Top 10 Bencana Alam Paling Mematikan Dalam Sejarah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Bencana alam yang besar merupakan salah satu kejadian alam yang hingga kini masih sulit ditanggulangi oleh manusia, setiap tahun, diperkirakan hampir 100.000 orang tewas dalam bencana alam, baik akibat gempa bumi, letusan gunung berapi, angin topan, tsunami, banjir, kebakaran hutan dan kekeringan. Dan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 150 juta orang juga di seluruh dunia juga terkena dampak dari bencana-bencana tersebut. Bencana alam sendiri telah menjadi cobaan bagi umat manusia sejak dahulu kala, akan jumlah dari korban akibat dari bencana telah hilang dalam sejarah. Sebagai contoh, pulau Thera di Mediterania kuno (sekarang Santorini, Yunani), mengalami letusan gunung berapi dahsyat yang memusnahkan seluruh peradaban Minoa sekitar 1600 SM, menurut sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academies of Sciences. Tapi berapa banyak nyawa yang hilang? Kita tidak akan pernah tahu.

Akan tetapi, berkat catatan sejarah dan jurnal, sejarawan setidaknya bisa memperkirakan jumlah korban jiwa terkait bencana yang terjadi di common era. Dan menurut catatan tersebut, berikut ini adalah bencana alam yang paling mematikan sepanjang masa, yang di berikan ranking berdasarkan korban tewas terendah hingga tertinggi. (Untuk bencana-bencana yang jumlah korban jiwanya merupakan kisaran, perkiraan tertinggi yang akan digunakan.)

10. Gempa bumi Aleppo tahun 1138 M & Gempa dan Tsunami Samudra Hindia 2004 (Tsunami Aceh 2004)

Pada 11 Oktober 1138, tanah di bawah kota Aleppo di Suriah terkena gempa besar. Kota tersebut terletak pada pertemuan lempeng Arab dan Afrika, sehingga mengakibatkan daerah tersebut rentan terhadap gempa. Gempa yang satu ini tergolong sangat ganas, meski besar dari gempa tersebut telah hilang. Akan tetapi, penulis sejarah kontemporer memberikan laporan bahwa benteng dari kota runtuh dan rumah-rumah runtuh di Aleppo. Korban tewas akibat bencana ini diperkirakan sekitar 230.000. Namun angka tersebut berasal dari abad ke-15, dan menurut sebuah makalah tahun 2004 dalam jurnal Annals of Geophysics, sejarawan yang melaporkan itu mungkin telah menggabungkan data gempa Aleppo dengan gempa yang terjadi di tempat yang sekarang menjadi negara Eurasia modern Georgia. Akan tetapi jumlah korban tewas tersebut menetapkan bencana tersebut sebagai bencana alam paling mematikan ke-10 sepanjang masa.

Untuk urutan ke sepuluh ini, ada satu lagi yang menyamai gempa di Aleppo ini, yakni gempa bumi berkekuatan 9,1 yang melanda bawah laut lepas pantai barat Sumatera, Indonesia, pada 26 Desember 2004, atau yang lebih kita kenal sebagai tsunami aceh 2004. Gempa tersebut menciptakan tsunami besar yang menewaskan sekitar 230.000 jiwa, dan membuat hampir 2 juta orang mengungsi di 14 negara-negara Asia Selatan. dan negara-negara Afrika Timur. Dengan kecepatan 500 mph (804 kph), tsunami tersebut mencapai daratan hanya dalam waktu 15 sampai 20 menit setelah gempa terjadi, memberi penduduk sedikit waktu untuk melarikan diri ke tempat yang lebih tinggi. Menurut World Vision, sebuah organisasi bantuan kemanusiaan, di beberapa tempat, utamanya di Indonesia, di mana merupakan daerah yang paling parah terkena, gelombang tsunami mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki (30 meter).

Kerusakan akibat gempa bumi dan tsunami tersebut diperkirakan mencapai $ 10 miliar dolar. Bencana ini dianggap sebagai gempa bumi terbesar ketiga di dunia sejak tahun 1900, dan tsunami yang terjadi telah menewaskan lebih banyak orang daripada tsunami lainnya dalam sejarah yang tercatat, menurut Pusat Informasi Lingkungan Nasional NOAA.

9. Gempa Tangshan tahun 1976

Menurut laporan oleh Survei Geologi AS (USGS)  Pada pukul 3:42 pagi pada 28 Juli 1976, gempa berkekuatan 7,8 skala Richter mengenai kota Tangshan di China dan membuat kota tersebut rata dengan tanah. Tangshan sendiri merupakan kota industri dengan populasi sekitar 1 juta pada saat bencana tersebut terjadi. Korban jiwa akibat bencana ini mencapai lebih dari 240.000 orang jiwa. Meskipun jumlah tersebut adalah jumlah korban tewas resmi, beberapa ahli berpendapat bahwa jumlah ini terlalu sedikit dan korban jiwa yang sebenarnya kemungkinan mendekati 700.000. Dilaporkan bahwa 85% bangunan Tangshan runtuh, dan getaran gempanya terasa di Beijing, Cina, yang jauhnya lebih dari 100 mil (180 km). Butuh beberapa tahun sebelum kota Tangshan dibangun kembali seperti semula.

