Ditulis oleh 3:10 pm COVID-19

Urgensi Intervensi Kebijakan

Prediksi mengatakan bahwa jika tidak ada peningkatan penanganan yang signifikan terhadap penularan virus itu, maka hampir 2,5 juta orang di negara ini berpotensi terjangkit COVID-19.

Usaha mengatasi wabah, telah meluas, nyaris menjadi gerakan sosial. Ragam inisiatif muncul, mulai dari tingkat paling bawah. Ada yang memproduksi hand sanitizer yang dibagikan secara cuma-cuma, aksi bersih-bersih, sampai isolasi wilayah. Para gubernur menghimbau agar warga di daerah zona merah tidak pulang kampung alias mudik, karena hal tersebut akan berpotensi menambah luas penyebaran wabah. Namun apakah semua itu telah cukup?

Rupanya tidak. Modelling Scenarios, Indonesia’, disusun oleh Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) tanggal 27 Maret 2020 (lihat link), mengatakan bahwa mereka yang terkena wabah tidak bisa dibiarkan sembuh sendiri. Perlu intervensi kebijakan pemerintah. Prediksi mengatakan bahwa jika tidak ada peningkatan penanganan yang signifikan terhadap penularan virus itu, maka hampir 2,5 juta orang di negara ini berpotensi terjangkit COVID-19. Artinya mendesak hadirnya kebijakan publik yang bersifat drastis.

Barangkali dalam konteks ini dibutuhkan dukungan publik agar kebijakan dapat diambil secara segera dan bersifat drastis. Para ilmuwan sangat baik jika menjadi bagian terdepan untuk memperkuat teks argumentasi, jika memang konteks tidak cukup memberi dalih bagi hadirnya kebijakan dimaksud. Kita percaya kebijakan jenis itu akan segera diterbitkan dan disamping itu, seluruh komponen bangsa bahu-membahu, atas dasar saling percaya, bergerak bersama dalam arah yang sama yakni keselamatan seluruh warga bangsa, tanpa terkecuali. (tim redaksi)

(Visited 34 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 29 Maret 2020
Close