Ditulis oleh 2:22 pm KABAR

Wah! Ternyata Tipe Covid-19 di Indonesia Berbeda Dengan Tiga Tipe di Dunia

Perbedaan tipe Covid-19 yang ada di Indonesia menjadi tantangan tersendiri dalam usaha pengambangan vaksin.

Pengetahuan tentang tipe atau jenis virus sangat penting. Karena hanya dengan tahu persis virus yang menyerang kesehatan, maka akan mudah dipelajari seluruh karakter virus tersebut, dan dengan demikian akan dimungkinkan untuk menemukan vaksinnya. Singkatnya data tentang virus merupakan basis pengembangan vaksin.

Jenis Coronavirus disease (Covid-19) macam apa yang kini berkembang di Indonesia? Pertanyaan inilah yang pasti membanjiri pikiran para ahli dan para pengambil kebijakan di bidang kesehatan. Hal ini, pasti bukan pertama-tama karena kebutuhan ilmu pengetahuan, tetapi didesak oleh kebutuhan segera memproduksi vaksin yang dapat mengatasi penyakit akibat Covid-19. Tanpa vaksin berarti tidak ada penyelesaian kongkrit secara medis.

Ketiadaan vaksin yang telah terbukti dan memang dihasilkan dari pengetahuan tentang jenis virusnya, membuat langkah yang diambil bukan langkah medis, melainkan langkah sosial, yakni upaya memutus mata rantai penyebaran wabah dan arah utama agar yang sakit bisa ditangani dengan baik oleh tenaga medis. Meskipun bukan cara medis, namun pembatasan sosial merupakan cara ilmu untuk memutus mata rantai penyebaran wabah.

Tentu saja cara sosial, selalu memuat ketidakpastian, karena penyelanggaraannya membutuhkan kesadaran penuh. Suatu kesadaran yang tidak didasarkan pada informasi palsu, tetapi harus merupakan kesadaran bahwa hanya itu cara terbaik yang tersedia untuk mengatasi wabah.

Disebut mempunyai ketidakpastian, karena pembatasan akan mendapatkan “kontra” alamiah, yakni adanya keharusan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari. Bagi pekerja harian, pembatasan pasti membawa dampak. Dan juga pembatasan juga segera berdampak ekonomi, karena menurunnya pergerakan orang, akan ikut melambatkan laju ekonomi.

Artinya pembatasan gerak warga, dimungkinkan akan penuh dengan pro kontra, sehingga tidak efektif. Jika pembatasan tidak efektif, maka dapat dipastikan bahwa peluang penyebaran Covid-19, akan terbuka lebar. Angka positif akan naik, dan hal itu dapat memberi dampak pada layanan kesehatan. Padahal layanan kesehatan, secara kongkrit tidak punya senjata utamanya, yakni vaksin.

Karena itu semua, pemerintah melalui Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengirimkan tiga whole genome sequence (WGS) alias genom virus corona Covid-19 ke Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID) untuk dipelajari. Adapun hasilnya sebagaimana disampaikan oleh Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang Brodjonegoro, bahwa Prof Amin Subandrio, Kepala Eijkman, melaporkan sejauh ini, dari informasi Gisaid, ada 3 tipe COVID-19 yang ada di dunia, yakni tipe S, tipe G, dan tipe V. Di luar 3 tipe itu ada yang disebut sebagai tipe lain, jadi yang belum teridentifikasi. Dan ternyata WGS Indonesia termasuk kategori yang lainnya. (lihat Detik.com)

Kabar ini tentu merupakan tantangan tersendiri. Namun yang jelas informasi terbaru merupakan bahan penting yang dapat menjadi bagian dari upaya pengembangan vaksin. Sangat baik jika dilakukan kerjasama antar negara, sehingga diperoleh kecepatan dalam menghadapi vaksin. Bagaimana upaya mengatasi wabah, idealnya adalah dengan ketersediaan vaksin yang tepat dan mengatasi virus tersebut. Kapan akan segera dihasilkan? Tentu membutuhkan waktu. Eijkman mengatakan sekurangnya satu tahun, mungkin bisa lebih. Publik tentu berharap lebih cepat dari itu. Semoga.

(Visited 78 times, 1 visits today)
Tag: Last modified: 7 Mei 2020
Close