Tarbiyah Puasa: Belajar dari Metamorfosis Kupu-kupu

Jika kita tidak mengalami perubahan setelah berpuasa, maka tentu hidup kita “lebih rendah” daripada ulat.

Sekarang ini kita telah berada dalam bulan syawal 1441 H yang berarti proses puasa pada bulan suci Ramadan telah kita lalui. Bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan tarbiyah sehingga sudah sepantasnya seorang mu’min yang telah melalui proses tersebut ada perubahan dalam dirinya.

Berbagai parameter ataupun tolak ukur bagi yang berpuasa yang bisa menjadi bahan introspeksi bagi diri masing-masing. Apakah ibadah puasa yang dilakukan selama ini berhasil atau tidak. Salah satu tolak ukur atau pelajaran dari proses puasa tersebut kita bisa mengambil ibrah atau pelajaran dari proses metamorfosis kupu-kupu.

Sebagaimana kita ketahui bersama. Sebelum menjadi makhluk yang indah, maka kejadian kupu-kupu melalui berbagai tahapan. Tahapan kejadian awalnya berasal dari ulat. Tentu kita ketahui pula bahwa ulat adalah binatang yang menjijikkan, terlepas bahwa ulat adalah mahluk ciptaan Allah SWT, yang tentu punya manfaat.

Ulat selain mengakibatkan gatal-gatal yang bila kita menyentuhnya, juga mempunyai sifat yang merugikan bagi makhluk tempat hidupnya, dengan memakan daun-daun tumbuhan dimana ulat tersebut hinggap atau hidup. Akibatnya daun-daun tumbuhan rusak yang pada akhirnya merusak pula buah-buahan yang dihasilkan tumbuhan tersebut. Akibat sifat perusak ini maka manusia sangat benci terhadap sifatnya tersebut.

Akan tetapi proses hidup yang buruk ini tidak selamanya terjadi. Dalam proses kehidupan ulat selanjutnya mengalami perubahan yang berbentuk kepompong. Dalam proses menjadi kempopong ini ulat tidak melakukan aktivitas seperti makan (bisa diartikan berpuasa). Proses berpuasanya kepompong (yang dulunya berupa ulat) berlangsung selama beberapa waktu (hari). Sehingga ulat tersebut tidak melakukan lagi pengrusakan dan tdak menjadikan gatal-gatal lagi bagi siapa pun yang menyentuhnya.

Setelah kepompong ulat tersebut menjadi kupu-kupu, suatu makhluk yang sangat indah dan menarik untuk dilihatnya. Proses perubahan dari ulat, menjadi kepompong kemudian menjadi kupu-kupu ini dalam ilmu biologi dinamakan metamorfosis. Setelah menjadi kupu-kupu selain sangat indah untuk dilihat, makhluk ini menjadi perubahan yang luar biasa. Dari ulat yang sifatnya merusak menjadi kupu-kupu yang sifatnya membantu tumbuhan khususnya dalam hal penyerbukan.

Belajar dari proses matamorfosis kupu-kupu, mulai dari berupa ulat yang sifatnya merusak tadi kemudian berpuasa dalam bentuk kepompong. Dan akhirnya menjadi kupu-kupu tersebut di atas. Sudah tentu kita manusia sebagai seorang muslim yang telah melakukan ibadah puasa pada bulan suci Ramadhan, dapat mengubah perilaku hidup kita sehari-hari.

Apabila dulu sebelum berpuasa masih mempunyai sifat-sifat yang merugikan bagi sesama manusia lain atau masih sering ke tempat-tempat yang “kotor”. Maka setelah melalui tarbiyah puasa, sifat yang tidak baik tersebut seharusnya kita tinggalkan. Sehingga kita menjadi makhluk yang sangat berguna bagi manusia lain, dan perilaku kita menyenangkan bagi semua pihak. Dalam kehidupan bermasyarakat dapat membawa manfaat bagi masyarakat sekitar kita. Jika kita tidak mengalami perubahan setelah berpuasa, maka tentu hidup kita “lebih rendah” daripada ulat.

(Visited 89 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020