34.8 C
Yogyakarta
18 Oktober 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

Terobosan, Peneliti Universitas Oxford Rekomendasikan Dexamethasone sebagai Obat Covid-19

Dexamethasone obat yang mudah kita temukan di apotek telah direkomendasikan para peneliti dari Universitas Oxford untuk mengobati penderita Covid-19. Peneliti itu menyebut jika dexamethasone digunakan sejak awal pandemi, kemungkinan ada 5.000 kematian yang dapat dicegah di Inggis.

Hal ini tentu menjadi kabar baik di tengah semakin banyaknya angka penularan Covid-19 dan kematian yang disebabkan olehnya. Dikutip dari Detik.com, dalam kasus yang parah, virus Corona secara langsung menyerang sel-sel yang melapisi saluran udara dan paru-paru pasien. Namun, infeksi tersebut juga dapat memicu reaksi kekebalan yang luar biasa yang sama berbahayanya.

Tiga perempat pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit harus menerima bantuan oksigen. Obat dexamethasone diberikan untuk mengurangi peradangan yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh. Dalam penelitian tersebut, obat dexamethasone mengurangi sepertiga kematian pasien yang menggunakan ventilator, dan seperlima kematian pasien dengan bantuan oksigen.

“ini adalah peneliti yang sudah mapan, ini adalah terobosan besar, terobosan besar”

“Dengan asumsi bahwa ketika melalui peer review, ia berdiri, dan ini adalah peneliti yang sudah mapan, ini adalah terobosan besar, terobosan besar,” kata Dr Sam Parnia, seorang pulmonolog dan profesor kedokteran di Grossman School of Medicine di Universitas New York.

Peter Horby, seorang profesor penyakit menular di Universitas Oxford, mengatakan bahwa obat dexamethasone kini harus menjadi standar perawatan pasien. Karena selain murah, obat dexamethasone tersedia secara luas dan dapat segera digunakan.

“Ada manfaat yang nyata dari penggunaan obat ini. Dexamethasone diberikan selama 10 hari kepada pasien dan hanya membutuhkan biaya 5 poundsterling. Itu artinya, hanya butuh 35 poundsterling (Rp 623.123) untuk menyelamatkan satu nyawa. Obat (dexamethasone) ini juga sudah tersedia secara massal,” ujar Martin Landray, yang juga memimpin penelitian.

Walau demikian perlu dipahami bahwa obat ini hanya digunakan pada pasien yang menggunakan alat bantu pernapasan, yaitu ventilator dan oksigen. Artinya, hanya orang-orang dengan gejala berat saja yang bisa mengonsumsinya. Sehingga obat ini tidak akan bekerja untuk pasien yang bergejala ringan. Obat ini hanya boleh digunakan untuk pasien Covid-19 dalam pantauan dokter.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA