Teknologi Drone Terbaru untuk Membantu Memperkirakan Meletusnya Gunung Api

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
[Mereka menerbangkan drone tersebut setinggi 2 km dan sejauh 6 km untuk mencapai puncak Manam, dimana mereka mengambil sampel gas untuk dianalisis dalam tempo beberapa jam.

Dengan semakin berkembangnya teknologi untuk pengamatan kita, hal yang terdahulu tak dapat dilakukan kini dapat dilakukan. Salah satu dari hal tersebut adalah memperkirakan secara lebih tepat kapan sebuah gunung berapi akan meletus. Kini sebuah drone jenis terbaru tengah dikembangkan untuk tujuan ini.

Drone yang dikembangkan oleh tim internasional UCL-led telah mengumpulkan data dari sebuah gunung api yang belum pernah dieskplorasi, tepatnya di gunung Manam di Papua New Guinea. Hasil pengamatan dari drone ini tidak hanya membantu warga sekitar untuk lebih akurat memprediksi sebuah letusan di masa depan, namun juga memberikan tambahan wawasan dari para peneliti mengenai bagaimana gunung api berkontribusi kepada siklus karbon global, yang merupakan kunci untuk menjaga kehidupan di Bumi.

Temuan ini menunjukkan untuk pertama kalinnya bagaimana dimungkinkannya suatu kombinasi pengukuran dari udara, tanah, dan ruang untuk lebih mempelajari gunung berapi yang sangat aktif, teknik di dalamnya termasuk vulkanologi dan aerospace engineering.

Para peneliti bersama berusaha menemukan solusi dari tantangan pengukuran emisi gas dari gunung berapi aktif. Untuk melakukannya mereka menggunakan teknologi drone jarak jauh yang telah dimodifikasi. Dengan menggunakan gabungan pengukuran udara “in situ” (di tempat) dengan hasil dari satelit dan sensor jarak jauh berbasis darat, para peneliti dapat mengumpulkan data jauh lebih banyak dan kaya bila dibandingkan dengan sebelumnya. Teknik ini memungkinkan mereka untuk dapat memantau gunung berapi dari jarak jauh, serta juga meningkatkan pemahaman tentang berapa banyak karbon dioksida (CO2) yang dilepaskan oleh gunung berapi secara global serta hal yang terpenting, yaitu dari manakah karbon tersebut berasal.

Gunung api Manam. Gunung yang berdiameter 10 km ini berlokasi di sebuah pulau yang berjarak 13 km timur laut dari daratan utama Papua New Guinea, 800 m di atas permukaan laut. Studi terdahulu menunjukkan bahwa gunung ini merupakan salah satu penghasil sulfur dioksida terbesar di dunia. Akan tetapi untuk kandungan CO2-nya belumlah diketahui. Emisi CO2 vulkanik sendiri sulit untuk diukur oleh karena konsentrasi tinggi di latar belakang atmosfer. Pengukuran perlu dilakukan di dekat ventilasi aktif dan, oleh karena targetnya ada di gunung berapi berbahaya, drone merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan sampel dengan aman. Akan tetapi menerbangkan drone di luar jangkauan penglihatan merupakan sesuatu yang jarang dilakukan di dalam lingkungan vulkanik.

Untuk penelitian ini, para peneliti menambahkan sensor gas miniatur, spektrometer, dan perangkat pengambilan sampel yang secara otomatis akan membuka dan menutup. Mereka menerbangkan drone tersebut setinggi 2 km dan sejauh 6 km untuk mencapai puncak Manam, dimana mereka mengambil sampel gas untuk dianalisis dalam tempo beberapa jam.

Menghitung rasio antara tingkat sulfur dan karbon dioksida dalam emisi gunung berapi merupakan kunci yang penting untuk menentukan seberapa besar kemungkinan suatu letusan akan terjadi oleh karena perhitungan ini akan membantu para ahli vulkanologi menentukan lokasi dari magma.

Gunung Manam ini mengalami letusan besar terakhir antara 2004 dan 2006, yang menghancurkan sebagian besar pulau tersebut dan membuat sekitar 4.000 penduduk mengungsi ke daratan utama, disebabkan hancurnya hasil tanam mereka dan persediaan air yang tercemar. Studi yang dalam mengenai gunung ini belum dilakukan oleh para peneliti, akan tetapi berdasarkan data satelit mereka dapat melihat bahwa gunung tersebut menghasilkan emisi yang kuat.

Setelah melakukan studi lapangan, para peneliti kemudian mengumpulkan dana untuk membeli komputer, panel surya, serta teknologi lain yang memungkinkan masyarakat setempat, yang sejak itu telah membentuk tim siap siaga bencana, untuk dapat berkomunikasi melalui satelit dari pulau tersebut, dan juga untuk memberikan pelatihan operasi drone kepada Staf Observatorium Vulkanologi Rabaul untuk membantu upaya pemantauan para peneliti. Hal ini mereka lakukan sebagai upaya untuk dapat memahami lebih banyak tentang karbon di Bumi, dan juga untuk membantu warga sekitar dengan menyediakan prakiraan yang lebih akurat mengenai ada tidaknya letusan gunung berapi di masa depan.

Emisi vulkanik merupakan tahap kritis dari siklus karbon Bumi, yakni pergerakan karbon antara tanah, atmosfer, dan lautan, akan tetapi pengukuran CO2 hingga kini masihlah terbatas pada sejumlah kecil dari perkiraan 500 gunung berapi yang mengalami degassing di dunia.

Memahami faktor-faktor yang mengontrol emisi karbon vulkanik akan dapat mengungkapkan bagaimana iklim berubah di masa lalu, dan bagaimana hal tersebut di masa depan dengan dampak yang telah dibuat juga oleh manusia.

Temuan dari para peneliti ini dapat dikatakan sebagai suatu ‘kemajuan nyata di bidang mereka, oleh karena sepuluh tahun yang lalu mereka hanya dapat menebak emisi CO2 Manam. Untuk memahami pemicu perubahan iklim, maka diperlukan juga untuk memahami siklus karbon di bumi. Kini para peneliti ingin tahu dan mengidentifikasi dari mana sumber karbon yang dikeluarkan oleh gunung berapi ini.

Sumber:
Situs sciencedaily.

Sumber Foto:

https://www.geekwire.com/2015/watch-drones-explore-live-volcano-iceland/

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora