Wanita dan Peranannya Dalam Keuangan Keluarga Dimasa Wabah Covid-19

Salihah Khairawati S.Ag MM
Wanita bukan hanya sebagai pendidik, pengurus rumah tangga, melainkan juga menjadi pengelola ekonomi dan kakayaan (harta) keluarga.

Dalam beberapa hari terakhir masyarakat disuguhi berita-berita mengenai PHK (pemutusan hubungan kerja) dan yang terjadi tidak hanya di wilayah Jakarta saja melainkan juga di berbagai daerah. Menteri ketenagakerjaan menjelaskan data per 20 April 2020 mencatat 1,30 juta tenaga kerja dirumahkan dan turut terkena dampak pandemi Covid-19 akibat terhentinya operasional perusahaan tempat mereka bekerja. Gelombang merumahkan tenaga kerja maupun pemutusan hubungan kerja akan terus berlangsung hingga diprediksi mencapai puncaknya pada bulan Juni. Dampak Covid 19 tidak hanya dirasakan para pekerja, melainkan juga berbagai kalangan seperti pengusaha, pelaku UMKM, pegawai swasta maupun freelancer dimana pendapatan mereka tidak bersifat tetap dan sangat rentan dengan keadaan ekonomi makro negara.

Berita-berita tersebut di atas tentunya menambah tekanan psikologis bagi masyarakat dan tentu tak terkecuali para wanita. Diketahui bersama peran wanita dalam rumah tangga cukup sentral. Islam memposisikan wanita dengan posisi mulia. Wanita bukan hanya sebagai pendidik, pengurus rumah tangga, melainkan juga menjadi pengelola ekonomi dan kakayaan (harta) keluarga. Diperlukan kesiapan dalam menghadapi pandemi Covid-19 agar kehidupan ekonomi keluarga tidak mengalami guncangan.

Ada beberapa hal yang perlu dilakukan wanita dalam perannya sebagai pengelola keuangan keluarga. Pertama, mengajak komunikasi dan membangun kesadaran seluruh anggota keluarga bahwa saat ini kondisi ekonomi nasional sedang tidak baik-baik saja dan hal ini akan berdampak terhadap ekonomi keluarga. Kesadaran harus dibangun kepada anggota keluarga agar mereka dapat memahami langkah-langkah yang diambil oleh ibu dalam menyelamatkan ekonomi rumah tangga.

Kedua, indentifikasi pos-pos pengeluaran rutin dan lakukan pemilahan menjadi tiga katagori: penting dan tidak dapat ditunda, penting dan dapat ditunda dan tidak penting. Untuk penting dan tidak dapat ditunda menjadi prioitas yang harus didahulukan untuk diselesaikan seperti: membayar listrik, membayar BPJS, membayar air, membeli sembako, membayar tagihan pajak kendaraan, membayar uang sekolah. JIka hal ini sudah dapat ditunaikan, maka pos pengeluaran kedua yakni penting dan dapat ditunda baru dapat dilakukan. Sedangkan pengeluaran tidak penting ditunda dulu. Dengan pemilahan tersebut maka keluarga akan belajar untuk besikap hemat dan belajar memahami hal-hal yang prioritas.

Ketiga, menyesuaikan standar konsumsi dengan keadaan ekonomi saat ini. Menurunkan standar konsumsi berarti menurunkan ego kelas sosial atau harga diri bagi sebagian orang. Dengan menurunkan ego kelas sosial diharapkan menumbuhkan rasa empati, peka terhadap kesulitan ekonomi orang lain. Apakah dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini kita masih memikirkan ego kelas sosial? Manifestasi munculnya sikap empati terhadap kesulitan ekonomi orang lain adalah dengan munculnya perilaku kesalehan sosial, kelonggaran hati untuk berderma, sebagaimana hadist Rasulullah yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: barangsiapa yang menghilangkan salah satu kesulitan seorang mukmin maka Allah kelak akan hilangkan salah satu kesulitannya pada hari kiamat.

Barangsiapa yang menghilangkan salah satu kesulitan seorang mukmin maka Allah kelak akan hilangkan salah satu kesulitannya pada hari kiamat.

Tarmidzi

Keempat, mengajak anggota keluarga untuk melakukan banyak kagiatan produktif yang dapat  memberikan pemasukan bagi kas keuangan keluarga di masa pandemi Covid-19 misal dengan menjadi reseller kebutuhan ramadhan dan lebaran, menyediakan barang atau jasa yang dibutuhkan harian oleh masyarakat, seperti produk kuliner yang ditawarkan melalui online atau grup, atau memproduksi hal-hal yang berhubungan dengan Covid-19 seperti APD, makanan dan minuman bernutrisi tinggi, atau jasa layanan yang sangat dibutuhkan masyarakat seperti layanan belanja kebutuhan pokok diantar sampai rumah, layanan pengurusan STNK diantar sampai rumah. Pandemi Covid-19 merubah cara hidup masyarakat, tentu ke depan akan membuka celah peluang bisnis yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benak.

Kelima, dana yang diperoleh dari penghematan yang telah dilakukan dialokasikan ke pos dana cadangan yang dapat dipakai untuk hal-hal yang bersifat daurat.

Mengatur ekonomi keluarga di masa yang kurang baik membutuhkan kerja sama yang baik antara suami, istri dan anggota keluarga sehingga masa ‘krisis’ bisa segera dilalui tanpa adanya konflik yang berarti dalam keluarga. Untuk itu, seorang wanita dalam rumah tangga berkewajiban untuk dapat mengelola keuangan dengan baik, mengoptimalkannya untuk kelancaran hidup dalam keluarganya, serta memanfaatkannya untuk kepentingan dunia dan akhirat. Selamat menjalankan ibadah puasa semoga segala amal ibadah kita diterima Allah di bulan mulia ini.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Close