Ditulis oleh 12:00 pm COVID-19

WABAH.

Bagaimana mengatasi wabah yang belum ditemukan “vaksin”nya? Pertanyaan ini layak untuk menjadi bahan pemikiran semua pihak, tanpa terkecuali. Mengapa demikian?

Pertama, secara awam, jika boleh mengajukan pertanyaan kembali, mengapa “vaksin” belum ditemukan? Bukankah dunia mempunyai demikian banyak ahli di bidang tersebut? Bukankah dunia punya banyak biaya untuk memungkinkan riset dan produksi vaksin, sehingga dapat segera mengatasi wabah?

Tentu pertanyaan ini, bukan jenis gugatan, tetapi refleksi. Barangkali dengan kejadian ini, dapat menambah rasa sadar tentang pentingnya perhatian pada masalah-masalah yang mudah mengancam keselamatan jiwa atau bahkan mengancam tata kehidupan bersama. Rasa sadar yang dimaksud adalah kemampuan untuk meletakkan keselamatan manusia pada tempat yang seharusnya.

Kedua, jika belum ada vaksin, bagaimana mengatasi wabah? Ada tiga titik yang perlu mendapatkan perhatian: (1) yang sakit segera diisolasi dan dirawat sebaik mungkin agar tertolong; (2) yang sakit jangan menularkan; dan (3) yang sehat jangan tertular.

Ketiga hal tersebut, sebenarnya bermuara pada satu rumus: hambat atau bahkan hentikan penyebaran. Apa artinya, antara yang sakit dan yang sehat, harus ada jarak yang cukup, agar wabah tidak menyebar.

Hal yang menjadi masalah adalah ketika penyebaran wabah tidak diketahui persis. Atau sulit dibedakan, mana orang yang telah terpapar dan mana yang belum. Dalam keadaan begini, setiap orang berpotensi menjadi “media” dari virus untuk menyebar.

Apa yang harus dilakukan, jika keadaan tersebut yang berlangsung? Tidak ada cara lain untuk mengatasi situasi tersebut, kecuali “menjaga jarak fisik”. Dan ketentuan ini berlaku umum, kepada siapa saja. Jika mata manusia mampu mendeteksi keberadaan virus, maka tentu tidak perlu ketentuan tersebut, karena masing-masing akan menghindar jika melihat virus.

Namun karena mata tidak dapat melihat dan peta sebaran tidak tersedia, maka tidak ada pilihan lain kecuali menggunakan rumus tersebut: jaga jarak fisik, agar virus tidak menyebar dari orang ke orang, akibat kontak fisik.

Apakah itu cukup? Tentu tidak. Mengapa? Karena harus diantisipasi jika ada virus yang berhasil menyebar. Untuk itu, setiap orang harus memastikan daya tahan tubuhnya terjaga. Karenanya: (a) bersihkan tangan sesering mungkin (cuci tangan dengan sabun), karena tangan merupakan anggota tubuh yang paling rawan. Baik karena persentuhan dengan orang atau benda-benda yang terpapar virus, dan karena tangan dapat menjadi alat virus masuk ke dalam tubuh. Itu sebabnya, bersihkan tangan sesering mungkin merupakan cara baik untuk pertahanan diri; dan (b) jaga kebersihan lingkungan; dan (c) perkuat kesehatan diri, dengan asupan makanan yang baik, cukup gizi dan olahraga sembari “menjemur” tubuh di bawah sinar matahari pagi.

Ketiga, apakah dua hal tersebut cukup Tidak. Masalah akan segera muncul, jika kesadaran warga tidak muncul secara serentak. Artinya, ada yang menyimak dan bersiap diri, dan ada yang menyepelekan atau tidak menganggap masalah ini sangat serius.

Harus diakui bahwa di masyarakat ada budaya “menolak” atau “menyangkal”, atau “menegasi”. Yakni budaya yang sulit menerima pesan, karena setiap pesan akan ditolak secara otomatis. Bahayanya, penolakan tersebut tidak bersifat pasif, tetapi aktif. Yakni melakukan upaya agar pesan tidak diterima, dengan cara mengajukan argumen tandingan.

Jika keadaan tersebut yang berlangsung, maka dibutuhkan usaha ekstra. Idealnya tidak perlu ada aparat untuk menertibkan. Disebut ideal karena berarti muncul kesadaran bersama, sehingga setiap orang dengan sadar menjadi agen untuk menghambat penyebaran virus. Bagaimana agar kesadaran tersebut muncul? Disinilah peran para tokoh, para pendidik, para teladan dan lain-lain, untuk secara sistematis, bersama-sama membangkitkan kesadaran bersama, sehingga muncul gerakan. Gerakan agar setiap orang, tanpa terkecuali, dapat menjadi agen penghambat penyebaran virus.

Keempat, apakah gerakan menekan penyebaran sudah cukup dan mengapa langkah menekan penyebaran demikian penting? Sebabnya karena jika penyebaran tidak terkendali, maka keadaan tersebut akan mengancam kemampuan fasilitas kesehatan. Gerakan warga menekan penyebaran virus merupakan cara efektif untuk agar jumlah korban tidak meningkat secara drastis, sehingga rumah sakit atau puskesmas yang telah ditunjuk pemerintah, dapat memberikan layanan secara baik dan optimal. Jika tidak, rumah sakit akan kewalahan dan artinya banyak orang sakit tidak mendapatkan penanganan memadai.

Itulah sebab, jaga jarak fisik antar orang dan jaga kesehatan tiap orang merupakan langkah besar yang menyumbang keselamatan warga seluruhnya. Mungkin hal ini kurang disadari, karena dianggap langkah tersebut merupakan tindakan individual. Padahal dalam wabah tindakan yang sangat heroik justru ketika setiap orang melakukan tindakan yang sangat individual: soliter merupakan tindakan solider.

Jika tindakan warga telah optimal, namun korban tetap berjatuhan, atau jumlah yang terpapar tetap besar, maka tidak ada cara lain, kecuali memperkuat armada kesehatan. Dalam hal ini, dibutuhkan dukungan penuh dari warga. Apa yang dibutuhkan? Armada kesehatan, ibarat prajurit garis depan dalam pertempuran. Karena itu, dukungan penuh harus diberikan. (1) seluruh peralatan harus tersedia, terutama alat pelindung diri mereka, agar mereka tidak justru menjadi korban pertama; (2) dukungan logistik, agar mereka selalu sehat karena asupan makanan bergizi; dan (3) dukungan moral, yakni warga terus memberikan semangat, agar perjuangan mereka punya makna.

Untuk agar segala kebutuhan dapat terpenuhi, tidak ada cara lain yang harus dilakukan kecuali gotong royong di kalangan warga. Mengapa gotong royong seluruh warga. Karena pada akhirnya yang harus dibantu bukan saja armada kesehatan, tetapi juga warga lainnya, yakni mereka yang menggantungkan hidupnya dari kerja harian. Dampak wabah akan membuat kegiatan ekonomi melambat atau mungkin terhenti. Pada saat itulah bantuan dibutuhkan, agar semua dapat bertahan hidup dan meningkatkan kualitas hidup di tengah wabah. Betapa indahnya saling berbagi untuk keselamatan bersama.


Maret 2020.
Terjemahan bebas dari Outbreak: what need’s to be done. (by Tara Priyanka Fatima)

(Visited 41 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 29 Maret 2020
Close