26.4 C
Yogyakarta
1 Agustus 2021
BENTARA HIKMAH
PENDIDIKAN

Wulang Wuruk Keputren Demi Keselarasan Sosial

A. Wanita iku Wani Mranata

Masalah kewanitaan mendapat perhatian dari sastra piwulang. Misalnya Serat Centhini yang membahas tentang seluk beluk wulang wuruk keputren. Serat Centhini merupakan karya yang diciptakan oleh Sinuwun Paku Buwana V. Beliau adalah raja Kraton Surakarta Hadiningrat yang memerintah antara tahun 1820-1823. Dalam tradisi kesusastraan, Serat Centhini juga mendapat julukan sebagai ensiklopedi kebudayaan Jawa yang memberi deskripsi mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan.

Kajian ini akan membahas tentang seluk-beluk etika kewanitaan yang tercantum dalam Serat Centhini. Masalah kewanitaan banyak yang tersirat dan tersurat dalam karya para pujangga Jawa. Konsep wanita utama berkaitan dengan istilah ayu, hayu dan rahayu yang berarti bahwa seorang wanita yang cantik mesti mempunyai keselarasan antara cipta, rasa dan karsanya. Sebuah ajaran luhur yang diutamakan dalam kebudayaan Jawa.

Nilai luhur yang terkandung dalam berbagai kebudayaan daerah harus diangkat dan disajikan di tengah-tengah masyarakat Indonesia agar dapat dipelajari dan diketahui oleh seluruh warga negara. Kegiatan memupuk dan membina budaya daerah merupakan program yang penting untuk memelihara ke-bhineka-tunggal-ikaan dan merupakan kekayaan budaya. Serat Centhini yang banyak mengandung nilai etika ini, sangat relevan untuk membangun kualitas kepribadian bangsa.

Sastra Jawa merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang telah mengakar jauh ke masa lalu, yang sampai saat ini sudah banyak mengalami pertumbuhan dan penyempurnaan. Khasanah sastra Jawa banyak jumlahnya dan sangat beraneka ragam isinya. Beberapa di antaranya terkandung ajaran moral yang cukup tinggi nilainya yang dapat dijadikan pegangan hidup dan pedoman bagi masyarakat pada masanya dan masih dapat berguna untuk menunjang usaha-usaha pembinaan jiwa dan pengembangan kepribadian dalam kehidupan masyarakat di masa sekarang dan masa yang akan datang. Sastra Jawa merupakan salah satu sumber sarana pembangunan mental bangsa dapat berperan apabila dibaca, ditelaah, dan dikaji.

Pembahasan terhadap Serat Centhini ini penting karena bahwa dewasa ini telah terjadi berbagai pergeseran dalam memahami budaya Jawa. Pergeseran itu adalah pertama, pergeseran dalam memberikan arti dan makna terhadap simbol-simbol budaya Jawa dan kedua, pergeseran dalam menerapkan laku budaya Jawa. Pergeseran ini kadangkala menimbulkan persepsi dan interpretasi yang tidak sama bahkan bertentangan dengan maksud dan pengertian sesungguhnya.

terdapat beberapa butir darma bakti dalam etika wanita utama sebagai dasar kepribadian.

Karya sastra Jawa sejak kemunculannya hingga sekarang terdapat nilai-nilai luhur yang disebut nilai religius yakni nilai-nilai yang berkaitan dengan keagamaan atau kepercayaan. Nilai religius yang terkandung dalam Serat Centhini mencerminkan konsep-konsep yang bersifat akulturatif. Berkaitan dengan analisis religius, terdapat beberapa butir darma bakti dalam etika wanita utama sebagai dasar kepribadian. Untuk membahas Serat Centhini yang berkaitan dengan nilai keutamaan wanita, ditinjau dari perspektif moral atau kesusilaan.

B. Mustikaning Putri Tungguling Widadari

Idiom mustikaning putri tetungguling widadari merupakan gagasan tentang tipe wanita yang ideal. Wanita ini mampu menyelaraskan konsep material, mental dan spiritual. Orang Jawa dapat meyakini bahwa adanya Tuhan karena bagi orang Jawa keyakinan itu tidak semata-mata diperoleh hanya melalui rasio atau penalaran tetapi juga melalui rasa.. Kepercayaan orang Jawa tampak pada penyebutan Tuhan dengan berbagai sebutan sesuai dengan sifat yang ada pada-Nya.

