Ditulis oleh 10:00 pm KABAR

Ummat Islam dan Kebangkitan Nasional

Bahwa kebaikan bagi manusia akan hadir jika dia taat pada hukum-Nya dan kebinasaan akan terjadi jika manusia ingkar dan pongah sombong terhadap utusan dan ajarannya.

1. Rutinitas yang perlu diberi makna

Setiap tanggal 20 Mei setiap tahunnya Bangsa Indonesia memperingati Hari Kebangkitan Nasional, yaitu peringatan kebangkitan kesadaran sebagai satu entitas bangsa yang seharusnya berdiri sama tegak dan duduk sama rata dengan semua bangsa yang ada di dunia ini. Tapi kenyataannya semua suku bangsa yang mendiami nusantara ini mendapati dirinya sudah lama sekali menjadi objek jarahan dan penindasan bangsa lain yang mencengkram begitu kuat dan sadis menyengsarakan hampir semua sendi kehidupannya. Keadaannya benar-benar menjadi objek “homo homini lupus” eksploitasi oleh manusia asing (Eropa) yang dibantu oleh para pengkhianat yang bersedia menjadi kaki tangan penjajah demi iming-iming dunia untuk memuaskan hawa nafsu peribadi, keluarga dan golongan belaka.

Keadaan ini dalam buku sejarah disebut dengan penjajahan. Konon pukul rata bangsa kita telah dijajah oleh Belanda saja selama 350 tahun dan oleh Jepang selama tiga setengah tahun. Pada paruh awal abad 20 beberapa anak bangsa yang tercerahkan dengan berbagai latar budaya menginisiasi berdirinya perkumpulan, yang bertujuan membangkitkan kesadaran berbangsa sebagai bangsa Indonesia. Yang kemudian kita kenal dengan Serikat Dagang Islam (1905), Budi Utomo (1908), Muhammadyah (1912), Nahdhotul Ulama – NU (1920?) dan puncaknya Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Nah kali ini kita memperingati Harkitnas ini di saat-saat ummat Islam sedang melalui asyaa’irul awaakhir atau 10 hari terakhir bulan penuh berkah Romadhon yang sangat ditekankan melalui teladan Rasulullah untuk kita lebih melipatgandakan amalyah untuk meraih rahmah, magfirah dan garansibebas azab neraka. Aamiin

2. Ummat Islam Paling Urgen Memaknai Harkitnas

Ada 2 alasan mengapa Ummat Islam urgen untuk memaknai secara benar arti kebangkitan nasional.

a.      Dari 260 juta penduduk Indonesia 85% adalah ummat Islam.

b.      Ajaran-ajaran Islam sangat relevan dan sejiwa dengan esensi kebangkitan bangsa

Mari kita secara singkat elaborasi kedua alasan tersebut. Pertama adalah nonsen kita bicara kebangkitan nasional jika semua baik pemerintah pusat, daerah, ormas Islam, para tokoh agama, cendikiawan muslim dan ummat Islam tidak peduli untuk mengasah komitmen kebangsaan ummat yang besar ini untuk mencintai bangsa, negara dan tanah air nusantara ini menjadi bangsa yang gagah tegak berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain di atas kaki sendiri di atas muka bumi ini sejalan dengan semangat ajaran Islam tentang nilai kesetaraan, keadilan, empati, kemajuan, ketertiban dan berbagai nilai dan prinsip-prinsip yang saat ini kita sebut dengan modernitas atau berkemajuan.

Alasan kedua bahwa ajaran Islam sangat relevan dengan semangat kebangkitan nasional seperti yang telah digaungkan oleh beberapa komponen anak bangsa di paruh awal abad 20 seperti kita sebutkan di atas.

15 abad yang lalu melalui pengutusan Allah SWT kepada manusia termulia sejagad telah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rosul terakhir melengkapi dan menyempurnakan mata rantai kenabian yang diturunkan ke muka bumi sebagai wujud kasih kasih sayang Allah SWT untuk membimbing manusia ke jalan keselamatan dunia akhirat.

Mari kita tadarrus beberapa ayat Al-Qur’an yang bisa terkait dengan esensi peringatan Harkitnas:

a. Surat Ali ‘Imron 137-139

– Ayat 137: Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (Allah) maka berjalanlah di muka bumi dan saksikanlah kesudahan bagi orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul Allah)

– Ayat 138: Inilah (Al-Qur’an) sebuah keterangan yang jelas bagi manusia dan pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa

– Ayat 139: Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati sebab kamu sangat tinggi (derajatnya) jika benar-benar orang yang beriman

b. Surat Ali Imron 142

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan (begitu saja) masuk surga padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjuang dan yang bersabar.

Dari beberapa ayat di atas jelas sekali bahwa dari sejarah peradaban manusia, kita bisa kita melihat kepastian berlakunya hukum Allah. Bahwa kebaikan bagi manusia akan hadir jika dia taat pada hukum-Nya dan kebinasaan akan terjadi jika manusia ingkar dan pongah sombong terhadap utusan dan ajarannya. Selanjutnya Allah mengingatkan kita bahwa melalui fitrah kemuliaan yang dianugerahkan Allah kita harus sadar tentang potensi diri sehingga tidak perlu merasa lemah, gundah gulana dalam menghadapi aneka masalah. Kalau kita benar-benar orang yang iman dengan Allah, justru kitalah yang akan unggul baik secara vertical maupun horizonal (hablum minallah wahablum minannas).

Dalam menghadapi berbagai rona medan perjungan Allah meminta kita selalu merujuk kepada referensi utama Al-Qur’an. Karena Allah berfirman Al-Qur’an itu adalah sebuah bayan, hudan dan mauizhoh bagi orang yang bertaqwa. Mari kita songsong kebangkitan bangsa Indonesia NKRI di bawah asas Pancasila yang dijiwai Piagam Jakarta. Bukan kebangkitan bangsa di bawah bayang-bayang kebangkitan PKI/komunis gaya baru. Insya Allah yakin usaha sampai asal tetap berjuang dan senantiasa sabar mengharap nasrum minallah.

Mataram, 20 Mei 2020/27 Romadhon 1440 H

(Visited 48 times, 1 visits today)
Tag: , Last modified: 21 Mei 2020
Close