Ujian Hidup Untuk Membuang ke-Aku-an

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman, 31:18).

Oleh: Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M, Si.

Dalam kondisi yang penuh ujian dan bencana saat ini, masih banyak orang yang  merasa bangga dengan apa yang dimilikinya. Bangga akan kecerdasannya, kepandaiannya, kecantikannya, ketampanannya, kekuatan badannya, kemerduan suaranya, harta benda yang dimilikinya, jabatan yang diraihnya  dan berbagai kesuksesan lain.

Manusia senang dipuji, dihargai dan dihormati sebagai bentuk dari ekspresi akan  eksistensi dirinya.   Sehubungan dengan hal ini, Allah sejak  dini telah mengingatkan  dengan firman-Nya: “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Luqman, 31:18).

Kecenderungan atau keinginan untuk menonjolkan ke-aku-an adalah bagian dari karakter  manusia yang tidak bisa dibuang atau dihilangkan, tetapi  hanya bisa dikelola atau diatur sehingga memunculkan sifat positif seperti;  rendah hati, arif, bijaksana, berhati mulia, dan berbagai akhlak mulia yang lain. Dan dalam konteks pengelolaan atau pengaturan diri  ini, ujian Covid-19 sekarang ini adalah momentum yang paling efektif untuk membakar ke-aku-an manusia. Proses membuang ke-aku-an ini dapat dianalogikan dengan pembakaran  sebatang besi yang akan diproses menjadi pisau, alat rumah tangga, atau alat musik tertentu yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Sifat besi yang dingin, ketika dibakar  menjadi panas. Besi yang panas ini ketika ditempelkan pada selembar kertas, maka kertas itu akan ikut terbakar, atau  minimal menjadi gosong. Hal ini sama artinya dengan orang yang sedang mengahadpi ujian hidup, yaitu  ia sebenarnya telah melakukan proses membuang sifat-sifat yang merusak (negatif), termasuk sifat  sombong (takabur), ria, iri, dengki dan sebagainya. Inilah bagian hikmah diturunkannya ujian hidup untuk membakar/membuang  sifat-sifat negatif diri manusia menjadi sifat positif yang mampu menambah nilai harga diri seseorang. Sama halnya dengan prosesi pembakaran besi menjadi pisau, besi yang bersifat tumpul, tetapi setelah dibakar dapat menjadi tajam, namun materi dasarnya tetap besi. Inilah gambaran yang paling sederhana fungsi strategis datangnya ujian  dalam pembentukan sifat-sifat positif manusia.

Ke-aku-an  manusia yang cenderung mengutamakan diri sendiri, individualistis, egois dan memandang dunia luar sebagai ancaman — setelah ditempa  melalui musibah Covid-19  –,  akan melahirkan aku yang menyejarah. Yaitu aku yang  telah menyadari diri dan membuka diri menjadi pribadi yang terbuka, mengakui kenyataan hidup yang multi dimensi dan melahirkan sifat empati, yakni: (1)  mampu memahami orang lain (understanding others), artinyamampu  mengindera  perasaan dan perspektif orang lain  atau menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan orang lain, (2) memiliki sifat yang mengembangkan orang lain (developing others), artinyadapatmerasakan kebutuhan pengembangan orang lain  dan berusaha  menumbuhkan kemampuannya, (3)  memiliki sikap yang  berorientasi pelayanan (service orientation), artinya mampu   mengantisipasi, mengenali dan berupaya memenuhi kebutuhan orang lain,  (4) mampu memanfaatkan keragaman  (leveraging diversity), artinya mampu menumbuhkan peluang  dengan melalui pergaulan, dan (5) memiliki  kesadaran politik (political awareness), yaknimampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.

Itulah salah satu hikmah ujian dari Allah AWT, yakni dapat merubah pribadi yang lemah menjadi kuat, pribadi yang tumpul menjadi tajam, pribadi yang sombong menjadi arif dan tawadhu’,   yang kesemuanya itu  merupakan cerminan dari pribadi taqwa yang menjadi tujuan final (ultimate goal) dari hidup seseorang. Ujian hidup dalam bentuk apapun juga   haruslah  mampu  memberikan   dorongan bagi ummat manusia  untuk melakukan perubahan menuju kepada pribadi yang lebih baik.  Semoga!!!

Penulis: Dosen Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sunan Kalijaga/Ketua Dewan Pembina Yayasan Abdurrahman Baswedan

(Visited 169 times, 1 visits today)
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp

Official Website YAYASAN ABDURRAHMAN BASWEDAN Dikelola oleh Sekretariat ©2020