Ditulis oleh 2:06 pm COVID-19

Takmir Masjid, Saatnya Out of The Box

Rasulullah memerintahkan untuk memakmurkan masjid, yaitu agar masjid bisa menjadi sentra pembelajaran bagi ummat Islam. Meskipun bangunan masjidnya sederhana, masjid yang makmur mempunyai program besar yang bisa mencetak warga muslim yang baik, beriman, dan berakhlak mulia.

Munculnya wabah Covid-19 ternyata membuat sibuk para ahli ibadah, masing-masing menunjukkan fatwa dan dalil sampai numpuk-numpuk, entek golek kurang amek (habis cari kurang metik). Ada yang fiqih oriented,  mengedepankan ikhtiar dan kehati-hatian, hingga tak jelas, apakah saking qadariahnya (free act) atau justru karena ketakutan/kekhawatiran yang berlebihan. Ada juga yang pasrah opo jare Gusti Allah, sehingga tidak jelas juga, apa saking jabariahnya (fatalistik) atau dungu pinjam istilah dari DR. KH. Ahmad Musta’in Syafi’ie (Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang).

Hikmahnya, umat menjadi makin berpengetahuan. Baik dari madzhab jaga-jaga, maupun dari madzhab pasrah. Yang jaga-jaga mengikuti protokol pemerintah, sangat loyal sekali, hingga membolehkan, bahkan menganjurkan umat islam tidak shalat jum’at, tidak shalat jama’ah di masjid. Adzan hanya sebagai penanda masuk waktu shalat. Sehingga ketika suatu masjid memutuskan untuk menyelenggarakan shalat Jum’at, kelompok ini tetap mati-matian berusaha menggagalkan keputusan tersebut dengan berbagai cara, yang penting tidak ada jamaah (kumpul). Karena, yang dilarang menurut “madzhab korona”  adalah “ngumpulnya”. Tak peduli ngumpul mubah, ngumpul maksiat atau ngumpul ibadah. Sementara yang tetap menyeru Shalat Jumat wajib dasarnya antara lain dalam perang berkecamuk saja, shalat berjama’ah masih disyari’atkan dilaksanakan (al-Nisa’:102).

Dalam perang Dzatur Riqa itu disebutkan, Malaikat Jibril mengajarkan shalat khauf kepada Muhammad dan umat Islam memperoleh kelonggaran untuk bertayamum. Shalat khauf adalah shalat yang dikerjakan dalam keadaan takut kepada musuh di dalam perang. Ini tentu masih bisa diperdebatkan, musuhnya jelas, berhadap-hadapan atau simetris, sehingga ada tata caranya tersendiri dalam melaksanakan shalat khauf. Kalau perang, arah pucuk senapan juga sudah jelas, yaitu ke arah lawan. Sedang sekarang ini musuh tidak jelas karena sangat kecil (dalam ukuran nano meter (10-9 m)), mana musuh mana lawan tidak jelas yang dalam bahasa perang saat ini disebut perang asimetris, tidak berhadap-hadapan. Kadang teman atau bahkan saudara tiba-tiba bisa jadi musuh karena ODP, PDP, apalagi positif covid-19. Kemudian diasingkan, disolasi dan daerahnya dimana mereka tinggal ditengarai sebagai daerah merah (daerah wabah).  Arah pucuk senapan juga tidak jelas, yang penting ditembak ada musuh atau tidak, spekulatif dan terkesan membabibuta. Tembakannya pun tidak dengan peluru tajam tetapi dengan cairan disinfektan.

Orang kemudian bisa berdebat lagi, memilih tidak jum’atan, tidak berjama’ah memang benar, tapi nampak kurang percaya terhadap jaminan perlindungan keamaan yang diberikan Allah dan Rasulnya, Muhammad SAW. Kurang punya ghirah terhadap pahala-pahala yang dilimpahkan Allah di Masjid. Di Masjid, Ada pahala berlipat-lipat, ada rahmat dan ada keberkahan.

Sebaliknya, memilih jum’atan dan sok *”lillaahi ta’ala”* juga tidak benar. Karena Allah mengajari kita agar menjaga diri dengan berdoa, berikhtiar  kemudian berserah diri kepada Allah SWT (tawakal).

Dua kutub pemikiran tersebut kalau diterus-teruskan tidak akan ada selesainya, adanya hanya akan terus berselisih, sehingga umat Islam disbukkan oleh perselisihan tanpa ujung sehingga sempat membangun umat. Sampai kapan? Belum ada kepastian. Ada yang bilang sampai Juni 2020 tapi recovery bisa lama sampai Desember 2020 atau bahkan tahun depan. Itu kalau aturan pusat dan daerah sinkron. Kalau tidak, bisa lebih lama lagi.

