Takut

Suhartono
Pandemi Covid-19 menimbulkan rasa takut. Apa sesungguhnya takut itu? Bagaimana kita menyikapinya?

Akhir-akhir ini kata “Takut” menjadi perdebatan yang tajam ditengah masyarakat dikarenakan adanya pandemi Covid-19. Sebagian kelompok masyarakat mengikuti anjuran pemerintah dan fatwa ulama untuk tetap tinggal dirumah termasuk beribadah kecuali ada kebutuhan khusus seperti mencari kebutuhan untuk makan. Hal ini guna untuk memutus mata rantai wabah yang penularannya antar manusia, sehingga kita diminta untuk tidak berkerumun atau yang sering kita kenal dengan Social Distancing dan Physical Distancing termasuk beribadah di Masjid untuk sementara waktu agar diganti beribadah dirumah.

Sementara ada kelompok lain yang punya prinsip berbeda, tentu juga ada yang menggerakkan, mereka mengatakan “kenapa kita musti takut pada virus, mustinya kita hanya takut kepada Allah, maka dari itu mari kita tetap beribadah ke Masjid, karena Masjid adalah rumah Allah, tempat suci yang selalu bersih, dan selalu dijaga sama Allah.” Kelompok masyarakat ini tetap menjalankan ibadah di Masjid karena keyakinan tersebut.

Pertentangan 2 (dua) kelompok tersebut terus muncul terutama di Media Sosial, masing-masing sering mengupload tulisan-tulisan yang mendukung argumentasinya walau kadang tidak jelas sumbernya, terkadang juga mengupload video tokoh yang dianutnya guna memperkuat apa yang diyakininya. Lepas dari itu semua, tulisan ini akan mencoba mengulas tentang kata Takut.

Apa sesungguhnya makna dari kata Takut itu? Takut adalah keresahan menyangkut masa depan, selain takut manusia juga punya rasa sedih, lalu apa itu sedih? Sedih adalah keresahan menyangkut masa lalu. Takut, Sedih dan Lupa adalah karunia Allah yang harus kita syukuri. Tanpa sifat lupa, maka manusia tidak akan pernah nyaman dalam hidup, melihat barang menjijikan bila kita tak dapat melupakan maka kita akan sulit makan, dan bila kita tidak bisa melupakan masa lalu yang buruk maka kita akan stress atau sedih yang berkepanjangan.

Apa yang diresahkan menyangkut masa depan dapat bermacam-macam seperti takut tua, takut tidak lulus ujian, takut hujan, takut mati, takut pada binatang buas, takut pada sang pencipta dan lain sebagainya. Berbagai macam takut tersebut ada cara yang dianjurkan oleh akal maupun Agama untuk ditempuh misalnya takut tidak lulus ujian maka belajarlah, takut pada binatang buas maka menjauhlah dari binatang buas itu, sedangkan bila kita takut kepada Allah maka mendekatkanlah diri kita kepada Allah SWT.

Covid-19 adalah wabah penyakit yang orang bisa takut, karena wabah ini bisa mengakibatkan kematian atau minimal berakibat sakit parah. Untuk itu ada cara yang perlu ditempuh sebagaimana manusia mempunyai rasa takut pada hal-hal yang disebutkan diatas. Sebagaimana yang telah banyak disampaikan oleh banyak ahli kesehatan bahwa wabah ini menular melalui orang-keorang dengan media air liur atau droplet bila orang itu bicara, bersin, ataupun batuk. Untuk itu cara yang ditempuh untuk memutus mata rantai virus adalah selalu pakai masker, jaga jarak antar sesama, dan hindari kerumunan. 

Rasa takut tidak perlu dipertentangkan karena sesungguhnya para Nabipun memiliki rasa takut. Nabi Musa ketika melihat para tukang sihir Fir’aun melamparkan tali-talinya menjadi ular Nabi Musa sempat takut dan mundur, namun Allah menyampaikan wahyu “jangan takut” lemparkan tongkatmu itu, lalu Nabi Musa melemparkan tongkatnya dan berubah menjadi ular yang besar dan memakan ular-ular tukang sihir. Jadi Nabi Musapun punya rasa takut. Ketika terjadi Perang Dzatur Riqa Nabi Muhammad dan para sahabat takut diserang musuh saat sedang Sholat maka turunlah ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajarkan tentang tata cara Sholat dalam kondisi perang yang berbeda dengan Sholat biasanya, Jibrilpun mengajarkan Sholat yang diberi nama Sholatil Khauf.

Jadi sesungguhnya rasa takut itu tidak perlu diperdebatkan, Islam sangat sempurna memberikan petunjuk dan tata cara berkehidupan dalam berbagai situasi termasuk situasi wabah seperti saat ini. Sebagai Ummat Islam kita diminta mentaati Allah dan Rosul-nya serta pemimpin-pemimpin (ulama). Kuncinya adalah kita selalu mendengar, membaca, dan melihat apa yang disampaikan para ahli, baik ahli kesehatan tentang tata cara menjaga diri kita agar terhindar dari wabah menurut sudut pandang medis, dari para Ulama agar kita dapat melaksanakan ibadah dengan benar mengikuti Sunnah Rosul dan aman dari wabah tanpa mengurangi pahala ibadah kita.

Semoga tulisan ini mampu mencerahkan kita dan tidak ada lagi perdebatan dalam persoalan ini, semoga kita senantiasa terjaga kesehatannya dan Allah selalu melindungi kita semua sehingga terhindar dari wabah, Aamiin.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020