Studi Oxford: Antibodi COVID-19 Menurun Menjadi Setengah Dalam Waktu Tiga Bulan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Studi tersebut menemukan bahwa dalam kelompok petugas layanan kesehatan ini, tingkat antibodi naik hingga puncak pada 24 hari setelah tes COVID-19 positif pertama.

Di tengah usaha untuk lebih memahami virus corona, sebuah studi dari Oxford University Hospitals (OUH) NHS Foundation mengungkapkan bahwa antibodi turun setengahnya dalam waktu kurang dari 90 hari setelah terinfeksi virus corona.

Studi yang tengah berlangsung terhadap staf OUH, yang telah diterbitkan sebagai pracetak dan masih ditinjau, juga menunjukkan bahwa antibodi virus bertahan lebih lama pada orang yang memiliki gejala dan memudar lebih cepat pada orang tanpa gejala.

Dengan mengukur respons antibodi pada petugas layanan kesehatan yang sama hingga enam bulan, para peneliti mengikuti apa yang terjadi pada tingkat antibodi dari waktu ke waktu dan bagaimana hal tersebut dapat bervariasi antara orang yang berbeda.

Antibodi sendiri adalah protein yang diproduksi oleh sejenis darah putih yang disebut limfosit. Patogen memiliki protein di permukaannya yang disebut antigen. Ketika patogen menginfeksi tubuh, limfosit mengenali antigen ini sebagai benda asing dan menyerangnya dengan memproduksi antibodi.

Studi tersebut menemukan bahwa dalam kelompok petugas layanan kesehatan ini, tingkat antibodi naik hingga puncak pada 24 hari setelah tes COVID-19 positif pertama. Lalu setelah itu, antibodi mulai berjatuhan dan melemah. Mereka yang diuji telah kehilangan hasil antibodi positifnya setelah rata-rata 137 hari.

Para peneliti juga menemukan bahwa dengan bertambahnya usia, etnis Asia, dan gejala yang dilaporkan sendiri sebelumnya dikaitkan dengan tingkat antibodi maksimum yang lebih tinggi. Sebaliknya, tingkat antibodi orang dewasa yang lebih muda turun lebih cepat dan memuncak lebih rendah.

Peneliti mengatakan bahwa temuan tersebut bisa menjadi signifikan, penelitian terkini yang menggunakan antibodi untuk menilai berapa banyak orang yang telah terinfeksi dalam suatu populasi mungkin melewatkan beberapa yang telah terinfeksi, terutama orang yang lebih muda dan mereka yang terinfeksi di awal pandemi dan dengan infeksi ringan atau tanpa gejala. Antibodi yang bertahan lebih lama pada orang tua usia kerja dipandang menarik dan tidak dijelaskan sepenuhnya.

Penyakit ini masih baru dan para peneliti belajar lebih banyak tentang virus tersebut seiring dengan waktu. Akan tetapi, penelitian longitudinal seperti yang dilakukan studi terbaru ini diperlukan untuk menjawab beberapa pertanyaan penting tentang berapa lama dan pada tingkat apa antibodi bertahan, dan sejauh mana mereka melindungi orang dari infeksi ulang.

Makalah tersebut menyajikan data enam bulan dari studi longitudinal yang mengukur tingkat patogen dalam darah 3.217 petugas layanan kesehatan yang telah menghadiri lebih dari satu kali untuk pengujian antibodi. Mereka termasuk di antara sekitar 10.000 staf di empat rumah sakit OUH yang diuji untuk COVID-19 dan antibodi untuk memberikan gambaran akurat tentang siapa di antara angkatan kerja OUH yang telah terinfeksi.

Saat mengamati 452 petugas layanan kesehatan yang dites positif, selama rata-rata 121 hari, para ilmuwan menemukan perkiraan waktu antibodi menjadi separuh rata-rata antara 81 dan 90 hari.

Kepala eksekutif OUH, Dr Bruno Holthof mengatakan bahwa sejak wabah COVID-19, trust dan universitas telah mengumpulkan sumber daya mereka untuk mengembangkan PCR yang sangat andal dan pengujian antibodi untuk mendukung penelitian dan perawatan dalam memerangi virus. Dirinya menyampaikan terima kasih kepada semua orang yang bekerja di rumah sakit tersebut yang telah mengambil bagian dalam studi jangka panjang ini, yang akan terus mengungkapkan informasi berharga tentang virus ini yang masih mereka pelajari.

Studi ini sendiri merupakan kolaborasi antara OUH dan University of Oxford dengan dukungan dari NIHR Oxford Biomedical Research Center.

Para peneliti mengatakan studi longitudinal yang sedang berlangsung diperlukan untuk melacak durasi jangka panjang tingkat antibodi dan hubungannya dengan kekebalan terhadap infeksi ulang SARS-CoV-2.

Sumber:
Situs sciencefocus.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti