Ditulis oleh 9:21 am SAINS

Tertawa Bertindak sebagai Penahan Stres

Interaksi antara peristiwa stres dan intensitas tawa (kuat, sedang atau lemah), tidak ada korelasi statistik dengan gejala stres.

Seringkah anda tertawa? Banyak yang mengatakan bahwa orang-orang yang sering tertawa dalam kehidupan sehari-harinya mungkin lebih membantu ketika menghadapi peristiwa-peristiwa yang membuat stres, terlepas intensitasnya. Hal Ini yang merupakan temuan dari tim peneliti dari University of Basel di jurnal PLOS ONE.

Peneliti memperkirakan bahwa orang biasanya tertawa 18 kali sehari – umumnya selama interaksi dengan orang lain dan tergantung pada tingkat kesenangan yang mereka alami. Para peneliti juga melaporkan perbedaan yang berkaitan dengan waktu, usia, dan jenis kelamin – misalnya, diketahui bahwa rata-rata wanita lebih banyak tersenyum daripada pria.

Kini, para peneliti dari Divisi Psikologi Klinis dan Epidemiologi dari Departemen Psikologi di Universitas Basel melakukan penelitian tentang hubungan antara peristiwa stres dan tawa dalam hal menerima stres yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertanyaan yang diajukan oleh aplikasi

Dalam studi longitudinal yang intensif, sinyal akustik dari aplikasi ponsel mendorong relawan untuk menjawab pertanyaan delapan kali sehari dengan interval tidak teratur selama 14 hari. Pertanyaan-pertanyaan persebut terkait dengan frekuensi dan intensitas tawa dan alasan untuk tertawa – serta peristiwa stres atau gejala stres yang dialami – sejak sinyal terakhir.

Dengan menggunakan metode ini, para peneliti yang bekerja dengan penulis utama, Dr. Thea Zander-Schellenberg dan Dr. Isabella Collins, dapat mempelajari hubungan antara tawa, peristiwa stres, dan gejala stres fisik dan psikologis (“saya sakit kepala” atau “saya merasa gelisah”) sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Analisis yang baru diterbitkan didasarkan pada data dari 41 siswa psikologi, 33 di antaranya adalah perempuan, dengan usia rata-rata di bawah 22 tahun.

Intensitas tawa kurang berpengaruh

Hasil pertama dari penelitian observasional ini sudah seperti harapan berdasarkan pada literatur spesialis: pada fase di mana subjek sering tertawa, peristiwa stres dikaitkan dengan gejala stres subjektif yang lebih kecil. Namun, temuan kedua merupakan hal yang terduga. Ketika dilihat interaksi antara peristiwa stres dan intensitas tawa (kuat, sedang atau lemah), tidak ada korelasi statistik dengan gejala stres. Peneliti berpendapat bahwa hal Ini bisa jadi karena orang lebih bisa memperkirakan frekuensi tertawa mereka, daripada intensitasnya, selama beberapa jam terakhir. (Disadur dari situs sciencedaily)

(Visited 8 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 1 Agustus 2020
Close