8. Gempa Antiokhia 526 A.D.

Bencana ini, layaknya bencana lain yang terjadi ribuan tahun yang lalu, tidak memiliki jumlah korban jiwa yang tepat. Penulis sejarah kontemporer John Malalas menulis pada saat itu bahwa sekitar 250.000 orang tewas ketika gempa bumi menghantam kota Kekaisaran Bizantium (sekarang Turki dan Suriah) pada Mei 526. Malalas menghubungkan bencana tersebut dengan murka Tuhan dan melaporkan bahwa api menghancurkan segalanya di Antiokhia itu. gempa tidak. Menurut sebuah makalah tahun 2007 di The Medieval History Journal, jumlah korban tewas akibat bencana ini lebih tinggi daripada pada waktu-waktu lain dalam setahun karena kota itu penuh dengan turis yang merayakan Hari Kenaikan. 

7. Gempa bumi tahun 1920 di Haiyuan

Deng Qidong, seorang ahli geologi dari Akademi Ilmu Pengetahuan China, dalam sebuah seminar pada tahun 2010 mengatakan bahwa gempa Haiyuan adalah gempa terbesar yang tercatat di China pada abad ke-20 dengan kekuatan dan intensitas tertinggi. Gempa tersebut melanda China bagian tengah utara, Kabupaten Haiyuan pada 16 Desember 1920, dan juga mengguncang Provinsi Gansu dan Shaanxi yang berdekatan. Menurut laporan, gempa tersebut berkekuatan 7,8 skala Richter, akan tetapi China hari ini mengklaim gempa tersebut berkekuatan 8,5 skala Richter. Ada juga perbedaan dalam jumlah korban jiwa. USGS melaporkan total korban 200.000, akan tetapi menurut sebuah studi pada 2010 oleh seismolog Cina, jumlah kematian bisa mencapai 273.400. Endapan tanah loess yang tinggi di kawasan itu (berpori, sedimen berlumpur yang sangat tidak stabil) memicu tanah longsor besar-besaran yang bertanggung jawab atas lebih dari 30.000 kematian ini, menurut sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan dalam jurnal Landslides.

  • Topan Coringa 1839 & Topan Haiphong 1881

Selanjutnya adalah topan Coringa yang menerjang kota pelabuhan Coringa di Teluk Benggala India pada 25 November 1839. Menurut Divisi Riset Badai Laboratorium Oseanografi dan Meteorologi Atlantik NOAA bencana ini memicu gelombang badai setinggi 40 kaki (12 m). Layaknya banyak badai yang terjadi sebelum abad ke-20, Kecepatan dan kategori angin badai tersebut tidak diketahui. Sekitar 20.000 kapal dan kapal hancur, dan memakan korban sekitar 300.000 orang.

Dengan perolehan peringkat yang sama sebagai bencana alam paling mematikan keenam adalah angin topan tahun 1881 yang melanda kota pelabuhan Haiphong di timur laut Vietnam pada 8 Oktober. Badai ini juga diyakini telah menewaskan sekitar 300.000 orang.

5. Gempa Haiti 2010

Bencana selanjutnya adalah salah satu bencana yang amat dikenang dalam sejarah manusia. Gempa dahsyat berkekuatan 7,0 yang melanda Haiti di barat laut Port-au-Prince pada 12 Januari 2010, merupakan salah satu dari tiga gempa paling mematikan sepanjang masa. Posisi Haiti sebagai salah satu negara termiskin di Belahan Barat dan sedikitnya sejarah berhadapan dengan gempa bumi besar membuat daerah ini sangat rentan terhadap kerusakan dan kematian. Sebanyak 3 juta orang terdampak gempa besar ini. Perkiraan jumlah korban tewas ada di mana-mana. Pada awalnya, pemerintah Haiti memperkirakan korban jiwa mencapai 230.000 orang, tetapi pada Januari 2011, pejabat merevisi angka itu menjadi 316.000. Sebuah studi tahun 2010 yang diterbitkan dalam jurnal Medicine, Conflict and Survival menyebutkan jumlahnya sekitar 160.000 kematian, sedangkan USGS mengklaim angka yang lebih rendah – sekitar 100.000. Kesenjangan ini mencerminkan sulitnya menghitung kematian bahkan di era modern, dan lebih jauh lagi terdapat perselisihan politik yang terjadi atas angka “resmi”.

4. Topan Bhola tahun 1970

Badai tropis berikut ini menghantam tempat yang sekarang disebut Bangladesh (kemudian Pakistan Timur) pada 12-13 November 1970. Menurut Divisi Riset Badai NOAA, kecepatan angin terkuat badai tersebut mencapai 130 mph (205 kph), menjadikannya setara dengan Kategori 4 badai besar pada skala Badai Saffir-Simpson. Menjelang pendaratannya, gelombang badai setinggi 35 kaki (10,6 m) menyapu pulau-pulau dataran rendah yang berbatasan dengan Teluk Benggala, menyebabkan banjir yang membenamkan banyak daerah.

Gelombang badai tersebut, dan dengan kurangnya evakuasi, mengakibatkan korban jiwa yang diperkirakan mencapai 300.000 hingga 500.000 orang. Sebuah laporan tahun 1971 dari National Hurricane Center dan Departemen Meteorologi Pakistan mengakui tantangan dalam memperkirakan korban tewas secara akurat, terutama karena masuknya pekerja musiman yang berada di daerah untuk panen padi. Hingga kini, topan Bhola dianggap sebagai topan tropis paling mematikan yang pernah tercatat, menurut Organisasi Meteorologi Dunia. Dan bencana ini menyebabkan kerusakan sekitar $ 86 miliar.

3. Gempa 1556 Shaanxi

Gempa ini dianggap sebagai gempa paling mematikan dalam sejarah, dan menghantam provinsi Shaanxi di China pada tanggal 23 Januari 1556. Gempa ini dikenal sebagai “Gempa Bumi Besar Jiajing” yang dinamai setelah kaisar yang di mana tengah memerintah saat gempa terjadi. Menurut Museum Sains China, gempa ini mengurangi petak seluas 621 mil persegi (1.000 kilometer persegi) dari membuat negara tersebut menjadi tumpukan puing-puing. Diperkirakan 830.000 orang tewas ketika yaodong mereka, yakni rumah gua yang diukir di dataran tinggi loess di kawasan tersebut runtuh. Besaran pasti gempa tersebut tidaklah diketahui, namun ahli geofisika modern memperkirakannya sekitar skala 8.

2. Banjir Sungai Kuning tahun 1887

Sungai Kuning (Huang He) di China, secara berbahaya terletak jauh di atas sebagian besar tanah di sekitarnya pada akhir tahun 1880-an. Hal ini disebabkan oleh serangkaian tanggul yang dibangun untuk menampung sungai saat mengalir melalui tanah pertanian di Cina tengah. Seiring waktu, tanggul-tanggul tersebut mengendap, dan secara bertahap mengangkat sungai ke ketinggian. Menurut “Encyclopedia of Disasters: Environmental Catastrophes and Human Tragedies” (Greenwood Publishing Group , 2008),k etika hujan lebat melanda sungai pada bulan September 1887, air yang ditampung tersebut tumpah di atas tanggul-tanggul ini ke dataran rendah di sekitarnya, menggenangi 5.000 mil persegi (12.949 km persegi). Akibat banjir tersebut, diperkirakan 900.000 hingga 2 juta orang kehilangan nyawa mereka.

1. The 1931 Yangtze River floods

Curah hujan yang berlebihan di China tengah pada bulan Juli dan Agustus 1931 adalah pemicu dari bencana alam paling mematikan dalam sejarah dunia, yakni banjir China Tengah tahun 1931. Sungai Yangtze mulai meluap saat salju mulai mencair pada musim semi, ditambah dennga campuran lebih dari 24 inci (600 milimeter) hujan yang jatuh selama bulan Juli saja. Dalam periode ini sungai Kuning dan saluran air besar lainnya juga mencapai tingkat yang tinggi. Menurut “The Nature of Disaster in China: The 1931 Yangzi River Flood” (Cambridge University Press, 2018), banjir tersebut menggenangi hampir 70.000 mil persegi (180.000 km persegi) dan mengubah Yangtze menjadi nampak seperti sebuah danau atau lautan raksasa. Pemerintah saat ini menyebutkan bahwa jumlah korban tewas akibat bencana ini adalah sekitar 2 juta jiwa. Akan tetapi, lembaga lain, termasuk NOAA, mengatakan bahwa terdapat kemungkinan korbannya sebanyak 3,7 juta orang. 

Tentunya masih banyak bencana alam yang mungkin lebih besar dna lebih merusak dari pada daftar diatas. Berhimpunan data oleh karenanya menjadi suatu hal yang penting, karena tidak hanya kita dapat mengetahui bencana-bencana di masalah lalu beserta kerusakan dan korban yang ditimbulkannya, namun kita juga dapat mengantisipasi mana kala kejadian tersebut terjadi lagi. Dengan bantuan ilmu pengetahuan kita sekarang, mempersiapkan bila terjadi bencana menjadi jauh lebih mudah dan dapat mengurangi hilangnya nyawa.

Sumber :

Situs livescience. Naskah pertama kali ditulis oleh Stephanie Pappas dan Tiffany Means.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti