17 C
Yogyakarta
22 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
SAINS

Teori Baru Memberikan Pemahaman Bagaimana Lingkungan Mempengaruhi Kesehatan Manusia

Suatu cara baru yang inovatif untuk mempelajari interaksi antara sistem biologis yang kompleks dalam tubuh manusia dan lingkungan ditemukan oleh para peneliti di Gunung Sinai. Menurut makalah yang diterbitkan di BioEssays pada bulan Oktober, teori tersebut menunjukkan adanya sesuatu yang disebut “biodynamic interfaces,” yang merupakan entitas perantara antara dua alam. Hal ini berlawanan dengan pendekatan konvensional yang menganalisis aspek individu dari interaksi antara lingkungan dan manusia secara terpisah.

Lingkungan mempengaruhi kesehatan manusia secara mendalam. Akan tetapi hanya terdapat sedikit teori yang dapat menjelaskan bentuk hubungan antara fisiologi manusia dan lingkungan. Para ilmuwan dari Gunung Sinai percaya bahwa sistem kompleks semacam ini tidak dapat berinteraksi secara langsung, dan mereka membutuhkan pembentukan perantara “interface”, atau antarmuka. Para ilmuwan percaya bahwa teori tersebut akan mengarah pada pembentukan suatu bidang baru, yakni “biodinamika lingkungan”, yang akan lebih memajukan bagaimana lingkungan dan kesehatan manusia dipelajari.

Dasar dari teori tersebut muncul ketika para ilmuwan membandingkan periode waktu ketika anak-anak autis terpapar terhadap suatu racun dengan bagaimana otak anak-anak tersebut berkerja setelahnya. Pada saat yang sama, para ilmuwan menemukan pola yang berbeda dalam asupan dan metabolisme elemen penting serta racun, yang bergantung tidak hanya pada waktu dan besarnya paparan terhadap lingkungan, namun juga pada apa yang terjadi dalam sistem biologis tubuh anak tersebut .

Manish Arora, Ph.D., Profesor Edith J. Baerwald dan Wakil Ketua Kedokteran Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kedokteran Icahn di Gunung Sinai mengatakan bahwa ritme tersebut didorong oleh ciri-ciri sistem biologis dan lingkungan. Akan tetapi, terlihat ciri yang tidak bergantung pada kedua sistem tersebut. Ciri independen tersebut mendukung adanya suatu antarmuka yang memediasi interaksi sistem biologis dan lingkungan. Antarmuka itu sendiri, yang menerapkan batasan dan meneruskan informasi antara sistem yang berinteraksi, haruslah menjadi subjek penelitian oleh karena tanpa memfokuskan kembali perhatian pada antarmuka biodynamic, maka tidak dapat dibedakan bagaimana lingkungan berdampak pada kesehatan.

Studi mengenai antarmuka memungkinkan para ilmuwan untuk dapat lebih memahami bagaimana suatu sistem yang kompleks seperti lingkungan dan fisiologi manusia mempengaruhi satu sama lain. Para ilmuwan berpendapat bahwa metode yang ada saat ini, yang menggunakan analisis biasa, belumlah lengkap.

Paul Curtin, Ph.D., Asisten Profesor Kedokteran Lingkungan dan Masyarakat Kesehatan di Fakultas Kedokteran Icahn di Gunung Sinai, seorang penulis studi ini mengatakan bahwa jalur penyelidikan standar mengukur beberapa aspek lingkungan seperti timbal dalam air. Para ilmuwan kemudian akan menghubungkan hal tersebut dengan beberapa aspek dalam perkembangan manusia seperti IQ. Dirinya dan ilmuwan lainya telah belajar banyak mengenai kesehatan lingkungan dengan menggunakan pendekatan ini. Akan tetapi, pendekatan ini juga memiliki batasan.

Antarmuka tersebut juga memberi gagasan bahwa dinamika sosial, perilaku, dan budaya akan menjadi jalan penelitian yang sangat bermanfaat. Teori baru tersebut akan memungkinkan para ilmuwan untuk menilai antarmuka antara hasil yang didapat dan proses lainnya, termasuk hasil kesehatan dengan menggunakan metode sistem dinamis. Secara demikian teori tersebut juga dapat menilai apakah aktivitas yang dilakukan manusia dapat secara negatif mempengaruhi lingkungan dan juga secara negatif mempengaruhi hasil kesehatan mereka sendiri serta juga dampak lingkungan lebih lanjut dari waktu ke waktu.

Studi dari Dr. Arora tersebut didanai oleh Revolutionizing Innovative, Visionary Environmental Health (RIVER) Award dari Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan, dengan total $ 8 juta selama delapan tahun agar dapat menyelesaikan penelitian tentang antarmuka biodynamic tersebut. Alessandro Giuliani, Ph.D., Profesor Kesehatan Lingkungan di Universitas Roma, telah memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan teori tersebut.

Robert O. Wright, MD, MPH, Profesor Ethel H. Wise dan Ketua Pengobatan Lingkungan dan Kesehatan Masyarakat dan Direktur Institut Penelitian Eksposomik di Sekolah Kedokteran Icahn di Gunung Sinai mengatakan bahwa dugaan yang diajukan oleh Arora, Giuliani, dan Curtin memiliki potensi untuk menjadi suatu terobosan besar, oleh karena dengan mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi waktu biologis mungkin dapat menjadi kunci untuk memahami mengapa seseorang menua atau menjadi dewasa pada tingkat yang berbeda, dan bagaimana pengalaman awal kehidupan manusia dapat memengaruhi kesehatannya saat telah menjadi orang dewasa.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari The Mount Sinai Hospital / Mount Sinai School of Medicine. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA