Ditulis oleh 2:53 pm SAINS

Virtual Meeting: Masa Depan Sains?

Sebelum pandemi, banyak komunitas ilmiah sudah mulai mengeksplorasi bagaimana membuat partisipasi virtual tersedia bagi para peneliti yang tidak dapat atau tidak ingin berpergian.

Dengan COVID-19 yang masih berkeliaran diseluruh dunia, manusia dipaksa untuk menjaga jarak antar satu sama lain yang tentunya akan mengubah berbagai macam cara hidup kita. Salah satu hal yang paling kentara terlihat ialah penggunaan daring (teknologi infomasi) untuk bertemu secara virtual. Platform seperti Zoom, WhatsApp dan masih banyak lagi kini menjadi panggung dari komunikasi antar manusia dan juga menjadi panggung baru bagi dunia kerja dimana banyak orang tetap bekerja, namun dirumah. Lantas bagaimana dengan dunia akademik (baca: dunia sains). Apakah komunitas tersebut juga dapat “bermigrasi”?

Konferensi Virtual

Sejak COVID-19 menyerang dunia pada awal Maret, banyak konferensi ilmiah yang sudah dijadwalkan jauh sebelum wabah, telah “bermigrasi” dari pertemuan fisik ke pertemuan virtual. Dan nampaknya secara keseluruhan akan terus menggunakan media online seperti ini hingga akhir tahun 2020. Beberapa peneliti berharap bahwa pandemi ini pada akhirnya dapat mendorong komunitas ilmiah untuk menerima konferensi online, sebuah model pertemuan yang telah lama diinginkan oleh para ilmuwan karena alasan lingkungan dan untuk memungkinkan partisipasi yang lebih luas.

Para ilmuwan penyandang cacat dan orang tua dari anak-anak muda hanyalah dua contoh dari para peneliti yang mendapat manfaat dari pertemuan online, kata Kim Cobb, seorang ilmuwan iklim di Institut Teknologi Georgia di Atlanta. Cobb sendiri telah mengurangi perjalanan udara sejak 2017, baik untuk mengurangi jejak karbon pribadinya, maupun untuk merintis jalan menuju perubahan struktural dalam disiplinnya. Dia berharap perubahan akibat pandemi, dalam konteks ini, bersifat permanen. “Dalam lima tahun, kita akan berada di tempat yang sangat berbeda.”

Tetapi banyak peneliti lain mengatakan bahwa konferensi langsung akan kembali mendominasi setelah ancaman COVID-19 berakhir. Bagi mereka, pertemuan langsung menawarkan kesempatan yang tidak ada dalam pertemuan virtual.

Pertemuan Yang Lebih Ramah Lingkungan

Perkiraan biaya karbon untuk konferensi bervariasi, tetapi berkisar antara 0,5 hingga 2 ton karbon dioksida (CO2) atau lebih per peserta dalam perjalanan sendirian. Jika masing-masing dari perkiraan 7,8 juta peneliti di dunia melakukan perjalanan ke satu konferensi setiap tahun, batas bawah emisi karbon tahunan kira-kira setara dengan emisi yang dikeluarkan sebuah negara kecil.

Sebelum pandemi, banyak komunitas ilmiah sudah mulai mengeksplorasi bagaimana membuat partisipasi virtual tersedia bagi para peneliti yang tidak dapat atau tidak ingin berpergian. Ketika krisis melanda, memaksa mereka untuk mempercepat diskusi dan jadwal waktu yang ada. “Kami akan memulai dengan pertemuan yang lebih kecil,” kata Hunter Clemens, direktur pertemuan APS. Meskipun timeline dipercepat, Clemens mengatakan, pertemuan virtual adalah “sesuatu yang luar biasa”.

Pertemuan, yang berlangsung pada 18-21 April, melibatkan lebih dari 7.000 pendaftar – sekitar empat kali lebih banyak dari jumlah orang yang hadir pada tahun normal, kata Clemens. Dan hampir semuanya – sekitar 96% – masuk ke konferensi di beberapa titik. Sesi virtual, rata-rata, memiliki kehadiran yang lebih tinggi daripada konferensi APS biasanya.

Para peserta mengatakan bahwa pertemuan virtual lebih baik dalam hal-hal tertentu. Mengajukan pertanyaan secara online melalui obrolan yang dimoderasi, misalnya, dapat membantu mahasiswa pascasarjana untuk lebih rileks, tidak merasa terintimidasi dan memungkinkan para ilmuwan untuk merumuskan pertanyaan yang lebih baik. Pada pertemuan tahunan American Association for Cancer Research pada bulan April, kemampuan audiensi untuk memberikan suara pada pertanyaan secara real time “menghasilkan kualitas pertanyaan yang lebih tinggi”, kata Emily Costa, seorang peneliti kanker di Memorial Sloan Kettering Cancer Center di Kota New York.

Adam Tidball, seorang fisikawan di Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York, melihat manfaat lain ketika ia mempresentasikan pada pertemuan April virtual APS. “Saya menemukan bahwa jaringannya jauh lebih baik daripada secara langsung,” kata Tidball. Konferensi ini memberi para peserta semacam aplikasi perjodohan untuk berjejaring, di mana pengguna dapat membaca biografi ilmuwan lain dan menjangkau mereka untuk memulai percakapan atau menjadwalkan waktu untuk bertemu secara virtual.

Biaya pertemuan online berbeda dari yang konvensional. Clemens memperkirakan bahwa pertemuan virtual tersebut hanya memakan biaya sekitar 45% dari konferensi yang biasanya, meskipun komunitas (APS) kehilangan uang pada pertemuan tahun ini, karena harus melakukan perubahan jadwal dengan cepat dan tidak mengenakan biaya untuk kehadiran. American Astronomical Society memiliki lebih banyak waktu untuk merencanakan pertemuan online-nya pada bulan Juni, dan biaya untuk menghadiri sekitar 60% lebih murah daripada untuk pertemuan Januari.

Tetapi pergeseran ke pertemuan online dapat mengecilkan salah satu aliran pendapatan utama bagi komunitas ilmiah, beberapa di antaranya menarik sebagian besar dari anggaran operasi mereka dari pertemuan tahunan mereka. Dan jika komunitas melakukan dua hal sekaligus, yakni pertemuan online dan tatap muka, hal tersebut akan menaikkan biaya karena pertemuan itu akan membutuhkan lebih banyak staf, dan tempat maupun platform online.

Para peneliti yang telah menghadiri pertemuan virtual mengatakan bahwa pertemuan tersebut memiliki beberapa kelemahan penting. Presentasi poster lebih buruk dan memperkecil kemungkinan pertemuan tidak sengaja antar ilmuwan yang biasa melahirkan kolaborasi antar mereka. Ilmuwan sosial Marzena Świgoń mengatakan bahwa obrolan tidak resmi selama konferensi adalah cara paling efektif bagi para ilmuwan untuk saling berbagi pengetahuan. “Saya pikir konferensi virtual hanya sementara,” kata ńwigoń, yang berada di Universitas Warmia dan Mazury di Olsztyn, Polandia. “Begitu ancaman berlalu, konferensi akan kembali dalam bentuk tradisional mereka.”

Anthony Watkinson, seorang ilmuwan informasi di CIBER Research di Newbury, Inggris, yang telah menulis makalah dengan Świgoń, juga skeptis terhadap kelanggengan konferensi virtual. Dia mengatakan bahwa para peneliti Inggris dan AS melaporkan bahwa interaksi langsung diperlukan untuk menjalin hubungan.

Namun, di antara banyak ilmuwan, ada mandat yang jelas untuk setidaknya menyediakan opsi untuk berpartisipasi secara virtual. Dalam survei informal yang dilakukan oleh Nature, sekitar 80% dari 486 responden mengatakan mereka berpikir bahwa beberapa pertemuan harus terus diadakan secara virtual, setidaknya dalam beberapa kapasitas, setelah pandemi mereda.

Sekarang gagasan pertemuan virtual tidak lagi aneh. Orang mungkin lebih bersedia berpartisipasi jarak jauh dalam konferensi, rapat, dan seminar. (Diolah dari berbagai sumber, antara lain situs nature).

(Visited 74 times, 1 visits today)
Tag: , , Last modified: 4 Juni 2020
Close