25.2 C
Yogyakarta
23 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Tak Hanya Manusia, Hewan Juga Rentan Terhadap Virus Corona

Manusia kini tengah menghadapi salah satu musuh terberatnya, yakni virus corona atau COVID-19. Namun menurut sebuah studi dari University of California, Davis, manusia bukanlah satu-satunya spesies yang kini menghadapi potensi ancaman COVID-19 ini.

Sebuah tim ilmuwan internasional menggunakan analisis genom untuk membandingkan reseptor seluler utama untuk virus pada manusia, yakni angiotensin converting enzyme-2, atau ACE2, pada 410 spesies vertebrata berbeda, diantaranya adalah burung, ikan, amfibi, reptil, dan mamalia lain.

ACE2 biasanya ditemukan di berbagai jenis sel dan jaringan, termasuk sel epitel di hidung, mulut, dan paru-paru. Pada manusia, 25 asam amino dari protein ACE2 penting bagi virus untuk mengikat dan masuk ke dalam sel.

Para peneliti menggunakan urutan 25 asam amino dari protein ACE2, dan kemudian memodelkan struktur protein yang telah diprediksi bersama dengan protein lonjakan SARS-CoV-2, untuk mengevaluasi berapa banyak asam amino yang ditemukan dalam protein ACE2 dari spesies yang berbeda.

Menurut peneliti hewan dengan 25 residu asam amino yang cocok dengan protein manusia diperkirakan memiliki resiko tertinggi untuk tertular SARS-CoV-2 melalui ACE2. Resiko tersebut diperkirakan menurun jika residu pengikat ACE2 spesies berbeda dari manusia.

Sekitar 40 persen spesies yang memiliki potensi rentan terhadap SARS-CoV-2 diklasifikasikan sebagai “terancam” oleh Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam dan memiliki kemungkinan sangat rentan terhadap penularan dari manusia ke hewan. Studi yang dilakukan para peneliti ini telah dipublikasikan pada tanggal 21 Agustus yang lalu di Proceedings of the National Academy of Sciences.

Harris Lewin, penulis utama studi dan profesor evolusi dan ekologi terkemuka di UC Davis mengatakan bahwa data penelitian tersebut memberikan titik awal yang penting untuk mengidentifikasi populasi hewan yang rentan serta terancam terhadap infeksi SARS-CoV-2. Dirinya berharap studi ini menginspirasi suatu tindakan untuk melindungi tidak hanya kesehatan manusia, namun juga hewan selama pandemi.

Hewan Langka Terancam

Beberapa spesies primata yang terancam punah, seperti gorila dataran rendah, orangutan Sumatera, dan siamang pipi putih, yang menurut peneliti diperkirakan rentan dan beresiko tinggi tertular SARS-CoV-2 melalui reseptor ACE2 mereka.

Hewan lain yang ditandai beresiko oleh para peneliti diantaranya adalah mamalia laut seperti paus abu-abu dan lumba-lumba hidung botol, serta hamster Cina.

Hewan domestik layaknya kucing, sapi dan domba dikatakan memiliki risiko sedang. Sedangkan anjing, kuda, dan babi dikatakan memiliki risiko rendah untuk mengikat ACE2. Untuk bagaimana hal ini berkaitan dengan infeksi dan resiko terkena penyakit masih perlu diteliti dalam penelitian selanjutnya, namun tetapi untuk spesies yang telah terdapat data infektivitasnya, korelasinya tinggi.

Dalam kasus infeksi SARS-COV-2 yang terdokumentasi pada cerpelai, kucing, anjing, hamster, singa dan harimau, virus mungkin menggunakan reseptor ACE2 atau kemungkinan virus dapat juga menggunakan reseptor selain ACE2 untuk mendapatkan akses ke sel inang. Kecenderungan yang lebih rendah untuk mengikat dapat diterjemahkan pada kecenderungan yang lebih rendah untuk terkena infeksi, atau kemampuan yang lebih rendah bagi infeksi untuk menyebar pada hewan atau antar hewan setelah virus masuk.

Oleh karena potensi bagi hewan untuk tertular virus corona dari manusia, begitu juga sebaliknya, lembaga-lembaga, termasuk Kebun Binatang Nasional dan Kebun Binatang San Diego, dimana keduanya menyumbangkan materi genom untuk penelitian tersebut, telah memperkuat program untuk melindungi hewan dan manusia.

Klaus-Peter Koepfli, ilmuwan peneliti senior di Sekolah Konservasi Smithsonian-Mason dan mantan ahli biologi konservasi dalam Pusat Kelangsungan Hidup Spesies dan Pusat Genomik Konservasi dari Institut Biologi Konservasi Smithsonian mengatakan bahwa penyakit zoonosis serta cara mencegah penularan dari manusia ke hewan bukanlah sebuah tantangan baru bagi kebun binatang dan para perawat profesional hewan. Dirinya menambahkan bahwa Informasi baru ini memungkinkan mereka untuk memfokuskan upaya dan rencana yang sesuai untuk menjaga keamanan hewan dan manusia.

Peneliti studi ini mendesak agar berhati-hati serta tidak terlalu menafsirkan resiko hewan yang diprediksi berdasarkan hasil komputasi, dan mengatakan bahwa resiko sebenarnya hanya dapat dikonfirmasi dengan data eksperimen tambahan.

Penelitian telah menunjukkan bahwa nenek moyang langsung dari SARS-CoV-2 kemungkinan besar berasal dari spesies kelelawar. Kelelawar telah ditemukan memiliki resiko sangat rendah untuk tertular virus corona melalui reseptor ACE2 mereka, dimana pernyataan ini konsisten dengan data eksperimental aktual.

Apakah kelelawar secara langsung menularkan virus corona langsung ke manusia, atau apakah melalui inang perantara, peneliti belum dapat mengetahuinya, tetapi penelitian tersebut mendukung gagasan bahwa satu atau lebih inang perantara terlibat dalam penyebaran virus. Data tersebut memungkinkan para peneliti untuk membidik spesies mana yang mungkin berfungsi sebagai inang perantara di alam liar. Hal ini untuk membantu upaya mengendalikan wabah infeksi SARS-CoV-2 di masa depan pada populasi manusia dan hewan.

Penelitian dalam studi ini dikoordinasikan sebagai bagian dari Organisasi Genom 10K, yang meliputi Bat1K, Zoonomia, Proyek Genom Vertebrata, dan Proyek BioGenom Bumi. Informasi genomik untuk penelitian ini juga disediakan oleh GenBank Pusat Nasional untuk Informasi Bioteknologi, Kebun Binatang Beku Kebun Binatang San Diego, dan Inisiatif Genom Global Smithsonian. Penelitian ini didukung oleh Robert dan Rosabel Osborne Endowment. (Disadur dari situs sciencedaily).

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA