30.9 C
Yogyakarta
26 Juli 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

WABAH DAN MASA DEPAN KITA

Catatan Redaksi

Social Distancing (SD), antara lain yang diwujudkan dengan tinggal di rumah saja, merupakan pola baru yang muncul dan harus dilakukan. Dari segi istilah, barangkali merupakan istilah baru bagi publik. Sebelum tidak dikenal. Meskipun untuk mereka yang bergelut dengan ilmu-ilmu kesehatan masyarakat, barangkali bukan merupakan istilah baru. SD adalah rumus standar/dasar untuk mengendalikan penyebaran wabah.

Apabila SD berlangsung hanya di lokasi tertentu, dan dijalankan beberapa hari, rasanya tidak menimbulkan persoalan publik. Pasti mereka yang berada di lokasi tersebut akan mengalami perubahan keseharian yang kontras. Tetapi itu pun, kemungkinan akan mudah diatasi, karena elemen kepastian dapat dihadirkan. Proses pengendalian merupakan hal yang ada dalam kendali.

Persoalannya adalah jika SD berlaku tidak hanya di kawasan tertentu dan diwaktu tertentu, tetapi di seluruh negeri atau bahkan di seluruh dunia. Apa yang akan terjadi? Lebih lagi, waktu atau batas waktu pemberlakuan SD tidak diketahui secara pasti. Kapan akan berakhir dan apa tanda yang dapat dipegang bahwa memang SD telah dapat diakhiri.

Persoalan yang muncul, akan bersifat kompleks dan berdimensi luas. Beberapa dapat diajukan di sini: Pertama, perubahan gaya hidup. Kegiatan yang semula berada di luar rumah, kini ada di dalam rumah atau dari rumah. Gaya hidup di rumah saja, pasti membawa pengaruh pada moda komunikasi, interaksi dan transportasi.

Namun apakah seluruh elemen masyarakat dapat sepenuhnya melakukan SD, untuk jangka waktu yang lama? Perdebatan dalam masalah transportasi, yakni tentang apakah angkutan umum seharusnya dibatasi atau seharusnya dibiarkan, merupakan contoh kongkrit bahwa tidak semua orang dengan mudah mengikuti SD.

Apakah mereka tidak tahu atau tidak mengerti bahaya wabah, tentu saja mengerti. Soalnya bukan tentang pengetahuan, tetapi soal kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi. Ada upaya untuk mensuplai kebutuhan tersebut. Tetapi pertanyaan segera muncul. Sampai kapan? Dan apakah bantuan tersebut memadai? Pertanyaan-pertanyaan ini akan terus muncul dan akan terus menggoda pemberlakuan SD.

Masalah tersebut tentu harus segera menjadi bahan kajian publik. Sudah saatnya setiap orang mulai berpikir skenario ke depan. Pertanyaan yang dapat memandu adalah sampai kapan mampu bertahan dan apa yang harus dilakukan, agar pengendalian penyebaran wabah tetap optimal, namun masalah terkait dengan pemenuhan kebutuhan sehari-hari juga dapat diatasi secara manusiawi.

Kedua, persoalan di atas, sebenarnya telah diintip oleh persoalan lebih luas, yakni kemampuan menjaga pasokan pangan. Apabila SD berlaku untuk semua, tanpa terkecuali, maka pertanyaannya adalah siapa yang akan menjadi bagian dari produksi bahan pangan? Atau siapa yang menjaga roda produksi kebutuhan pangan tetap berjalan? Apabila produksi terhambat sementara konsumsi tetap, atau bahkan mungkin bertambah, maka masalah besar sedang disusun.

Ketiga, manakala produksi mengalami perlambatan, maka seluruh sektor terkait akan mengalami perlambatan. Keadaan ini mudah diduga akan mempengaruhi kondisi ekonomi secara umum. Bagi negara, masalah yang segera nampak adalah merosotnya pemasukan, oleh karena kegiatan ekonomi publik juga sedang mengalami masalah akibat aturan SD. Negara, bukan saja mengalami persoalan pendapatan, tetapi persis disebelahnya, muncul masalah belanja, yakni keharusan untuk meningkatkan “bantuan sosial” agar SD berjalan efektif. Dapatkah dibayangkan bagaimana struktur anggaran negara?

Negara, bukan saja mengalami persoalan pendapatan, tetapi persis disebelahnya, muncul masalah belanja, yakni keharusan untuk meningkatkan “bantuan sosial” agar SD berjalan efektif.

Keempat, masalah-masalah ekonomi yang akan muncul setelah beberapa bulan berjalannya SD. Beberapa waktu terakhir, otoritas keuangan negara mengumumkan apa yang disebutnya sebagai dampak ekonomi dari wabah. Antara lain yang paling menonjol dan punya akibat langsung pada masyarakat adalah terjadinya PHK. Masalah ini, merupakan dilema tersendiri bagi dunia usaha. Pasti, PHK bukan jalan terbaik, tetapi mempertahankan tenaga kerja ditengah mandegnya kegiatan usaha, sama halnya dengan mempertahankan pengeluaran sementara pendapatan sama sekali tidak ada.

PHK dalam hal ini tidak saja berarti pengurangan pengeluaran, tetapi juga perlambatan kegiatan usaha, atau bahkan berhenti. Jika di masa normal PHK menjadi bagian dari proses efisiensi untuk meningkatkan pendapatan, maka di masa SD, PHK adalah langkah harus yang juga akan berdampak pada keberadaan usaha. PHK dalam hal ini menjadi rute menuju keadaan yang lebih buruk bagi dunia usaha.

Kelima, dampak sosial yang lebih jauh, sebagai akibat “individualisasi”. Apa yang semula mengandalkan “kerumunan”, kini pasti mengalami destruksi. Rasa prihatin atau bahkan rasa sedih, mulai ditampilkan. Seperti misalnya, diubahnya format acara pernikahan, dan lain-lain. Kegiatan yang “kegembiraan” dan kemegahannya ditunjukkan dengan kehadiran orang banyak, kini tentu dipaksa untuk berubah dan mencari bentuk baru dan makna baru. Acara-acara dibatasi, dan kalau pun diselenggarakan, harus dengan jumlah yang sangat terbatas. Dan itu pun dengan format SD.

Lima hal yang diajukan sebagai persoalan yang layak menjadi kajian publik, tentu belum mewakili seluruh masalah yang timbul akibat wabah. Publik perlu memikirkan antisipasi atas keadaan dan sekaligus skenario ke depan. Keadaan dimana konsumsi tetap sementara produksi menurun tentu merupakan masalah serius yang harus menjadi perhatian publik. Dalam keadaan dimana segala sesuatunya belum pasti, mungkin langkah penghematan dalam segala segi perlu dilakukan. (care)


Keadaan dimana konsumsi tetap sementara produksi menurun tentu merupakan masalah serius yang harus menjadi perhatian publik.


Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA