14.8 C
Yogyakarta
23 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

‘Superbolts’, Petir Terterang?

Petir. Fenomena alam yang biasa datang dengan hujan ini telah lama menjadi objek kekaguman dan pertanyaan manusia. Kekaguman itulah yang membuat kita berhasil menggunakan energi listrik sebagai tenaga primer untuk segala bentuk peralatan pembantu kita. Petir dahulu sering diasosiasikan dengan amarah dari “dewa” yang menurunkan senjata terangnya ke bumi. Meskipun hal ini hanyalah mitos, tapi kita dapat melihat fenomena petir yang terang menghantam bumi. Seputar terangnya petir, terdapat sebuah “rumor” mengenai suatu petir yang nampak lebih terang dari petir lainnya.

Petir ini, yang dinamakan sebagai Superbolts, nampaknya memang benar ada. Didalam dua studi terbaru, telah dikonfirmasi bahwa superbolt, kilatan petir yang 1,000 kali lebih terang dibandingkan petir normal, memang ada. Istilah superbolt sendiri berasal dari tahun 1970-an. Namun kemudian, para peneliti mempertanyakan apakah “superbolt” ini benar-benar lebih terang bila dibandingkan petir pada umumnya. Atau apakah fenomena ini hanya karena sudut pandang dari si pengamatnya sendiri, yang menyebabkan petir biasa terlihat lebih terang.

Namun baru-baru ini, setelah melakuka evaluasi pada data selama bertahun-tahun, para ilmuan dapat mengonfirmasi bahwa kilat super terang ini dapat menghasilkan daya setidaknya sebesar 100 gigawatt. Superbolt ini, menurut para peneliti, dapat disamakan dengan tokoh pahlawan didalam komik, asal-usul mereka tidak biasa. Diketahui bahwa petir terbentuk ketika muatan listrik di awan dan di tanah berinteraksi, dan di sebagian besar peristiwa tersebut, awan bermuatan negatif. Akan tetapi, superbolt ini terbentuk selama interaksi awan-ke-tanah yang langka di mana awan bermuatan positif.

Didalam sebuah studi pada 1977 dalam Journal of Geophysical Research, superbolt dideskripsikan sebagai kilatan petir yang “lebih dari 100 kali lebih kuat daripada petir biasa”. Data penelitian tersebut berasal dari pengamatan oleh satelit Vela, satelit yang diluncurkan pada tahun 1969 untuk mendeteksi ledakan nuklir dari luar angkasa, dan beroperasi hingga 1979. Satelit ini mencatat ribuan sambaran petir per tahunnya, termasuk superbolt yang menyambar di seluruh dunia.


Berdasarkan peneliti, kejadian ini paling sering terjadi di Samudra Pasifik Utara. Salah satu yang terjadi di dekat Afrika Selatan pada tahun 1979 sangatlah kuat bahkan peneliti menganggap kejadian tersebut sebagai ledakan bom nuklir, yang masuk ke koran The New York Times tahun itu. Selain di sana, superbolt lain yang melanda Newfoundland pada 1978 dan meninggalkan “kerusakan satu mil”, yang diantaranya banyak pepohonan yang terbelah, hancurnya trafo, dan banyak kerusakan lainnya. Namun peneliti mengatakan bahwa superbolt ini adalah kejadian yang sanagt jarang, yang terjadi sekitar lima kali dalam 10 juta kilatan petir.

Dan dalam dua studi terbaru para peneliti kembali pada satelit untuk observasi superbolt ini. Untuk studi pertama menggambarkan kilatan petir paling terang di Amerika, yang direkam antara 2018 dan 2020 oleh sensor yang disebut Geostationary Lightning Mapper (GLM) yang dipasang pada Geostationary Operational Environmental Satellites – R Series (GOES-R). Fokus mereka ada pada superbolt yang secara substansial lebih terang daripada petir pada umumnya, yang juga setidaknya 100 kali lebih berenergi. Peneliti kemudian mencari superbolt dengan milai tersebut sebagai penandana dan menemukan superbolt dengan tingkat keterangan 1.000 kali.

Untuk studi kedua, para peneliti menganallisa data yang telah dikumpulkan dari 1997 hingga 2010 oleh satelit Fast On-Orbit Recording of Transient Events (FORTE). peneliti mengakui bahwa memang situasi dan kondisi tertentu dapat mempengaruhi tingkat kecerahan petir yang diamati. Sebagai contoh ketika satelit tersebut tidak terhalang oleh awan, petir dapat terlihat jauh lebih terang daripada petir pada normalnya. Beberapa dari pengamatan superbolt yang telah dilakukan dicurigai berada dalam kategori ini. Namun para peneliti mengungkapkan bahwa superbolt itu sendiri jauh lebih terang daripada petir yang terlihat ketika tidak adanya awan.

Kedua satelit ini, GLM dan FORTE, adalah instrumen optik. Akan tetapi, kedua satelit ini mengukur aspek dari pulse petir yang sedikit berbeda. FORTE merekam “instantaneous peak power” dari superbolt, yakni keadaan terterang mereka. Sedangkan GLM mengukur energi total dari superbolt selama periode 2 mikrodetik, yang mungkin terlihat cepat untuk kita, namun pengukuran ini untuk petir yang bergerak juga dalam mikrodetik.

Para peneliti menemukan bahwa superbolt ini dapat berasal dari pulse listrik di antara awan, serta pulse dari awan ke tanah. Superbolts yang muncul di atas lautan dipicu oleh menumpuknya muatan listrik secara bertahap di awan badai, yang menyebabkan sambaran yang jauh lebih kuat ketika superbolt tersebut menabrak Bumi. Superbolt paling terang cenderung berkumpul di wilayah geografis di mana badai petir besar biasa terjadi, dan kemunculan superbolt dikaitkan dengan kilatan petir horizontal panjang yang dapat menjangkau ratusan kilometer. Petir ini kini disebut sebagai ‘megaflash’. Dengan mempelajari superbolt ini, para peneliti terbantu untuk juga memahami kondisi terbentuknya mereka. Tidak hanya ukuran dari petir yang mengagumkan, namun ternyata seberapa terangnyapun juga penting dan tidak kalah mengagumkan.


Sumber:
Situs livescience. Naskah pertama kali ditulis oleh Mindy Weisberger. Foto: Pixabay

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA