25.2 C
Yogyakarta
1 Agustus 2021
BENTARA HIKMAH
KALAM

Syukur, Hulu dari Kecerdasan Spiritual

Spiritual adalah kapasitas inheren pada manusia, dimana dalam dirinya muncul dorongan (kemampuan) untuk membangun hubungan dengan sesuatu di luar dirinya yang memiliki kekuatan dan kekuasaan supra.

Spiritualitas (aktualisasi spiritual) kerap muncul dalam sikap arif; rendah hati, mau mengakui kesalahan diri sendiri, mudah minta maaf, tulus, peduli, hangat, dan bersemangat. Yang semuanya berhulu pada rasa syukur atas karunia nikmatNya. Insan spiritual memiliki kearifan:

•       Kapan harus bersikap tegas dan kapan lemah lembut
•       Kapan harus bicara, kapan diam
•       Kapan harus menerima, kapan harus menolak
•       Kapan harus bersama orang lain, kapan berjalan sendiri
•       Kapan unjuk diri kapan, berdiam diri
•       Kapan harus memberi kapan, tidak memberi
•       Kapan harus berjuang keras kapan, berlepas

Motivasi hidupnya tidak hanya terikat pada kepentingan yang sempit dan sesaat (untuk diri sendiri di dunia), tetapi luas dan jangka panjang bahkan jauh melampaui ruang dan waktu; untuk lingkungan, masyarakat, dan kehidupan setetelah kematiannya.

Diamnya bukan karena dicela dan putus asa. Aktifnya bukan karena dipuji dan dihargai.
Kearifan ini secara alamiah muncul dari rasa syukurnya atas karunia nikmat tiada tara dari Yang Maha Kuasa.

pendidikan pada umumnya hanya berorientasi pada kecerdasan inteklektual.

Saat sekarang dimana kehidupan sangat hedonis, matrialistik, jiwa manusia menjadi kering dari rasa syukur. Hal ini karena pendidikan pada umumnya hanya berorientasi pada kecerdasan inteklektual, sehingga outputnya; dalam hal ini berwujud masyarakat, berkembang dengan semangat eksploitasi berlebihan dan hampir tidak memiliki kearifan kerja, budaya, sosial dan transendental.

Semangat hidup dan kecerdasan intelektualnya berkembang luar biasa, tetapi sikap hidupnya menjadi masalah dalam kehidupan bersama. Selalu melihat orang lain bukan makhluk mulia yang harus dimuliakan dan partner yang harus dikuatkan, tetapi sebagai lawan yang harus dimusnahkan. Akibatnya munculah bencana sosial hebat, seperti tawuran, pemerkosaan, perampokan, penipuan, korupsi, prostitusi, dsb.

Anda sebagai orangtua, pasti ngeri menyaksikan kehidupan seperti ini. Merasa khawatir anak anda terseret dalam kehidupan yang terus berputar, keras tanpa kearifan. Anda tidak sendiri. Bahkan semua orangtua, kecuali yang sudah betul- betul gila, mengakhawatirkan hal ini.

Hanya saja kenyataannya menjadi sangat ironi. Walaupun rasa khawatir begitu mendalam, tetapi kebanyakan dari mereka tidak melakukan apa-apa. Bahkan tanpa sadar justru mendorong anak untuk masuk kedalamnya. Mereka mengabaikan pendidikan agama bagi anak- anaknya dan mendewakan prestasi akademika. Sangat bangga dengan nilai sempurna untuk matematika tetapi sama sekali tidak gelisah dengan tindakan anaknya yang tidak beretika bahkan meninggalkan agama.

Bagaimana dengan anda? Jika anda betul-betul menginginkan anak memiliki kecerdasan spriritual, langkah pertama yang harus anda lakukan adalah mengembangkan rasa syukur. Syukur kepada Yang Maha Kuasa dan syukur kepada anda sebagai orangtua. Langkah ini sangat fundamental, karena seperti sudah saya sampaikan di atas, hulu dari kearifan adalah rasa syukur.

Baca juga: New Normal

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA