Strategi Mengatasi Kecemasan Era Pandemi

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Akhirnya bahwa kecemasan adalah sesuatu sunnatullah bagi setiap pandemi hadir dalam kehidupan kita. Apakah kecemasan itu bernilai positif atau negatif, sangat tergantung pada konteksnya.

“You can’t always control what goes on outside. But you can always control what goes on inside.” ~Wayne Dyer

Datangnya pandemi 2020 terhadap kehidupan manusia telah menjangkau di seluruh wilayah dunia, termasuk Indonesia. Pandemi secara langsung dan tidak langsung berdampak terhadap kesehatan fisik dan psikis, di samping aspek kehidupan lainnya. Pandemi dapat menimbulkan kecemasan dari yang tingkat ringan sampai dengan tingkat berat. Ada yang bisa mengatasi kecemasan sendiri, tetapi ada juga yang tidak mampu mengatasi kecemasan sendiri. Untuk dapat mengatasi kecemasan, sehingga mampu diciptakan kehidupan yang sejahtera sangat diperlukan strategi tertentu.

Jika dilihat dari katagori kecemasan sebagai akibat dari pandemi, ada kecemasan tingkat berat, sedang dan ringaan. Yang mengalami kecemasan berat biasanya mengena pada yang dinyatakan positif terkena virus-19. Kelompok ini biasanya bertumpu pada bantuan dari ahli kesehatan, para spesialis terkait, dan psikolog klinis. Walaupun untuk kasus tertentu, dengan mental yang sehat dan prima, bisa saja menyelesaikan kecemasan dilakukan sendiri. Kasus seperti ini relatif jarang. Orangnya pasti luar biasa. Diyakini insya Allah yang bersangkutan memiliki mental kuat dan sekuat baja, sehingga bisa melihat persoalan berat dari perspektif yang sangat positif, sehingga mampu lahirkan energi yang super.

Adapun yang mengalami kecemasan ringan, biasanya mengena pada orang-orang yang dinyatakan negatif. Walaupun yang dinyatakan negatif, mereka juga masih tetap merasa cemas. Karena kita yang sehat dan tidak menunjukkan gejala, bisa membawa virus dan berpotensi menularkannya. Kondisi inilah yang juga bisa membuat cemas. Karena levelnya ringan, biasanya kita mampu menghadapi kecemasan dengan mudah. Walaupun untuk kasus tertentu, bisa juga beberapa kasus yang memiliki daya tahan lemah tidak mampu menghadapi kecemasan yang dihadapi.

Betu Kurland, PhD, (2020) menawarkan 5 strategi untuk menangani kecemasan. Pertama, Menjaga koneksi dengan orang lain. Koneksi sosial dan dukungan sosial merupakan landasan terciptanya kesejahteraan hidup kita. Ketika kita berhubungan dengan orang lain, sering terjadi penurunan secara natural sistem syaraf yang kita alami. Rasa peduli kepada orang lain dan mendapat peduli dari orang lain dapat membantu penghilangan unsur kimiawi yang masuk ke dalam tubuh kita. Kita tentu bersyukur bahwa teknologi belakangan ini mampu membantu kita dalam berkoneksi dengan orang lain selama pandemi.

Kedua, kembali kepada indera kita. Kelima indera kita membantu kita untuk bergerak di sini dan saat ini. Ketika kita cemas, kita sering mengurangi pengaruh masa depan kita yang tak menentu. Ketika kita dapat membawa diri kita dari masa lalu ke saat ini, dan mengaitkan indera kita secara langsung, hal ini sering kali dapat membantu untuk meredakan jiwa dan raga kita, sehingga kecemasan bisa berkurang.

Ketiga, mengidentifikasi apa yang ada di dalam belahan pengaruhmu dan meletakkan energimu disana. Secara alamiah kecemasan memobilisasi serangan tubuh untuk merespon dan meningkatkan aktivasi sistem syaraf simpatetik kita. Ketika adanya kecenderungan pikiran kita untuk merenung sesuatu yang tidak dapat kita kontrol, kecemasan ini dapat meninggalkan kita dalam kondisi yang tak berdaya. Kita merasa terlalu bersemangat dan kita memiliki energi syaraf. Hal ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dimana dan bagaimana kita dapat menyalurkan energi ke dalam suatu tindakan aktif.

Keempat, merubah dari ancaman menjadi tantangan di mana mungkin. Tidak perlu ditanyakan bahwa kondisi akhir-akhir ini yang sedang kita hadapi adalah adanya ancaman yang sangat nyata untuk banyak orang. Tetapi ketika kecemasan muncul, periksa dan tanya diri Anda sendiri apakah ada suatu bahaya yang dekat di sini dan saat ini. Untuk beberapa orang, bahwa rasa ancaman dan bahaya bersandar pada apa yang tersirat di otak, bukan apa yang ada disini dan saat ini pula.

Kelima, koneksikan dengan nilai-nilaimu yang terdalam. Mengidentifikasi nilai apa yang paling penting untukmu selama masa pandemi ini. Siapa yang sangat kamu inginkan untuk menjadi sosok seorang untuk bisa menghadapi ketakutan dan ketidakpastian? Bagaimana kamu dapat menampilkan diri dalam suatu cara yang dapat merefleksikan nilai-nilai itu? Anda tidak harus menyingkirkann ketakutan atau kecemasan, tetapi sebagaimana Anda perlu lakukan adalah menaikkan volume sesuai dengan apa yang Anda sangat pedulikan, juga sesuai dengan apa yang sangat penting menurut Anda. Hal ini akan dapat menurunkan intensitàs kecemasan.

Dalam kehidupan di era pandemi dan menuju normalitas baru kita tidak dapat menghindari adanya kecemasan. Kecemasan sering kali dimaknai sebagai sesuatu yang negatif dan kurang baik bagi kehidupan kita. Apalagi kecemasan itu semakin hari semakin berat kadarnya dan semakin menyulitkan dan mengganggu ketenangan hidup kita. Kondisi ini tentu sejauh mungkin harus bisa dihadapi dan diselesaikan dengan baik, jika perlu harus dibantu dengan orang yang ahlinya, konselor, psikolog klinis, atau psikoterapis.

Memang di sisi lain, kecemasan bisa saja menjadi sesuatu yang positif, menantang kita untuk berpikir out of the box, berpikir lateral, berpikir kreatif dan atau berpikir divergen sehingga mampu mendorong kita untuk menghasilkan inovasi untuk menghadapi persoalan pandemi ini secara konstruktif. Jika demikian, kecemasan yang memiliki nilai positif ini sangat diperlukan bagi kita baik secara personal maupun institutional.

Akhirnya bahwa kecemasan adalah sesuatu sunnatullah bagi setiap pandemi hadir dalam kehidupan kita. Apakah kecemasan itu bernilai positif atau negatif, sangat tergantung pada konteksnya. Yang penting bahwa dalam menghadapi kecemasan akibat pandemi sangat diperlukan strategi mengatasinya, sehingga kita sebanyak mungkin dapat diselamatkan dari kecemasan terutama kecemasan berkonotasi negatif.

Di samping perlu kehadiran ahli, yang tidak kalah pentingnya adalah kesadaran personal bagi setiap individu yang mengalami kecemasan. Selanjutnya bahwa kecemasan yang bernilai positif, sangat dibutuhkan oleh setiap orang, karena kecemasan ini memiliki nilai motivatif yang potensial berkontribusi bagi kehadiran solusi terbaik sehingga mampu hadirkan pikiran dan produk inovatif.

Baca juga: Pembelajaran Kooperatif

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., MA

Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta.

Terbaru

Ikuti