Ukuran Otak Primata Tidak Mencerminkan Kepandaian Pemiliknya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Hubungan antara ukuran otak dan kemampuan kognitif tidak dapat digeneralisasikan dan hal tersebut memberikan suatu wawasan baru tentang evolusi kemampuan kognitif pada primata.

Seperti yang kita ketahui, simpanse, gorila, dan orangutan merupakan kerabat terdekat kita manusia. Dan layaknya kita, mereka juga memiliki otak yang relatif besar dan sangat cerdas. Namun demikian, apakah hewan-hewan dengan otak yang lebih besar benar-benar menunjukan perbedaan kecerdasan bila melakukan tes kognitif?

Untuk mengetahui hal ini sebuah tim peneliti dari German Primate Center (DPZ), Leibniz Institute for Primate Research di Göttingen untuk pertama kalinya akan melakukan penyeledikkan secara sistematis kemampuan kognitif dari lemur, yang memiliki otak dengan ukuran relatif kecil bila dibandingkan primata lainnya. Melakukan tes sistematis dengan metode yang identik mengungkapkan bahwa kemampuan kognitif lemur hampir tidak memiliki perbedaan dengan monyet dan kera besar lainnya. Sebaliknya, studi tersebut mengungkapkan bahwa hubungan antara ukuran otak dan kemampuan kognitif tidak dapat digeneralisasikan dan hal tersebut memberikan suatu wawasan baru tentang evolusi kemampuan kognitif pada primata.

Manusia dan primata non-manusia dapat dikatakan termasuk dalam makhluk hidup yang paling cerdas di Bumi. Terdapat pandangan bahwa ukuran otak mereka kemungkinan yang mendasari kecerdasan mereka oleh karena primata memiliki otak yang relatif besar dalam hubungannya dengan ukuran tubuh mereka. Sebagai contoh, diasumsikan bahwa otak yang lebih besar memungkinkan dilakukan pembelajaran yang lebih cepat dan memiliki kapasitas memori yang lebih baik. Namun demikian, pada primata, antara spesies dapat memiliki perbedaan hingga 200 kali lipat dalam hal ukuran otak. Tim peneliti kini telah menyelidiki apakah kinerja kognitif dari lemur dengan otak mereka yang relatif kecil memiliki perbedaan bila dibandingkan primata lainnya.

Dengan menggunakan serangkaian tes percobaan kognitif standar yang komprehensif, yang disebut sebagai “Baterai Tes Kognisi Primata” (PCTB), anak-anak, kera besar dan juga babun serta monyet makaka telah diuji kemampuan kognitifnya dalam domain fisik dan sosial. Keterampilan kognitif dalam domain fisik meliputi pemahaman tentang spasial, numerik dan hubungan sebab akibat antara benda mati. Sedangkan untuk keterampilan kognitif dalam domain sosial berhubungan dengan tindakan yang disengaja, persepsi serta pemahaman tentang pengetahuan makhluk hidup lainnya. Studi awal menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kecerdasan sosial yang lebih baik bila dibandingkan dengan primata non-manusia. Akan tetapi, dalam domain fisik, hampir tidak terdapat perbeda meskipun mereka menunjukkan variasi yang besar dalam ukuran otak.

Untuk pertama kalinya, para peneliti dari “Behavioral Ecology and Sociobiology Unit” dari DPZ telah menguji tiga spesies lemur dengan PCTB. Lemur, seperti yang diketahui, adalah primata hidup paling basal dan mewakili hubungan evolusi antara primata dan mamalia lain. Inilah yang menyebabkan lemur dipilih sebagai model hidup kemampuan kognitif asal primata. Studi tersebut meneliti lemur ekor cincin, lemur ruffed hitam-putih, dan lemur tikus abu-abu, yang memiliki perbedaan dalam sistem sosial, pola makan, dan ukuran otak mereka, tidak hanya satu sama lain, namun juga bila dibandingkan dengan monyet Dunia Lama dan kera besar yang telah diuji sebelumnya.

Hasil studi baru tersebut menunjukkan bahwa meskipun otak mereka lebih kecil, kinerja kognitif rata-rata lemur dalam tes PCTB tidak berbeda secara fundamental dari kinerja spesies primata lainnya. Hal ini bahkan berlaku untuk lemur tikus, yang memiliki otak sekitar 200 kali lebih kecil dibandingkan simpanse dan orangutan. Tes dimana primata dengan otak lebih besar memiliki hasil yang lebih baik hanyalah dalam tes yang menguji penalaran spasial. Namun, perbedaan sistematis dalam kemampuan spesies tidak ditemukan baik dalam pemahaman hubungan kausal dan numerik maupun dalam pengujian domain sosial. Pola makan, sistem sosial, atau ukuran otak tidak dapat menjelaskan hasil dari percobaan PCTB.

Claudia Fichtel, salah satu dari dua penulis pertama studi yang didanai oleh German Research Foundation mengatakan bahwa dengan penelitian mereka, ditunjukkan bahwa kemampuan kognitif tidak dapat digeneralisasikan, namun demikian spesies tersebut berbeda dalam hal keterampilan kognitif dalam domain khusus dan oleh karena itu, hubungan antara ukuran otak dan kemampuan kognitif tidak bisa digeneralisasikan.

Studi ini merupakan penyelidikan sistematis dan komparatif pertama dari kemampuan kognitif pada lemur dan memberikan wawasan penting mengenai evolusi kemampuan kognitif pada primata. Namun demikian, tim peneliti juga menekankan bahwa studi komparatif lebih lanjut pada berbagai spesies primata lainnya sangatlah penting untuk menjawab banyak pertanyaan lainnya tentang hubungan antara ukuran otak, pola makan, kehidupan sosial, dan kognisi.

Sumber:
Disadur dari situs sciencedaily. Materi berasal dari Deutsches Primatenzentrum (DPZ)/German Primate Center. Note: Naskah telah mengalami penyesuaian gaya dan panjang.

Narantaka Jirnodora

Narantaka Jirnodora

Terbaru

Ikuti