17.5 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Syahrul Maghfirah: Saat Yang Tepat Untuk Introspeksi Diri

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

Ramadhan sebagai Syahrul Maghfirah (bulan Pengampunan) adalah saat yang paling tepat untuk selalu melakukan muhasabah (introspeksi diri). Muhasabah  adalah  peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan diri sendiri atau mawas diri. Dengan kata lain, muhasabah bisa difahami sebagai sebuah upaya untuk menilai semua tindakan  secara menyeluruh pada diri seseorang, yang kemudian mengilhami dirinya  untuk melakukan perbaikan (ishlah). Dengan demikian kehidupan seseorang  akan selalu dalam kondisi yang stabil karena perbuatannya selalu dikontrol melalui muhasabah yang secara kontinyu dilakukannya.

Allah SWT berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hasyr, :18-19).

Muhasabah merupakan sesuatu yang sangat penting untuk selalu dilakukan seseorang, terlebih lagi jika seseorang itu sedang dirundung kesedihan yang sangat berat dan berkepanjangan.  Dengan bermuhasabah seseorang akan dapat menyelami hatinya secara mendalam, mencari dan memikirkan pelajaran apa yang dapat diambilnya dari musibah yang membuat dirinya bersedih. Kesalahan apa yang pernah dilakukannaya sehingga musibah ini datang silih berganti tanpa berkesudahan? Dan untuk lebih jauhnya lagi seseorang dapat mengetahui langkah apa yang sebaiknya dilakukannya untuk mengakhiri kesedihan dan kembali bangkit dengan penuh semangat menjadi seorang manusia yang baru yang dapat menatap masa depan yang lebih baik lagi. Jiwa optimis dalam menatap kehidupan ke depan merupakan spirit utama yang mendorong seseorang untuk senantiasa berkemajuan, dan menjadi penyemangat dalam meraih kesuksesan hidup.

Banyak hikmah dan pelajaran yang dapat diambil ketika seseorang selalu melakukan muhasabah (introspeksi diri); antara lain : (1) akan mengetahui aib dan kekurangan yang ada pada dirinya, hingga mau memperbaikinya, (2) mengetahui titik lemah dan dosa yang pernah diperbuat,  untuk segera bertaubat sebelum datangnya ajal (kematian) tiba, (3) mengetahui hak-hak Allah atas dirinya, karena dasar muhasabah ialah menghisab diri dari mengabaikan hak-hak Allah SWT, (4) menyadari bahwa segala perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat, (5) mengontrol hawa nafsu dan mewaspadainya, serta melaksanakan ketaatan serta menjauhi kemaksiatan, agar menjadi ringan hisab di hari akhirat nanti, (6)  membuat seseorang untuk berusaha meningkatkan kemampuan kecerdasan emosional seperti sabar, syukur, dan ikhlas, dan (7)  meningkatkan kemampuan evaluasi diri terhadap apa dan bagaimana hari ini untuk menyiapkan hari esok (akhirat) yang lebih baik sebagaimana diingatkan Allah dalam Surat al-Hasyr ayat 18 di atas.

Dari semua hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari muhasabah di atas, maka dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa dengan muhasabah seseorang  dapat mengenal keterbatasan dan kekurangan dirinya, untuk kemudian dijadikan sebagai modal utama untuk mencapai nilai tertinggi kemanusiaan seseorang, yaitu; nafsul muthmainnah (jiwa yang tenang). Dan dengan bermuhasabah seseorang juga  dapat melepaskan diri dari jeratan dua nafsu yang merusak, yakni nafsul lawwamah (jiwa yang tidak stabil) dan nafsul ammarah bi‘s-su’ (jiwa yang memiliki tabiat selalu memerintahkan keburukan). Jika sudah demikian maka hidup yang dijalani akan terasa lebih tenang dan damai karena telah terhindar dari kesedihan yang berkepanjangan akibat adanya rasa berdosa dan salah yang pernah dilakukannya di masa lalu. Juga hidup menjadi lebih berkah karena diliputi dengan keridhaan Allah SWT. Marilah kita manfaatkan Ramadhan 1441 Hijriah sebagai sarana untuk kita melakukan introspeksi diri atas semua hal yang pernah kita perbuat sehingga capaian ketakwaan sebagai tujuan puasa dapat kita raih secara maksimal. Aamin.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA