Ditulis oleh 9:02 am COVID-19

Tukang Sayur

Keadaan telah menciptakan cara baru, yang lebih efisien dan lebih “pasti”

Entah siapa pemulai berdagang sayur keliling. Metode ini, kemungkinan untuk melayani mereka yang tidak bisa pergi ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur sehari-hari. Jika benar demikian itu layarnya, maka boleh dikatakan sang pemula tersebut punya kejelian pandangan. Suatu peluang diambil dan hasilnya adalah satu jenis pekerjaan, atau satu jenis mata pencarian.

Kalau kepada mereka ditanyakan, apakah langkah tersebut diawali dengan studi? Apakah ada langkah menguji hasil studi, sebelum akhirnya digunakan? Pertanyaan sederhana ini, terasa sulit dan mungkin tidak pada tempatnya. Jawaban segera bisa di dapat, karena sangat mudah diduga. Dan praktek berdagang sayur keliling berjalan hingga kini. Jumlahnya tersebar ke seantero negari. Masing-masing belajar, dan masing-masing mereka menemukan sendiri formasi yang paling tepat untuk diterapkan didaerahnya.

Apabila dimulai dengan studi pendahuluan dan seluruh prosedur tersebut dilewati, terbuka kemungkinan berdagang keliling sebagai sebuah metode akan dipatenkan oleh penemunya. Dapat dibayangkan apa hasilnya jika paten tersebut dikomersialkan. Sebagaimana metode-metode lain, atau peralatan temuan masyarakat lainnya (mereka orang kebanyakan), metode ini (berdagang keliling), tidak dilengkapi dengan ragam prosedur. Semua berjalan begitu saja, sebagai bagian dari upaya bertahan hidup.

Para pedagang ini, dari sudut kebutuhan pembukaan lapangan kerja, dapat digolongkan sebagai “penyumbang lapangan kerja”. Sebagian dari tugas negara diurus oleh mereka, dengan cara tidak menggantungkan pada kebijakan penciptaan lapangan kerja. Mereka berinisiatif dan mengambil resiko. Mengapa resiko? Karena barang yang dijajakan, adalah barang yang dibeli secara kontan di pasar, dan jika tidak laku, maka sang pedagang harus menanggungnya. Artinya, praktek ini merupakan praktek penuh resiko. Namun demikian, dijalani dengan penuh optimisme oleh para pedagang, karena mungkin, hanya itulah yang dapat dilakukan untuk menjaga agar asap dapur terus mengepul.

Para pedagang ini, dari sudut kebutuhan pembukaan lapangan kerja, dapat digolongkan sebagai “penyumbang lapangan kerja”. Sebagian dari tugas negara diurus oleh mereka.

Pagi mengiringi fajar menyingsing, mereka pergi ke pasar, membeli segala kebutuhan. Apa yang dibeli, merupakan dugaan atas apa yang akan dibeli. Dugaan tersebut tentu bukan dugaan tanpa dasar. Ada permintaan, ada pula pengamatan yang (mungkin) tidak tertulis. Kalau jenis permintaan, tentu akan mudah dan tidak punya resiko. Namun jika merupakan tebakan, maka resiko mengintip. Yakni apabila yang dibeli tidak dikonsumsi oleh pembeli. Inilah yang diatas disebut resiko. Namun disitu pula letak seni berdagang. Suatu jenis hiburan tersendiri. Pedagang akan tersenyum lepas jika tebakannya benar, dan tentu sebaliknya.

Kini, situasi berubah. Tentu tidak drastis. Kebutuhan dan keharusan menjaga jarak, tentu memiliki dampak tersendiri. Pasti rasa khawatir juga menyelinap di garis depan. Akan tetapi, kebutuhan sehari-hari, telah lebih dahulu berdiri di barisan paling depan. Dalam dinamika itulah, muncul cara-cara yang bersifat saling membantu.

Rumah-rumah yang ingin berdisiplin, yakni tetap di rumah dan selalu menjaga jarak fisik, juga perlu menyediakan kebutuhan sehari-hari. Dua kebutuhan inilah yang bertemu membentuk cara baru, yakni yang di rumah mengirim pesan yang berisi daftar sayur mayur dan kebutuhan lainnya. Yang menerima pesan menjadikan pesan tersebut sebagai daftar barang yang harus dibeli.

Dengan demikian, sebagian besar atau mungkin seluruh barang dagangan yang dibeli merupakan pesanan. Tentu hal ini berarti bahwa resiko tidak terbeli, dapat dikurangi sejauh mungkin. Jika pada hari normal, pedagang keliling, kadang berhenti di suatu pojok dan para pembeli berkerumun, kini pedagang langsung datang dari rumah ke rumah. Sayur yang sudah ada di dalam tas, diletakkan di tempat yang disediakan, dan uang pembelian juga telah tersedia disana, persis sejumlah harga sayur yang dibeli.

Keadaan telah menciptakan cara baru, yang lebih efisien dan lebih “pasti”. Dalam cara tersebut termuat kemudahan. Pengalaman mengatakan bahwa setiap kemudahan, pasti membawa konsekuensi. Kemudahan telah menggeser kursi interaksi dan seni berdagang. Mungkinkah metode ini yang akan terus berlaku paska wabah? Jawabnya: semoga wabah segera berlalu.

(t.red)


Pengalaman mengatakan bahwa setiap kemudahan, pasti membawa konsekuensi. Kemudahan telah menggeser kursi interaksi dan seni berdagang.


(Visited 82 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 14 April 2020
Close