Tebar Kebaikan Untuk Sesama

khamim zarkasih
Ketika kita menginginkan hidup mulia, sejahtera, bahagia, terhormat, bermartabat dan berkeadaban, maka kita harus mau dan mampu menebar “kebaikan” terlebih dahulu.

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

Dunia dan seisinya  bagi manusia laksana  “ladang kehidupan” yang siap untuk ditanami, dipelihara dan dirawat dengan penuh kasih sayang   di mana saja,  kapan saja dan oleh siapa saja. Adalah Ismail Raja Al-Faruqi, seorang pemikir muslim kontemporer mengibaratkan bahwa alam dunia ini laksana   “lapangan” tempat tumbuh dan berkembang, serta menikmati anugerah Allah SWT. Setiap diri, tanpa terkecuali; apakah ia seorang yang beriman, kafir ataupun munafiq; bangsa manapun, suku atau ras apapun,  semuanya memiliki kesempatan untuk memanfaatkan dan menikmati apa saja yang ada di semua lorong atau sudut  alam dunia ini.

Namun demikian, untuk mampu memanfaatkan dan menikmati kekayaan alam yang melimpah tak terhingga ini, kita harus menanam terlebih dulu. Layaknya seorang petani, untuk dapat panen padi, maka dia harus menanam padi terlebih dahulu. Allah SWT telah menyediakan modal “sawah” atau “ladang”  tempat menanam.  Semakin pandai seseorang dalam mengelola dan melestarikan sumber daya alam yang ada, maka akan semakin melimpah juga kemanfaatan  yang bisa dinikmati.

Sama halnya, ketika kita menginginkan hidup mulia, sejahtera, bahagia, terhormat, bermartabat dan berkeadaban, maka kita harus mau dan mampu menebar “kebaikan” terlebih dahulu. Banyak jenis dan ragam  tanaman “kebaikan”  yang bisa kita lakukan.  Kita bebas untuk memilih jenis tanaman yang kita mampu dan mau. Jika kita  berlebih dalam pengalaman dan pengetahuan, maka kita bisa menanam kebaikan berupa pengalaman dan pengetahuan, misalnya; membimbing orang mengaji al-Quran, apalagi di saat kita menghadapi virus Corona (Covid-19) saat ini, mengajari cara beternak ayam, kambing, sapi dan sebagainya.

Jika kita berlebih  dalam harta benda, maka kita bisa menanam kebaikan berupa harta benda, misalnya; membantu biaya pendidikan bagi keluarga yang tidak mampu, memberi modal usaha tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun, shadaqah, dan sebagainya. Pendek kata, terlalu banyak jenis tanaman “kebaikan” yang dapat kita tanam selagi masih hidup dan berkesempatan di alam dunia ini.

Semua orang, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk menebar jenis tanaman kebaikan yang berkualitas unggul itu. Siapa pun yang menanam “kebaikan”, niscaya ia akan panen kebaikan. Allah telah menegaskan hukum alam ini : “Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Baqarah; 2 : 110).  Untuk semua makhluk Allah ini, muncul  adogium  : “siapa menamam ia akan mengetam”. Itulah sunatullah yang brlaku di alam raya ini.

Tebaran  “kebaikan”, adalah tanaman yang bersifat universal dan berkelanjutan. Universal dalam arti  bahwa yang namanya kebaikan itu semua orang, apapun statusnya, agamanya, atau suku/rasnya pasti dapat menerimanya, kecuali orang yang sakit jiwanya. Berkelanjutan artinya, kebaikan itu berlaku sepanjang waktu; masa silam, masa sekarang dan masa depan. Dan uniknya, sekali menebar “kebaikan” itu, maka sepanjang hayat kita dapat memetik panenannya. Bahkan setelah kita meninggal dunia pun, kita  tetap  dapat insentif atau memanen pahala yang berkelimpahan itu.

Secara rinci, dapatlah dijelaskan beberapa keistimewaan yang luar biasa  dari menebar suatu “kebaikan”  :  Pertama, menebar “kebaikan” tidak memerlukan modal terlalu besar seperti halnya menanam modal pada suatu usaha bisnis atau menanam padi atau jenis tanaman lainnya. Bisnis yang akan dilakukan membutuhkan modal yang sangat besar. Demikian juga     menanam padi misalnya, kita perlu memiliki modal atau sarana produksi, seperti; sawah, benih, pupuk, obat-obatan dan tenaga.

Artinya menanam padi memerlukan biaya produksi besar. Sedangkan menanam “kebaikan” modal utamanya adalah kemauan, kemampuan dan keikhlasan. Kemauan adalah modal utama yang menggerakkan untuk menanam. Kemampuan merupakan proses yang harus dilakukan untuk menanam. Dan keihlasan adalah motif yang mendasari kemauan kita dalam menanam.  Menanam “kebaikan” yang didasari dengan motif selain mencari ridha Allah, maka dapat menimbulkan penyakit dan merupakan suatu pekerjaan yang sa-sia. Artinya, hasil panen dari apa yang kita taman, cepat atau lambat akan habis sia-sia, bahkan bisa justru menimbulkan kesengsaraan, penderitaan dan kehinaan. Karena itu, penyakit dari tanaman “kebaikan” adalah sifat ria.

Kedua, hasil panen dari menanam “kebaikan” tidak tergantung pada berapa banyaknya atau besarnya sarana produksi secara kuantitatif, seperti halnya menanam saham pada suatu perusahaan ata seorang petani yang akan menanam padi. Hasil menanam saham atau  panen yang diperoleh dari menanam padi sesuai dengan hukum produksi. Misalnya, menanam saham di suatu perusahan akan dapat keuntungan sekian persen, atau menanam padi di sawah seluas satu hektar akan panen rata-rata 4-6 ton gabah sekali panen. Sedangkan panen menanam “kebaikan” itu tergantung dari keikhlasan dalam hati kita.  Karena keikhlasan itulah yang menentukan nilai kebaikan yang  akan kita dapat. “Innamal a’malu bin niyaat”, demikian sabda Kanjeng Nabi Muhammad SAW.  

Ketiga, menanam kebaikan akan menumbuhkan harapan hidup yang lebih optimis. Optimis dalam hidup itu penting. Karena sikap optimis inilah yang menjadi energi penggerak bagi kita untuk kian giat dan tekun dalam bekerja. Keyakinan diri akan masa depan yang lebih baik merupakan spirit yang kuat bagi munculnya pribadi yang senang kepada kebaikan. Hidup dalam ujian dan cobaan  juga kesempatan yang sebaik-baiknya untuk memperbanyak menanam kebaikan. Virus Corona (Covid-19) yang sedang kita hadapi, akan menjadikan hidup kita semakin optimis bahwa bersama kesulitan selalu ditemukan adanya kemudahan. Semoga!

Penulis: Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close