Tetap Bahagia Meskipun Covid-19 Masih Melanda

Permasalahan yang kita hadapi, menjadikan kehidupan seolah-olah tiada lagi harapan. Kenyataanya, semua tergantung bagaimana seseorang dalam menghadapinya; dengan penuh kebahagiaan dan kenyamanan ataukah dengan berkeluh kesah berkepanjangan.

Oleh : Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si.

Hidup penuh misteri. Hidup ini suatu saat  penuh kebahagiaan   dan pada saat yang lain penuh kesedihan serta kegalauan. Bahagia dan sengsara datang  silih berganti. Hidup laksana “cakra manggilingan” atau roda pedati yang selalu berputar, kadang di atas dan suatu saat terperosok ke bawah, yang tidak mudah untuk bangkit kembali. Tahun  2020 sekarang ini, tantangan dan kesulitan yang kita hadapi juga tidak semakin sedikit, melainkan semakin besar lagi komplek.

Salah satunya adalah Covid-19 yang menjadikan kehidupan seolah-olah tiada lagi harapan. Kenyataanya,  semua tergantung bagaimana seseorang dalam menghadapinya;  menghadapi dengan penuh  kebahagiaan dan kenyamanan   ataukah  dengan  berkeluh kesah berkepanjangan. Orang Islam sudah diajari untuk meraih kebahagiaan dunia-akhirat, sebagaimana doa “sapu jagat” yang selalu kita lantunkan: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”. (QS Al-Baqarah, 2 : 201).  

Doa  sapu jagat  ini hampir semua orang Islam telah hafal luar kepala.  Untuk merealisasikan doa sapu jagat yang telah dihafalnya dalam kehidupan sehari-hari, dapat ditempuh dengan beberapa cara; Pertama, jangan terlalu lihat ke atas, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW : “Lihatlah orang yang ada di bawahmu dan jangan melihat orang yang ada di atasmu, sebab itu lebih baik agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah). Demikian juga dalam memandang ujian Covid-19, masih banyak orang yang lebih menderita daripada kita.

Kedua,  jangan bandingkan diri dengan orang lain, sebagaimana firman-Nya : “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagiaan kamu lebih banyak dari sebahagiaan yang lain”. (QS An-Nisa, 4:32). Iri dan dengki atas capaian orang lain akan menjadikan hidup ini selalu tersiksa, penuh dendam dan akhirnya putus asa dari rahmat Allah.

Ketiga, jangan kaitkan kebahagiaan dengan orang lain. Ada fenomena di kalangan pemuda yang patah hati karena cintanya ditolak dengan mengatakan saya tidak bisa hidup tanpa dia atau tidak ada wanita lain sebaik dan secantik dia. Inilah contoh sikap mengkaitkan kebahagiaan dengan orang lain. Padahal yang membuat seseorang bahagia adalah Allah SWT, sebagaimana firman-Nya : “Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis”. (QS An-Najm, 53:43).

Keempat, hidup sederhana. Sederhana adalah istilah lain dari bahagia. Bahagia adalah sederhana, sederhana adalah bahagia. Kalau ingin bahagia harus sederhana dalam hidup. Yang membuat hidup seseorang menderita, sempit dan menghimpit bukan karena kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi, melainkan gaya hidup. Dengan hidup sederhana, seseorang secara tidak langsung telah menyederhanakan masalah menjadi lebih mudah dan simpel.

Kalau ingin bahagia harus sederhana dalam hidup. Yang membuat hidup seseorang menderita, sempit dan menghimpit bukan karena kebutuhan hidup yang tidak terpenuhi, melainkan gaya hidup.

Kelima,  berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah. Orang yang beriman harus memiliki keyakinan bahwa pemberian Allah kepada kita sekarang ini adalah yang terbaik baginya. Bahkan jika suatu saat dipanggil menghadap-Nya tetap dianjurkan husnudzan kepada Allah SWT. Sabda Rasulullah Muhammad SAW : “Janganlah seorangpun di antara kalian yang mati kecuali dalam keadaan berhusnudzan kepada Allah”.  (HR Muslim dan Abu Daud).  Keenam, qanaah, yakni ridha terhadap segala yang telah Allah berikan.

Tanpa qanaah ini paras menawan, jabatan terpandang, dan harta yang melimpah tidak mampu menutupi galau dan gelisah yang selalu menghantui.  Hadits berikut ini menggambarkan betapa hebatnya sikap qanaah itu  : “Siapa di antara kalian yang bangun di pagi hari dalam kondisi aman,  tubuhnya sehat, dan memiliki makanan untuk hari tersebut, maka seakan-akan dunia seluruhnya telah diberikan untuknya”. (HR Bukhari dan Tirmidzi). Tetaplah bahagia, meskipun ujian selalu datang dengan tiada putus-putusnya.

Penulis: Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan


Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka”. (QS Al-Baqarah, 2 : 201)


(Visited 88 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020