Oleh karena itu, rasanya perlu sekali keluar dari dua kutub pemikiran tersebut, dalam istilah motivasi Out of The Box. Ini dilakukan agar tidak terjadi stagnansi aktivitas masjid. Dengan demikian yang perlu dipikirkan adalah bagaimana masjid, mushola, langgar, surau tetap beraktivitas sesuai dengan tetap usaha sesuai protokol pemerintah seperti: (1) disemprot anti virus; (2) disediakan sanitasi bersih; (3) disediakan cairan anti septic di pintu; (4) membawa sajadah sendiri-sendiri; (5) shaff sedikit renggang; (6) tanpa jabat tangan usai shalat; dsb. Mengapa demikian? Ibaratnya, masjid itu negara dan takmir adalah pelaksana negara (pemerintahan). Kalau pemerintahan berhenti beraktivitas, maka negara akan vakum dan dengan mudah dikuasai musuh. Demikian juga masjid, kalau takmirnya tidak beraktivitas ketakmiran, maka masjid akan vakum sehingga dengan mudah musuh mengacak acak umat.

Supaya masjid tetap beraktivitas,  maka:

  1. sebaiknya  takmir dan RT RW dukuh bersinergi menjadikan masjid sebagai Posko Krisis Center, seperti (a) pusat informasi Covid-19; (b) pusat layanan logistik kebutuhan warga; (c) distribusi kebutuhan pokok termasuk makanan berbuka dan sahur petugas siskamling dan warga secara umum; (d) Siskamling memastikan tidak ada warga luar kampung yang bertamu atau warga yang keluar kampung tercatat.
  2. Takmir masjid memastikan masjid terbuka. Tidak boleh kosong. Ada marbot yang bertugas sebagai muadzin yang mengingatkan setiap waktu: shollu fi buyutikum.
  3. Masjid mengedukasi warga secara mental spiritual untuk (a) menerima Covid-19 sebagai ujian Qadho dan qodar Allah; (b) membantu saling menguatkan terhadap warga yang berstatus ODP atau PDP; (c) memuliakan janazah Covid-19 dengan penguburan yang layak.
  4. Yang lebih penting lagi adalah saatnya masjid membuka diri dari sekadar tempat aktivitas vertikal (habluminallah) yang bersifat ibadah individual menjadi tempat aktivitas horizontal (habluminannas) yang bersifat ibadah sosial. Sehingga infak masjdi dapat digunakan untuk beasiswa siswa tak mampu, dana sosial bagi warga tak mampu, dan program sosial lainnya akibat wabah covid-19. Selama ini muncul anggapan sebagian takmir bahwa mengalokasikan dana infak masjid untuk pendidikan adalah tidak boleh, sebab tidak sesuai peruntukannya. Alasannya, para penyumbang bermaksud dengan pemberiannya untuk kemaslahatan masjid, bukan untuk hal lain. Ketika para penyumbang meletakkan uang di kotak amal masjid, indikasi kuatnya adalah tujuan mereka agar uang tersebut dialokasian untuk hal-hal yang berkaitan dengan masjid, baik berhubungan dengan perbaikan fisik bangunan masjid atau kemaslahatan masjid secara umum seperti bisarah muadzin, takmir, khatib, biaya operasional masjid, dan lain sebagainya. Pemikiran ini bisa dimengerti, karena masjid hanya difungsikan untuk ibadah individu yang bersifat ritual vertikal seperti shalat jamaah, pengajian, taklim, TPA, baca Al Qur’an atau tadarus.  Atau ibadah sosial yang bersifat ritual pelaksanaan rukun Islam seperti pembagian zakat, baik zakat fitrah maupun zakat mal. Padahal ritual vertikal dan horizontal itu semua pada hakikatnya mengajarkan kepada umat Islam untuk melayani. Rasulullah bersabda, “KHAIRUNNAS ANFA’UHUM LINNAS”. Sebaik-Baik Manusia Adalah Yang Paling Bermanfaat Bagi Manusia (HR. Ahmad).

Rasulullah memerintahkan untuk memakmurkan masjid, yaitu agar masjid bisa menjadi sentra pembelajaran bagi ummat Islam. Masjid yang makmur bukanlah masjid yang mentereng dan megah tapi program dan kegiatannya minim. Meskipun bangunan masjidnya  sederhana, masjid yang makmur mempunyai program besar yang bisa mencetak warga muslim yang baik, beriman, dan berakhlak mulia. Karena itu, mari kita buka pikiran, kita buka wawasan, keluar dari kotak yang membelenggu, *Out of The Box*.

Dengan cara seperti ini, diharapkan masjid tidak sepi aktivitas, bahkan ke depan bisa kembali menjadi pusat peradaban seperti yang terjadi pada masjid-masjid umat terdahulu, generasi awal Islam. Bukankah begitu?!

Wates, 16 April 2020


Rasulullah memerintahkan untuk memakmurkan masjid, yaitu agar masjid bisa menjadi sentra pembelajaran bagi ummat Islam.


(Visited 656 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 19 Mei 2020
Close