Ditulis oleh 9:29 am SAINS

Studi Meteorit Memberi Petunjuk Asal Air Bumi

Bahan yang membangun Bumi mungkin juga telah memberikan kontribusi signifikan terhadap terciptanya air di Bumi.

Dalam sebuah studi terbaru, ilmuwan menemukan bahwa air di bumi mungkin berasal dari bahan yang ada di dalam tata surya kita pada saat planet itu terbentuk dan bukanlah berasal dari komet atau asteroid yang mampu menghantarkan air. Temuan tersebut, yang diterbitkan pada 28 Agustus di Science menunjukkan bahwa Bumi mungkin selalu basah.

Para peneliti dari Center de Recherches Petrographiques et Geochimiques (CRPG, CNRS / Universite de Lorraine) di Nancy, Prancis, serta mereka yang sekarang menjadi rekan postdoctoral di Universitas Washington di St. Louis, menentukan bahwa sejenis meteorit yang disebut Enstatite chondrites mengandung hidrogen yang cukup untuk mengirimkan setidaknya tiga kali jumlah air yang terkandung di lautan bumi atau mungkin lebih banyak lagi.

Enstatite chondrites secara keseluruhan terdiri dari materi dari dalam tata surya yang pada dasarnya adalah bahan yang sama yang menyusun Bumi.

Laurette Piani, seorang peneliti di CPRG dan penulis utama studi mengatakan bahwa penemuan tersebut menunjukkan bahwa bahan yang membangun Bumi mungkin juga telah memberikan kontribusi signifikan terhadap terciptanya air di Bumi. Dirinya menambahkan bahwa bahan yang mengandung hidrogen telah ada di dalam tata surya pada saat terbentuknya planet berbatu, meskipun suhu terlalu tinggi untuk membentuk air.

Penemuan dari studi ini cukup mengejutkan oleh karena bahan yang membangun bumi sering kali dianggap sebagai bahan kering. Bahan-bahan tersebut berasal dari zona dalam tata surya di mana suhunya terlalu tinggi untuk dapat terbentuknya air dan datang dengan benda padat lainnya selama pembentukan planet.

Meteorit tersebut memberikan sebuah bukti bahwa air tidak datang dari tempat yang jauh di luar tata surya kita.

Bagi Lionel Vacher, seorang peneliti postdoctoral dalam fisika di Arts & Sciences di Washington University di St. Louis, hal yang paling menarik dari penemuan ini adalah bahwa enstatite chondrites, yang diyakini hampir ‘kering’, mengandung air yang sangat berlimpah.

Vacher menyiapkan beberapa enstatite chondrites dalam studi ini untuk menganalisis air saat dia menyelesaikan PhD di Universite de Lorraine. Kini di Universitas Washington, Vacher berupaya untuk memahami komposisi air di meteorit jenis lain.

Enstatite chondrites sangatlah langka jarang terjadi. Jenis meteor ini hanya terdapat sekitar 2 persen dari seluruh meteorit yang diketahui dalam koleksi meteor.

Tapi hal yang menarik adalah kesamaan isotop meteorit ini dengan Bumi. Enstatite chondrites memiliki isotop oksigen, titanium, dan kalsium yang mirip dengan yang ada di Bumi, dan penelitian tersebut menunjukkan bahwa isotop hidrogen dan nitrogen mereka juga mirip dengan yang ada di Bumi. Dalam studi tentang bahan luar angkasa, kelimpahan isotop dalam suatu unsur digunakan sebagai suatu tanda khusus untuk mengidentifikasi dari mana unsur tersebut berasal.

Vacher mengatakan jika enstatite chondrites secara efektif merupakan bahan yang membentu planet bumi, seperti yang ditunjukkan oleh komposisi isotopnya yang serupa. Hasil ini menyiratkan bahwa kondrit jenis ini memasok jumlah air cukup ke Bumi untuk menjelaskan asal mula air Bumi.

Studi tersebut juga mengatakan bahwa sejumlah besar nitrogen atmosfer, yang merupakan komponen atmosfer bumi yang paling melimpah, dapat juga berasal dari enstatite chondrites ini.

Menurut Piani hanya terdapat beberapa enstatite chondrites murni, yakni yang belum terkontaminasi unsur Bumi. Dalam penelitian tersebut, para peneliti telah dengan hati-hati memilih meteorit enstatite chondrites dan menerapkan prosedur analitis khusus untuk menghindari bias oleh masukan air terestrial.

Menggabungkan dua teknik analisis, yaitu spektrometri massa konvensional dan spektrometri massa ion sekunder (SIMS), telah memungkinkan para peneliti untuk secara tepat mengukur kandungan dan komposisi sejumlah kecil air dalam meteorit.

Sebelum studi ini dilakukan, menurut Piani, umumnya diasumsikan bahwa kondrit ini terbentuk di dekat matahari. Enstatite chondrites dengan demikian umumnya dianggap ‘kering’, dan asumsi yang sering ditegaskan kembali ini mungkin mencegah analisis mendalam yang harus dilakukan untuk hidrogen, tambahnya. (Disadur dari situs sciencedaily)

(Visited 15 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 31 Agustus 2020
Close