Dalam Serat Wulang wanita ini Tuhan disebut dengan Hyang Kang Murbeng Titah ‘Tuhan sebagai Pencipta segala makhluk, Hyang Widhi, Hyang Suksma, Allah dalam kata takdirollah, Gusti Kang Maha Mulya, dan Jawata. Manusia harus beriman/tauhid kepada Tuhan Yang Maha Esa. Maksudnya manusia harus percaya penuh bahwa Tuhan itu nyata Maha Ada. Manusia juga harus percaya penuh dengan kebulatan tekad, bahwa Tuhan itu sungguh-sungguh Maha Esa.

Orang Jawa menyebut Tuhan dengan berbagai sebutan sesuai dengan sifat yang ada pada-Nya. Dalam Serat Centhini, Tuhan disebut dengan Hyang Kang Murbeng Titah ‘Tuhan sebagai Pencipta segala makhluk’, Hyang Widhi, Hyang Suksma, Allah dalam kata takdirollah, Gusti Kang Maha Mulya, dan Jawata. Nenek moyang bangsa Indonesia telah mewariskan beraneka ragam seni budaya adi luhung yang dapat memberikan khasanah ilmu pengetahuan yang beraneka macam ragamnya. Penggalian budaya-budaya yang tersebar di daerah-daerah akan menghasilkan ciri-ciri khas budaya daerah, meliputi pandangan hidup dan landasan falsafah yang mulia dan tinggi nilainya.

Kandungan nilai spiritual yang berkaitan dengan ajaran agama Islam tersebut dalam tembang kinanti Serat Centhini:

  • Yen sira winengku kakung, ywa tilar lanjaran nguni, tetuladan kuna-kuna, kadising Rasullulahi, kang amrih utamaning dyah, antuka sawarga adi.
  • Kang kekal salaminipun, langgeng boya owah gingsir, budinen nganti sampurna, Anyingkirana saliring, kang wus ingaranan cacad, tanduk tindaking pawestri.

Terjemahan:

  • Jika kamu telah bersuami, janganlah kamu tinggalkan alur ajaran-ajaran lama. Teladan yang terdapat dalam Hadis Rasulullah hanya demi keutamaan wanita, agar dapatlah mencapai surga yang abadi,
  • Tak berbeda selama-lamanya, abadi tanpa berganti-ganti. Usahakanlah itu hingga tercapai. Jauhkanlah dirimu dari segalanya yang dipandang tercela bagi tingkah laku kaum wanita.

Ajaran tersebut menghendaki agar para wanita senantiasa menjunjung tinggi teladan sebagaimana yang telah dianjurkan oleh agama melalui hadis Nabi Muhammad. Khasanah sastra Jawa yang akan diangkat dalam pembahasan ini adalah sastra piwulang yaitu Serat Centhini yang ditinjau dari aspek moralnya. Naskah wulang mempunyai ciri khas berisi suatu jenis pelajaran yang umumnya di bidang moral. Piwulang-piwulang itu diangkat dari naskah yang lebih besar dan disajikan secara terpisah berdasarkan kegunaan didaktisnya.

Naskah wulang pada umumnya ditulis dalam irama puisi dan dinyanyikan dalam pertemuan-pertemuan yang akrab. Ajaran ini ditujukan kepada para muda, wanita, pejabat, prajurit, dan juga orang biasa. Kegunaannya adalah untuk mengungkapkan cita-cita orang Jawa tentang konsep pria, wanita, raja atau pejabat idaman.

Serat Centhini berisi ajaran yang ditujukan kepada wanita bahwa seorang wanita hendaknya mengetahui hakikat hidup. Wanita hendaknya bertingkah laku menyenangkan, mengerti dan memahami sikap hidup yang baik seperti sopan, sabar, halus perangainya dan tidak putus berdoa dalam mengharap rahmat Tuhan agar menjadi wanita yang berbudi luhur.

Dunia kewanitaan ini telah mendapat perhatian istimewa dari pujangga dan budayawan Jawa, terutama pada masa kejayaan kraton terdahulu. Nilai-nilai etik religius yang menghendaki wanita selalu tampil bekti ‘berbakti’, gemati ‘perhatian’, alus ‘halus’, dan luwes ‘ramah’ memang dipandang sangat penting.

Related posts

BENTARA HIKMAH
MEDIA MENCERDASKAN KEHIDUPAN BANGSA