Tiap Rumah Adalah Sekolah

Pendidikan dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun.

Oleh: Dr. Supardi, M.Pd.

Tiap-tiap rumah jadi perguruan, tiap-tiap orang jadi pengajar, dengan atau tanpa ordonansi”.

Kalimat di atas ditulis Ki Hadjar Dewantara dalam  Majalah Pusara  November-Desember 1932/1933  bagian dari  artikel Bertumbuhnya perguruan nasional di atas kubur westersch-kolonial schoolsystem.  Ki Hadjar  protes kebijakan Pemerintah Hindia Belanda  terhadap sekolah yang tidak berijin,  terkenal dengan Ordonansi No. 494 tahun 1932 (Ordonansi Sekolah Liar). Pemerintah mengawasi guru dan sekolah yang tidak memiliki ijin dari Pemerintah. Guru di sekolah liar harus memperoleh ijin mengajar dari pemerintah setempat.

Taman Siswa sebagai salah satu sekolah liar,  tidak mau takluk kepada kebijakan tersebut. Ki Hadjar menegaskan bangsa Indonesia tidak perlu takut  ancaman Pemerintah Hindia Belanda. Rumah (keluarga)  sebagai pusat utama  pendidikan menjadi alternatif, menggantikan sekolah formal. Rumah menjadi sekolah dan orang tua menjadi guru anak-anaknya. Pendidikan dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Semangat Ki Hadjar di atas sesuai dengan kondisi pendidikan di tengah pandemi  Coronavirus Disease (Covid-19) saat ini. Walaupun sekarang tidak lagi dalam penjajahan, tetapi wabah Covid-19 memaksa aktivitas pendidikan tidak dapat berjalan normal. Hampir semua sekolah tidak dapat melaksanakan pembelajaran seperti biasa. Semua rumah kini menjadi sekolah, dan orang tua menjadi guru.  

Hampir semua sekolah tidak dapat melaksanakan pembelajaran seperti biasa. Semua rumah kini menjadi sekolah, dan orang tua menjadi guru.  

Menjadikan rumah sebagai sekolah memang bukan pekerjaan mudah. Selama ini orang tua lebih banyak menyerahkan urusan pendidikan kepada sekolah. Program belajar di rumah, ‘memaksa’ guru, murid, dan orang tua mengintensifkan penggunaan teknologi  informasi dalam pembelajaran. Sementara ‘pembelajaran dalam jaringan’, masih menghadapi kendala baik ketersediaan sistem, sarana, kemampuan guru, orang tua, dan peserta didik. Dengan berbagai keterbatasan, konsep belajar di rumah harus tetap berjalan.

Kesulitan belajar di rumah paling banyak adalah  para orang tua yang anak-anaknya belajar di SD dan SMP. Pada jenjang ini peran orang tua lebih besar dibandingkan anak-anak usia SMA dan perguruan tinggi. Orang tua  kesulitan mendampingi anak-anak, karena merasa tidak menguasai semua mata pelajaran. Walaupun internet menjadi salah satu solusi, tetap saja mereka merasa kesulitan. Kesulitan lain, selain mendampingi anak belajar, orang tua juga harus tetap bekerja.

Analogi pelajaran daring adalah memberikan tugas, menjadi beban berat lain dalam melaksanakan rumah sebagai sekolah.  Kesulitan  kemudian diatasi dengan  mengintegrasikan beberapa mata pelajaran menjadi satu tugas terintegrasi. Upaya ini menjadi keuntungan tersendiri, karena memberikan pengalaman penting kepada peserta didik untuk memecahkan masalah secara terintegrasi. Selama ini anak-anak masih dominan mempelajari masalah secara monodisiplin, sehingga tugas terintegrasi memberikan pembiasaan anak untuk berfikir kovergen dan divergen.

Kita memaklumi kesulitan orang tua menguasai   materi pelajaran, tetapi ada hal lebih besar dan lebih penting yang bisa didapatkan dari rumah sebagai sekolah, yakni pendidikan karakter. Kebijakan belajar dari rumah diperkirakan memakan waktu lebih dari dua bulan, cukup untuk membentuk habituasi karakter anak-anak. Dengan pembatasan ke luar rumah saat ini, orang tua lebih mudah membiasakan kegiatan positif. Pada konteks inilah,  orang tua diuji, bagaimana  membentuk karakter anak-anak, yang selama ini lebih banyak ‘hidup’ di sekolah.

Habituasi keseharian selama masa belajar di rumah menjadi teladan dan inspirasi anak-anak. Anak-anak pasti maklum jika orang tua tidak menguasai semua mata pelajaran. Mereka akan beruntung memperoleh hal yang lebih penting daripada materi pelajaran, yaitu yakni kebutuhan batin. Karakter  merupakan pondasi terpenting dalam membentuk keberhasilan anak. Kita tidak mampu mengajarkan materi IPS, matematika, dan IPA  tetapi kita dapat mengajari bagaimana berusaha  menyelesaikan tugas  dengan penuh kesabaran dan keikhalasan. Mari kita buktikan bahwa rumah kita adalah sekolah, dan kita adalah guru yang mampu mendidik anak-anak. Kita tidak banyak memberikan materi, tetapi kita berkesempatan memberikan kebutuhan batin, seperti ditegaskan Ki Hadjar, “pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti  (kekuatan batin, karakter), fikiran (intelek), dan tubuh anak.”  Kalau orang tua tidak dapat memenuhi kebutuhan intelek secara optimal,  masih ada dua hal penting yakni budi pekerti dan raga anak-anak. Selamat menjadi kepala sekolah dan guru di rumah! 


Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti  (kekuatan batin, karakter), fikiran (intelek), dan tubuh anak.”  (Ki Hadjar)


(Visited 449 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020