pada umumnya, dimana kedermawanan seseorang/muzaki dilandasi adanya keyakinan bahwa sebagian harta yang dikeluarkan hakikatnya menunaikan hak orang lain/mustahiq dan atas penunaian amaliyah zakat, infaq dan sedekah hakikatnya kemanfaatan akan kembali kepada dirinya sebagaimana telah dijanjikan Allah Swt (QS. 9/103.

Drs. Syamsul Azhari

Drs. Syamsul Azhari

Ketua Baznas Kota Yogyakarta

Terbaru

Ikuti