29.8 C
Yogyakarta
19 September 2021
BENTARA HIKMAH
COVID-19

WHO

Dunia dikejutkan oleh langkah Trump menyetop bantuan kepada WHO karena dianggap tidak serius menanggapi wabah di China hingga akhirnya menyebar ke seluruh dunia (lihat CNNIndonesia.com).

Dikabarkan bahwa Trump telah lama meragukan tranparansi dalam penanganan wabah, yang dianggapnya tidak perlu terjadi seperti sekarang jika dikelola dengan baik.

Memang pada awal 2020, sejumlah media telah memuat informasi tentang adanya kasus mirip radang paru-paru yang disebabkan oleh virus yang belum dikenal sebelumnya.

Pada 11 Januari 2020, otoritas kesehatan Cina, diberitakan telah melaporkan ada 40 kasus kejadian luar biasa mirip pneumonia (radang paru-paru) di kota Wuhan, Ibu Kota Provinsi Hubei, Cina, kepada WHO (lihat www.nationalgeographic.grid.id).

Laporan hasil temuan laboratorium, menunjukkan bahwa kasus tersebut bukan kasus flu biasa. Di Thailand, juga pada awal Januari, ditemukan kasus serupa, yang ditimbulkan oleh orang dari Wuhan yang datang ke sana.

Potensi penularan pada awal Januari sebenarnya telah terbaca. WHO dalam hal ini dikatakan telah mengeluarkan panduan tentang cara mendeteksi dan mengobati orang yang sakit dengan virus baru (lihat www.who.int).

Di jaman digital, informasi mudah dilacak, sehingga jejak aktivitas akan dapat ditelusuri. Di Indonesia, kala itu (awal Januari), keberadaan wabah juga telah menjadi perhatian, setidaknya jika diperiksa pemberitaan tentang kasus tersebut.

Dengan merujuk pada media internasional, disampaikan bahwa ada pneumonia misterius China alias pneumonia Wuhan menyita perhatian dunia. Penyakit yang disebabkan coronavirus tipe baru tersebut dikatakan memiliki tiga gejala utama.

“Ada tiga gejala yang perlu kita waspadai, demam karena radang di jaringan paru, batuk baik kering atau berdahak, dan kesulitan bernapas,” jelas Erlina Burhan, Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PP PDPI) saat konferensi pers di Rumah PDPI, Cipinang, Jakarta Timur, Jumat (17/1) (lihat CNNIndonesia.com).

Bahkan Pemda DKI melalui Dinas Kesehatan DKI Jakarta telah mengeluarkan himbauan untuk waspada terhadap wabah pneumonia berat yang berawal dari Kota Wuhan.

Diingatkan pula bahwa penyakit bersifat menular antar manusia secara terbatas dan belum ada vaksin yang dapat mencegah penyakit tersebut.

Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan DKI mengingatkan warga, khususnya yang baru kembali dari negara-negara yang ditemukan penyakit tersebut, untuk waspada dan mencegah penularan penyakit pneumonia itu.

Suatu panduan sederhana beredar:

  1. Untuk masyarakat yang mengalami gejala demam, batuk, sesak nafas, dan baru kembali dari negara terjangkit dalam 14 hari sebelum sakit, agar segera berobat ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Berikan informasi kepada dokter dan tenaga kesehatan tentang riwayat perjalanan.
  2. Terapkan etika batuk, yakni menutup mulut/hidung saat bersin atau batuk dengan menggunakan tisu.
  3. Gunakan masker jika menderita sakit dengan gejala infeksi saluran napas (demam, batuk, dan flu) dan segera berobat.
  4. Sering mencuci tangan, terutama setelah batuk atau bersin, sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah merawat binatang.
  5. Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun serta bilas kurang lebih 20 detik. Jika tidak tersedia air, dapat menggunakan cairan pembersih tangan yang mengandung alkohol 70-80 persen.
  6. Jika sedang sakit, kurangi aktivitas di luar rumah dan batasi kontak dengan orang lain (lihat Kompas.com)

Keterangan tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa perhatian terhadap keberadaan wabah telah muncul. Otoritas yang berwenang telah mengeluarkan “warning”, terutama pada potensi penyebarannya dan juga karena belum ada vaksi yang dapat mengatasinya.

Jejak digital dapat bersaksi bahwa otoritas resmi yang bicara dini hari, dianggap berlebihan dan dituduh menyebarkan rasa takut pada publik. Artinya, pada awal-awal, penyakit baru yang belum dikenal tersebut, direspon secara beragam. Informasi awal yang dikeluarkan otoritas kesehatan tidak dianggap sebagai urgensi yang harus ditindaklanjuti.

Jejak digital dapat bersaksi bahwa otoritas resmi yang bicara dini hari, dianggap berlebihan dan dituduh menyebarkan rasa takut pada publik.

Kini dunia secara nyata telah mengalami apa yang sebelumnya hanya dinyatakan sebagai potensi. Dalam situasi yang demikian, seperti yang berlaku adalah kerjasama dengan rasa percaya yang penuh.

Setiap polemik, pro kontra atau sikap saling tuduh, hanya akan menimbulkan rasa saling tidak percaya dan akan menyita waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk tindakan cepat dan darurat. Memang sangat berbahaya jika ada kepentingan politik, atau ekonomi atau keduanya, yang menyelinap di tengah perang terhadap wabah.

Namun demikian, perbedaan pandangan tentu juga dapat dipahami, meskipun mungkin disesalkan mengapa harus terjadi. Setiap negara berhak untuk mengutamakan kepentingan nasionalnya. Terlebih jika merasa menjadi korban atau merasa diperlakukan tidak adil. Barangkali optik ini dapat dipakai untuk melihat polemik seputar WHO.

Idealnya memang ada kepemimpinan global dalam menghadapi Pandemi Global. Suatu kepemimpinan yang diharapkan dapat menggerakkan seluruh kekuatan dunia agar wabah dapat segera diatasi. Bukan hanya itu, suatu kepemimpinan yang dapat mengatasi persoalan-persoalan yang muncul dalam penanganan wabah.

Dalam situasi seperti ini, serangan terhadap WHO berpotensi menggagalkan segala upaya yang mungkin tengah dilakukan untuk mewujudkan persatuan bangsa-bangsa untuk melawan Pandemi Global. Dialog amat dibutuhkan. Tentu dibutuhkan mediasi, agar kemampuan WHO dapat dipulihkan.

Serangan terhadap WHO berpotensi menggagalkan segala upaya yang mungkin tengah dilakukan untuk mewujudkan persatuan bangsa-bangsa untuk melawan Pandemi Global.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa wabah tidak mengenal kebangsaan, tidak mengenal warna kulit, aspirasi politik, wilayah atau batas administrasi, dan perbedaan lainnya. Wabah menyerang baik negara maju maupun negara berkembang. Kenyataan inilah yang seharusnya menjadi pertimbangan, karena menurunnya kemampuan WHO, akibat penghentian pendanaan ke WHO akan membawa konsekuensi kesehatan masyarakat global, tanpa terkecuali.

Kita percaya bahwa jika pertimbangan keselamatan umat manusia yang diletakkan di atas semua kepentingan, apalagi kepentingan jangka pendek yang justru membahayakan manusia dan kemanusiaan, maka segala masalah akan dapat diatasi. Semoga masalah ini segera dapat diselesaikan dengan dialog tingkat tinggi dan bermartabat. Dan semoga wabah segera berlalu..

(t.red)


Kita percaya bahwa jika pertimbangan keselamatan umat manusia yang diletakkan di atas semua kepentingan, apalagi kepentingan jangka pendek yang justru membahayakan manusia dan kemanusiaan, maka segala masalah akan dapat diatasi.


Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA